Jobuzo – Maraknya aktivitas online di media sosial saat ini membuka banyak kesempatan bagi penggunanya untuk menjelajahi berbagai dunia dan mengembangkan potensi, hanya dalam genggaman. Akan tetapi, dengan begitu mudahnya kita dapat menerima informasi yang positif, maka dengan mudah juga kita bisa jatuh terjerumus dalam informasi negatif yang menguras emosi kita. Inilah yang dinamakan dengan doomscrolling, dimana perhatian dan emosi bisa terpaku secara berkepanjangan pada konten yang bersifat negatif. Pada akhirnya doomscrolling dapat mengacaukan pikiran dan perasaan hingga mengganggu aktivitas kehidupan. Tindakan yang mengarah pada kebiasaan doomscrolling dapat disadari agar dapat dihentikan, sehingga dapat mengembalikan kesehatan mental pada kondisi yang optimal.
Kehidupan di era digital ini terpaut erat dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Ketika membutuhkan informasi di internet, hanya dengan memasukkan kata kunci akan muncul jutaan informasi hanya dalam waktu sepersekian detik. Buah dari kemajuan yang pesat ini adalah tempat kita berbagi kabar, mengekspresikan diri, memantau keadaan dunia, bahkan hingga mempelajari life-hack baru dan banyaknya wawasan baru yang menggugah rasa ingin tahu kita. Tempat kita menjelajah, bercerita, mencari tahu, dan menukar informasi ini adalah media sosial, yang perannya tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita. Tercatat sebanyak 212 juta jiwa orang Indonesia aktif menggunakan internet, yang mana dari angka tersebut, sebanyak 143 juta jiwa adalah pengguna aktif media sosial berdasarkan Digital 2025 Report oleh We Are Social, dilansir dari Detikinet. Badan Pusat Statistik (2025) mencatat jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 285 juta jiwa. Maka jika dibandingkan, sebanyak setengah penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial.
Keberadaan media sosial merangkul semua kalangan usia, dapat kita amati di area sekitar yang terjangkau perkembangan teknologi, bahwa dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan hingga lanjut usia, semuanya memiliki akses dan rutin menggunakan media sosial. 48 persen pengguna media sosial merupakan remaja dibawah 18 tahun, sebagaimana yang dinyatakan oleh berdasarkan laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2024), yang dilansir dari Tribratanews. Dalam tulisan tersebut, APJII (2024) juga melaporkan rata-rata penggunaan internet di Indonesia berada di atas 5 sampai 8 jam dalam sehari, dan angka ini telah bertambah sejak masa pandemi. Penggunaan media sosial selama lebih dari 5 jam tentu bukan merupakan waktu yang singkat.
Sebagaimana dua sisi pada sebuah koin, di samping banyaknya manfaat dan peran penting media sosial, terdapat juga sisi negatif yang bisa membawa dampak buruk bagi penggunanya. Salah satunya, adalah keterpakuan dalam waktu jangka panjang, seperti adiksi, yang dapat muncul apabila dalam menggunakan media sosial diiringi kebiasaan yang tidak bijak. Berbagai bentuk informasi yang mengalir dengan sangat cepat di media sosial tidak selalu membawa kabar yang menggembirakan. Di saat dunia sedang tidak baik-baik saja, sering ditemukan berita aktual terkini yang menampilkan peristiwa yang membuat khawatir. Dari berita tindak kriminalitas, kecelakaan, peperangan, bencana alam, hingga tragedi kemanusiaan dan kekacauan politik, dan semacamnya. Tidak hanya itu, banyak sekali konten dalam media sosial yang sengaja dibuat dengan tujuan memancing emosi negatif dari audiensnya, seperti amarah, rasa cemas, sedih, serta rasa takut, dengan tujuan memaksimalkan jumlah penonton dan komentar. Misalnya konten provokatif yang ditargetkan kepada pihak tertentu, informasi palsu atau narasi yang dibuat-buat, isu kontroversif, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk konten bersifat negatif lainnya.
