YINCHUAN, Jobuzo — Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah ruang kelas yang penuh sesak, Zhu Jingui (71) terlihat mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangannya memegang pena, dan matanya terpaku pada layar saat guru mendemonstrasikan cara mengedit video di ponsel pintar.
Ini merupakan kelas keterampilan digital di Universitas Lansia Ningxia di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. Zhu mencatat dengan cepat, tidak hanya menangkap pelajaran tetapi juga menunjukkan tekadnya untuk tetap terhubung di dunia yang semakin digital.
“Dulu, saya selalu bertanya kepada anak-anak saya tentang segala hal,” tuturnya. “Sekarang, saya dapat membayar tagihan, memesan tiket kereta dan pesawat, berbelanja daring, dan memesan makanan, semuanya dengan bantuan ponsel pintar saya.”
Zhu merupakan satu dari sekitar 16.000 mahasiswa yang terdaftar di universitas tersebut. Universitas itu bermula dari sebuah program sederhana dengan hanya dua ruang kelas pada 1984, dan sejak saat itu telah berkembang menjadi institusi dinamis yang menawarkan lebih dari 90 jurusan, mulai dari fotografi dan musik hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Sejak kampus baru tersebut dibuka pada 2019, jumlah pendaftar melonjak,” ujar Shi Xiaoqing, wakil direktur kantor urusan akademik di universitas itu. “Beberapa kelas terisi penuh dalam hitungan menit, dan lebih dari separuhnya kelebihan jumlah mahasiswa.”
Didanai sepenuhnya oleh pemerintah, sekolah itu mengenakan biaya antara 100 hingga 600 yuan (1 yuan = Rp2.337) per tahun, bergantung pada pelajaran yang diambil. Kampus ini terbuka untuk siapa saja yang berusia 50 hingga 78 tahun. Pengajarnya terdiri dari para profesor universitas, pekerja budaya, dan kalangan profesional medis.
Hingga akhir 2023, China memiliki 76.000 universitas dan sekolah lansia. Di seluruh China, semakin banyak pensiunan seperti Zhu yang kembali ke ruang kelas, membentuk komunitas pelajar lansia terbesar di dunia.
Bagi banyak orang, pembelajaran telah berkembang lebih dari sekadar peningkatan diri. Pembelajaran adalah tentang menemukan tujuan hidup.
Feng Junying, seorang pensiunan yang pernah bercita-cita menjadi fotografer, menemukan peluangnya di sebuah universitas lansia. Di sana, dia menguasai penggunaan kamera, penyuntingan video, dan fotografi drone. Wanita lansia itu mulai bepergian bersama teman-teman sekelasnya ke seluruh China untuk memotret lanskap dan situs warisan budaya. Foto-fotonya yang telah memenangkan penghargaan pun kini ditampilkan dalam berbagai pameran.
Baru-baru ini, Feng mendaftar dalam kursus AI. “Sekarang saya menggunakan AI untuk menamai foto-foto saya dan menciptakan ide-ide baru,” ujarnya. “Saya ingin menggunakan alat ini untuk melayani masyarakat.”
Murid lainnya, Bai Yuefeng (66), bergabung dengan kelas resitasi atau seni pementasan sastra lisan delapan tahun yang lalu. Pada saat itu, dia tidak bisa berbicara bahasa Mandarin standar. Kini, wanita tersebut menyelenggarakan peragaan busana, pertunjukan lagu, dan drama antipenipuan di pusat komunitas lokalnya.
Bagi Bai, usia hanyalah angka; yang terpenting adalah sikap. “Kita telah diberi kesempatan dan sumber daya yang luar biasa,” ujarnya. “Yang paling penting adalah memberi kembali dan tetap berguna, bahkan di usia tua.”
China memiliki populasi lansia terbesar di dunia, dengan lebih dari 310 juta orang berusia 60 tahun ke atas per akhir 2024, mencakup lebih dari seperlima dari total populasi negara tersebut.
Mulai dari memperluas kesempatan belajar seumur hidup dan meningkatkan layanan relawan hingga mengembangkan pariwisata yang ramah lansia, China mengambil langkah proaktif untuk membantu para lansia menjalani kehidupan yang aktif dan bermakna.
Sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan kesejahteraan lansia selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), China telah menyelesaikan renovasi rumah dan peningkatan fasilitas ramah lansia untuk 2,24 juta rumah tangga berkebutuhan khusus, mendirikan 2.990 model komunitas ramah lansia, serta membuka 86.000 kantin komunitas untuk lansia.
Banyak kakek-nenek yang juga menentang ekspektasi tradisional untuk mengabdikan masa pensiun mereka demi merawat anak, dan lebih memilih untuk mengejar pertumbuhan serta pencapaian pribadi.
Setelah pensiun, Zhu bergabung dengan inisiatif Silver Age Action, yang diluncurkan pada 2003 untuk memobilisasi para pensiunan menjadi relawan di daerah-daerah yang kurang berkembang. Dia menghabiskan beberapa tahun mengajar di sekolah-sekolah di kawasan pegunungan di Ningxia.
Sejauh ini, para relawan lansia telah berpartisipasi dalam inisiatif tersebut lebih dari 7 juta kali, membantu 400 juta orang melalui proyek-proyek yang mendukung revitalisasi pedesaan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
“Mereka yang berusia 60-an tahun umumnya sehat, berpendidikan tinggi, serta kaya akan pengalaman hidup dan keterampilan,” kata Yuan Xin, wakil presiden Asosiasi Populasi China. “Para lansia adalah aset sosial, bukan beban.”
Di Universitas Lansia Ningxia, para mahasiswa tidak terlalu banyak bicara tentang perlambatan dan lebih banyak bicara tentang mengejar ketertinggalan. Tidak hanya dalam hal teknologi, tetapi juga dalam hal kehidupan itu sendiri. Di ruang-ruang kelas yang penuh dengan tawa dan layar yang berkedip-kedip, sebuah revolusi senyap sedang berlangsung, sebuah revolusi yang mendefinisikan ulang apa artinya menua di China modern.
Jadwal Zhu tetap padat dengan kegiatan Tai Chi, yoga, dansa ballroom, kegiatan menjadi relawan, serta acara-acara komunitas. Istrinya mempelajari budaya cheongsam dan tari kebugaran.
“Selama saya terus belajar, saya tidak akan pernah ketinggalan zaman,” ujarnya. (Xinhua).
Semakin Banyak Lansia di China Kembali ke Ruang Kelas