Medan, Jobuzo – Krisis pencemaran mikroplastik di laut Indonesia kian memprihatinkan. Data menunjukkan Indonesia menyumbang 0,48 hingga 1,29 juta ton sampah plastik ke lautan setiap tahunnya, menempatkannya sebagai negara pencemar plastik laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Kondisi ini mendorong mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) untuk melahirkan inovasi teknologi bernama PODS (Plastic Observation and Detection Ship). PODS merupakan kapal otonom berbasis energi surya, yang dirancang untuk mendeteksi dan membersihkan mikroplastik di laut secara efisien, presisi, dan ramah lingkungan. Inovasi ini diprakarsai oleh Gamaliel Lytoputra Sarpin Purba bersama timnya, dengan dukungan dosen pembimbing dari Teknik Elektro USU, Prof. Dr. Ir. Fahmi, ST., M.Sc., IPM, ASEAN Eng.
Berbeda dengan metode pembersihan mikroplastik laut konvensional seperti pemisahan (filtering) menggunakan penyedot (vacum) air biasa yang jaraknya terbatas, PODS mampu mendeteksi mikroplastik hingga dasar laut menggunakan sensor optik. Sensor ini membaca pantulan cahaya untuk mengidentifikasi partikel mikroplastik secara akurat. Data yang diperoleh kemudian diproses oleh Artificial Intelligence (AI) yang menjadi otak navigasi kapal, sekaligus mengatur pengaktifan sistem vakum otomatis yang menyedot mikroplastik tanpa mengganggu biota laut. Teknologi ini memastikan bahwa proses pembersihan berjalan mandiri, minim campur tangan manusia, dan sangat efisien. Energi kapal sepenuhnya bersumber dari panel surya, menjadikannya solusi teknologi hijau yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Kawasan perairan Belawan, Medan, dipilih sebagai lokasi uji coba pertama implementasi PODS. Aktivitas industri dan pelabuhan yang padat di wilayah ini menjadikan Belawan sebagai titik krusial dalam upaya penanggulangan pencemaran laut. “Belawan memiliki potensi besar sebagai model percontohan implementasi teknologi ini. Keberhasilannya diharapkan dapat direplikasi di perairan Indonesia lainnya,” ujar Gamaliel Lytoputra, Ketua Tim Inovasi PODS.
PODS dikembangkan dengan mengacu pada beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta poin 14 (Ekosistem Lautan). Selain itu, program ini juga mendukung visi pembangunan berkelanjutan “Asta Cita” yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. “Inovasi ini bukan hanya tentang membersihkan laut, namun juga soal membangun kesadaran teknologi hijau dan kontribusi generasi muda dalam menjaga ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan,” tambah Gamaliel.

Sebagai bentuk diseminasi gagasan, tim PODS juga akan memproduksi konten edukasi dan dokumentasi video yang diunggah melalui kanal YouTube dan Instagram @pods.id. Video perdana telah dirilis pada 18 Juli 2025 pada akun instagram PODS sendiri, dilanjutkan dengan konten berkala hingga Oktober 2025. Seluruh proses produksi akan dilakukan secara mandiri oleh tim dengan memanfaatkan berbagai perangkat lunak desain visual dan animasi 3D.
Tim berharap, PODS menjadi langkah awal untuk memperkuat ekonomi maritim berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem laut, dan mendorong inovasi teknologi berbasis energi terbarukan.“Inilah kontribusi kecil kami untuk Indonesia Emas 2045. PODS bukan sekadar solusi teknologi, melainkan gerakan penyelamatan lingkungan yang harus kita mulai dari sekarang,” ujar Gamaliel.
PODS: Inovasi Mahasiswa USU Hadirkan Kapal Otonom Solar untuk Tangani Mikroplastik di Laut Indonesia