Scrolling media sosial secara terus menerus, yang disertai fokus berlebih pada informasi negatif, memiliki kaitan yang erat dengan fenomena yang dinamakan doomscrolling. Sharma et al. (2022), dalam Fitria et al. (2025), mengungkapkan bahwa doomscrolling ini adalah aktivitas menelusuri media sosial secara berulang dan sulit dihentikan, disertai fokus dan obsesi pada konten atau pemberitaan negatif. Scrolling itu sendiri merupakan istilah yang sudah tidak asing bagi pengguna media sosial. Dilansir dari Liputan6, scrolling atau menggulir merupakan tindakan memindahkan tampilan konten pada layar ketika menelusuri media sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan, darimana kebiasaan doomscrolling muncul?
Penelitian tentang eksplorasi doomscrolling yang dilakukan oleh Fitria et al. (2025), menunjukkan bahwa penyebab kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial salah satunya karena adanya ketersediaan akses yang mudah dan cepat. Subjek dalam penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kebiasaan ini muncul ketika menemukan berita negatif saat scrolling, lalu secara tidak sengaja mendalami berita tersebut dan akhirnya terpaku dan terus dilanjutkan, seakan-akan tidak sadar dan terjebak (Fitria et al., 2025). Ketika telah mengonsumsi cukup banyak konten negatif, algoritma media sosial pada umumnya akan terus merekomendasikan konten sejenis pada penggunanya, sehingga akan sulit keluar dari kebiasaan ini.
Apabila scrolling informasi negatif dapat menyebabkan kecemasan dan stres, mengapa dapat menjadi sebuah kebiasaan? Sebuah studi yang dilakukan oleh Ahluwalia (2025) dapat menjelaskan fenomena ini. Doomscrolling merupakan hasil interaksi kompleks antara mekanisme bertahan hidup yang merupakan setelan pabrik manusia, dengan lingkungan teknologi modern. Otak manusia secara otomatis mengarahkan kita pada hal-hal yang terkesan baru, dan juga pada hal-hal yang dianggap mengancam. Namun, ketika dipertemukan dengan informasi negatif yang mengalir tanpa henti, mekanisme adaptif ini dapat menjadi bermasalah. Mekanisme ini mengesampingkan niat sadar kita untuk membatasi konsumsi media, apalagi jika terus merasakan ketidakpastian informasi atau adanya perasaan terancam dari informasi negatif. Pengguna media sosial sering kali terus mengonsumsi konten negatif dalam upaya mengurangi ketidakpastian dan mendapatkan rasa kendali, akan tetapi, banyaknya informasi dan sifat informasi yang negatif tersebut justru meningkatkan perasaan tidak berdaya dan malah membebani secara kognitif (Ahluwalia, 2025).
Kebanyakan pengguna media sosial yang merupakan remaja dibawah 18 tahun, menjadi lebih rentan terhadap kebiasaan dan dampak doomscrolling. Studi oleh Servidio et al. (2024) menunjukkan bahwa mereka yang berada di masa remaja memiliki tingkat Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan melakukan perbandingan sosial yang lebih tinggi. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap kebiasaan scrolling secara terus menerus. Remaja dan dewasa muda berada dalam masa pergantian dan adaptasi akademis serta karier, juga tekanan sosial mendorong para mereka untuk terpapar berita negatif secara berlebihan, sehingga mereka sangat rentan terhadap kecemasan dan stres (Servidio et al., 2024). Dilansir dari RRI.co.id (2025), seorang Psikolog bernama Listiyani Dewi Hartika, M.Psi. mengungkapkan, “Karakteristik gen Z yang lahir dan tumbuh di era digital serta terbiasa multitasking dengan gadget, lebih mudah terpapar kebiasaan ini.” Penelitian oleh Vaterlaus et al. (2021) dan Thompson et al. (2022) menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental, terutama dalam hal peningkatan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan anak muda (Ratnawati et al., 2025).
