Jobuzo – Mobil China mulai mengganggu sejumlah industri otomotif di sejumlah negara. Seperti di Jerman baru-baru ini yang mengalami gangguan hingga terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) belum lama ini.
Berdasarkan laporan Carscoops, industri otomotif di Jerman mulai goyang dalam satu tahun terakhir hingga jumlah tenaga kerja menurun hingga tujuh persen.
Laporan tersebut mengatakan Kantor Statistik Federal Jerman mencatatkan sekitar 51 ribu lapangan kerja hilang dari industri otomotif sejak Juni 2024 sampai Juni 2025.
Beberapa merek pun dilaporkan terdampak mulai dari BMW, Mercedes-Benz, hingga Volkswagen yang mengaku kesulitan mendapatkan tempat dalam persaingan mobil listrik China.
Adanya peralihan ke electric vehicle alais EV, memaksa para pabrikan untuk mengeluarkan biaya yang cukup besar, tentu hal ini memberikan tekanan besar.
Baca Juga :

“Merek-merek Jerman kesulitan melakukan inovasi secepat brand asal Tiongkok. lalu belum mampu menurunkan biaya (produksi) secara signifikan,” tulis laporan tersebut.
Situasi pun semakin parah dengan adanya kebijakan Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat yang mematok tarif impor tinggi untuk beberapa negara.
Ternyata kebijakan dari Trump juga berpengaruh buruk untuk industri otomotif di Jerman, mengingat Amerika menjadi salah satu pasar terpenting merek-merek tersebut.
Laporan menyatakan terdapat penurunan ekspor mobil serta suku cadang dari Jerman ke Amerika Serikat sebesar 8,6 persen.
Padahal Jerman sudah lama menjadi negara dengan produk otomotif ternama di dunia, namun kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Saat ini Tanah Air memang sedang menjadi negara tujuan perkembangan bisnis mobil merek China.
Kehadiran mereka dalam 2-3 tahun terakhir memang cukup signifikan, terdapat belasan merek baru yang masuk ke pasar otomotif Indonesia.
Terlebih pemerintah Indonesia memberikan stimulis dalam bentuk insentif untuk Battery Electric Vehicle (BEV) dari luar negeri.
Meskipun insentif tersebut berakhir di 2025 ini, namun sempat membuat perkembangan mobil produksi dalam negeri melemah dibandingkan produk-produk yang diimpor utuh.
Padahal saat ini industri otomotif Indonesia masih jauh dari kata optimal, bahkan baru-baru ini terdapat PHK pada pemasok komponen otomotif.
Baca Juga :

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan PHK mulai melanda perusahaan komponen yang menjadi rantai pasok pabrikan mobil di Indonesia.
Penyebabnya tidak lain karena tekanan impor mobil listrik, meskipun diiringi oleh penjualan mobil di Indonesia yang menurun karena daya beli yang belum stabil.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara mengatakan mobil listrik saat ini sudah mengambil pangsa pasar hampir 10 persen.
“Sampai Juli 2025, itu market share BEV sudah 10 persen, 9,7 atau 9,8 persen, tepatnya,” kata Kukuh saat diskusi dalam forum yang bertajuk “Polemik Insentif BEV Impor” di Kemenperin, dikutip Jobuzo.
Sejauh ini, mobil listrik yang dijual di Indonesia itu mayoritas statusnya masih diimpor utuh. Dengan catatan, pabrikan yang mengimpor mobil di Indonesia memiliki komitmen investasi.
Pabrikan China Mulai Ganggu Industri Otomotif Eropa
