Jobuzo – Indonesia resmi memulai langkah besar menuju era konektivitas gigabit nasional lewat peluncuran Peta Jalan Nasional IPv6 Enhanced dan Net5.5G dalam ajang IPv6 Enhanced Net5.5G Conference 2025, yang digelar di Jakarta, 4 Desember 2025.
Konferensi ini menjadi ajang kolaborasi strategis antara pemerintah, asosiasi industri, operator telekomunikasi, akademisi, hingga penyedia teknologi. Acara tersebut diinisiasi oleh Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), BAPPENAS, MASTEL, APJII, Universitas Indonesia, dan Telkom University.
Baca Juga :

Puncak acara ditandai dengan peluncuran whitepaper nasional berjudul “Building Indonesia’s Connection Highway Based on IPv6 and Net5.5G”, hasil kolaborasi BAPPENAS dan Komdigi. Dokumen ini menjadi cetak biru pembangunan infrastruktur jaringan generasi berikutnya di Indonesia.
Ketua Umum ASIOTI, Teguh Prasetya, menegaskan bahwa whitepaper ini bukan sekadar dokumen teknis, melainkan fondasi bersama untuk masa depan konektivitas nasional. Saat ini, penetrasi IPv6 di Indonesia telah mencapai sekitar 15–16%, yang menjadi dasar bagi pengembangan awal ekosistem IoT. Namun, percepatan adopsi tetap dibutuhkan untuk menghadapi miliaran perangkat cerdas di masa depan.
Dalam peta jalan tersebut, Indonesia menargetkan akselerasi implementasi dual-stack IPv4–IPv6 pada 2025–2027, serta modernisasi jaringan menuju Net5.5G pada 2027–2030. Teknologi pendukung yang didorong meliputi SRv6 Slicing, 400/800GE, Wi-Fi 7, serta pemanfaatan AI untuk jaringan otonom di WAN, jaringan kampus, hingga pusat data.
Dari sisi perencanaan pembangunan, Deputi BAPPENAS Vivi Yulaswati menegaskan bahwa transformasi digital menjadi mesin utama pertumbuhan menuju Visi Indonesia 2045. Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai USD 360 miliar, namun masih menghadapi tantangan literasi digital yang relatif rendah serta risiko keamanan data.
Baca Juga :

Sementara itu, Komdigi menilai migrasi ke IPv6 Enhanced dan Net5.5G menjadi fondasi penting bagi keamanan siber dan kedaulatan data nasional. Pemerintah menargetkan adopsi IPv6 mencapai 31% pada 2030, meski penetrasi 5G nasional saat ini masih terbatas di kisaran 4,4% populasi.
Dari industri, Telkomsel, XLSMART, dan Huawei turut merespons peta jalan ini dengan meluncurkan whitepaper bersama bertajuk “NET5.5G AI WAN: Jaringan Transportasi IP”. Telkomsel menekankan bahwa IPv6 menghadirkan peningkatan keamanan, efisiensi routing, serta mendukung otomatisasi jaringan masa depan. XLSMART menegaskan komitmennya sebagai pelopor jaringan generasi berikutnya, sementara Huawei menyoroti integrasi mendalam antara AI dan Net5.5G melalui solusi AI WAN.

Konferensi ini juga memberikan sejumlah penghargaan, antara lain kepada Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XLSMART, Telkom, Pemkab Sumedang, Telkom University, APJII, dan Huawei atas kontribusi dalam implementasi dan inovasi Net5.5G.
Diskusi menyoroti peran konektivitas gigabit dalam mendorong Smart Home & Building, Smart Office & Industry, serta Smart Mobility & City. Dengan infrastruktur IPv6 Enhanced dan Net5.5G, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem digital yang lebih cerdas, aman, dan efisien.
Melalui integrasi Kota Gigabit dalam strategi pembangunan nasional, Indonesia tidak hanya memperkuat fondasi transformasi digital, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