Studi oleh Anchan dan Puranik (2025) menunjukkan bahwa dampak dari doomscrolling dapat mengenai beberapa aspek kehidupan, seperti keadaan emosional, terganggunya tidur, bahkan juga dapat berpengaruh pada kehidupan sosial. Kebiasaan scrolling dan mengonsumsi konten negatif dapat membuat pengguna merasa cemas sedih, ataupun stres, dan bahkan dalam studi yang telah disebutkan dapat menyebabkan gejala depresi. Konsep negative bias dapat menjelaskan hal ini, otak kita secara alami lebih fokus pada berita buruk daripada berita baik sebagai insting bertahan hidup (Anchan & Puranik, 2025). Sehingga konten negatif lebih mudah memengaruhi suasana hati kita.
Selanjutnya, dalam studi yang sama Anchan dan Puranik (2025) menjelaskan bahwa rasa terkuras secara emosional dan stres berkepanjangan dari aktivitas doomscrolling, disebabkan karena meningkatnya keaktifan amigdala ketika membaca berita negatif secara terus-menerus. Amigdala adalah bagian otak yang memproses rasa takut dan respons emosional. Seseorang yang melihat berita negatif tanpa henti seiring waktu bisa berpotensi mengembangkan pola pikir negatif, memperkuat rasa kekhawatiran, dan membuat kestabilan emosional memburuk (Anchan & Puranik, 2025).
Derita emosional yang disebabkan oleh doomscrolling juga dapat mempengaruhi aktivitas sosial seseorang di dunia nyata. Seseorang yang mengalami kecemasan atau kesedihan akibat doomscrolling dapat menarik dirinya dari lingkungan sosial di dunia nyata, yang dapat disebabkan karena terlalu fokus pada interaksi online atau karena kelelahan emosional. Akibatnya, terjadi penurunan aktivitas hubungan sosial yang bermakna di dunia nyata. Kondisi emosional yang negatif dan penarikan diri secara bertahap dapat berujung pada isolasi sosial dan kesepian (Anchan & Puranik, 2025).
Rasa kesepian dan menghindar ini kemudian bisa berdampak pada kualitas tidur menjadi kurang optimal. Ini karena, siklus bangun-tidur yang alami diatur oleh ritme sirkadian tubuh, yang dapat ditingkatkan jika adanya aktivitas sosial dan pergerakan fisik di dunia nyata. Menghindari aktivitas dunia nyata dan kebiasaan menonton konten negatif sebelum tidur, akan mengganggu ritme tersebut, kemudian akan berakibat pada terlambatnya waktu tidur, juga tidur yang sering terputus atau terbangun. Terganggunya tidur lama kelamaan akan memperparah tekanan emosional yang dirasakan, lalu menciptakan rasa terjebak dalam lingkaran berulang, dimana seseorang kembali meneruskan scrolling konten negatif seiring kesulitannya mengatasi stres (Orben et al., 2019; Weinstein et al., 2021, dalam Anchan & Puranik, 2025).
Kita perlu menyadari bahaya kebiasaan doomscrolling. Meskipun siklus doomscrolling sulit dihentikan, masih ada upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memutus lingkaran kebiasaan ini. Sebagai upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah doomscrolling, Psikolog Listiyani dalam tulisan yang dipublikasi oleh RRI.co.id, menekankan pentingnya menyadari dalam memilih konten yang dikonsumsi, serta untuk memperhatikan tanda-tanda awal dampak doomscrolling. Mulai lakukan detoks digital secara berkala, membatasi waktu penggunaan layar, serta menerapkan kesadaran penuh saat berselancar di dunia maya. Berdasarkan saran beliau, maka penting bagi kita untuk sadar ketika kita menggulir layar tanpa henti, merasakan cemas, marah, ataupun rasa sedih yang berlebihan ketika menonton konten media sosial, kemudian menghentikan aktivitas itu dan mengalihkan diri pada aktivitas yang menyenangkan atau menenangkan di dunia nyata.
Kebiasaan doomscrolling lazim ditemukan pada jutaan pengguna media sosial, apalagi yang kebanyakannya merupakan remaja dalam masa transisi diri. Kebiasaan ini dapat muncul karena betapa cepat dan mudahnya mengakses informasi. Ketika semua informasi berada di genggaman, kita dapat mendengar kabar-kabar dan keadaan yang sedang terjadi di berbagai penjuru dunia, yang seringkali disertai berita yang menguras kita secara emosional. Doomscrolling ini bisa terjadi pada seseorang, karena menelusuri dan mendalami informasi yang negatif merupakan tindakan yang diarahkan otak kita agar dapat mengetahui keberadaan sesuatu yang dapat mengancam rasa aman kita. Akibatnya kita dapat merasa lelah secara emosional, sehingga kesehatan mental kita menurun. Kebiasaan ini juga dapat mengganggu kualitas tidur dan bahkan membuat kita menjauhi interaksi sosial di dunia nyata. Maka dari itu, kita harus menyadari siklus buruk ini dan menghentikannya, dimulai dari hal sederhana seperti membatasi waktu scrolling di media sosial. Ketika telah merasa terjebak pada siklus ini, maka jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dan dukungan dari orang tersayang.
Bagaimana kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial? Apakah sudah diatur secara bijak? Ini merupakan sebuah urgensi bagi kita untuk meningkatkan kesadaran terhadap adanya doomscrolling, juga dengan saling mengajak untuk memperbanyak aktivitas di dunia nyata ketimbang berselancar tanpa henti di media sosial. Media sosial merupakan wadah inovatif yang sangat membantu dalam kehidupan kita, namun alangkah baiknya jika kita dapat mengatur waktu dan konten apa yang kita saksikan agar kita dapat mencegah kebiasaan doomscrolling.
Penulis : Shahnaz Avrianty (G1C124038)
Mahasiswi Psikologi Universitas Jambi
Daftar Pustaka
Ahluwalia, P. A. (2025). Doomscrolling and Mental Fatigue: Cognitive Overload in the Era of Crisis Media. Siddhanta’s International Journal Of Advanced Research In Arts & Humanities, 2(5), 250–270. https://doi.org/10.5281/zenodo.15627962
Anchan, K. K., Puranik, D. (2025). Investigating the Effects of Doom Scrolling on Emotional States, Social Interaction Anxiety, and Sleep Disturbances in Adults. International Journal For Multidisciplinary Research. 7(4), 1-45. https://doi.org/10.36948/ijfmr.2025.v07i04.51057
Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah penduduk pertengahan tahun (ribu jiwa). Diakses dari : https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTk3NSMy/jumlah-penduduk-pertengahan-tahun–ribu-jiwa-.html
Fitria, S. I., Khoirunnisa, T., Wijayanti, S. T., Atikoh, Z. N., Nawawi, S., Faruq, F. (2025). Eksplorasi Doomscrolling dan Subjektif Well-being Pada Dewasa Awal Pengguna Aktif Media Sosial. Jurnal Psikohumanika, Vol. 17(1), 32-51. https://doi.org/10.31001/j.psi.v17i1.2397
Hafid, M. (2025). Menteri Meutya Hafid sebut 48 % pengguna internet remaja di bawah 18 tahun. Tribratanews. Diakses dari : https://tribratanews.polri.go.id/blog/nasional-3/menteri-meutya-hafid-sebut-sebanyak-48-pengguna-internet-remaja-di-bawah-18-tahun-87673
Haryanto, A. T. (2025). Jumlah pengguna internet Indonesia tembus 212 juta di 2025. DetikInet. Diakses dari : https://inet.detik.com/cyberlife/d-7816040/jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-212-juta-di-2025?utm
Huerta, M. K., Garizurieta, J., González, R., Infante, L.-Á., Horna, M., Rivera, R., & Clotet, R. (2023). A Long-Distance WiFi Network as a Tool to Promote Social Inclusion in Southern Veracruz, Mexico. Sustainability, 15(13), 9939. https://doi.org/10.3390/su15139939
Rahmi, E. R., Suhariyanto, J. (2024). Indonesia Juara Scrolling Medsos. Universitas Siber Asia. Diakses dari : https://unsia.ac.id/indonesia-juara-scrolling-medsos/
Rasyid, S. R (2025). Makna istilah “scroll”: pengertian, penggunaan, dan dampaknya di era digital. Liputan6.com. Diakses dari : https://www.liputan6.com/feeds/read/5922898/makna-istilah-scroll-pengertian-penggunaan-dan-dampaknya-di-era-digital
Ratnawati, E., Alfiansih, L. M. D., Mangerang, F. (2025). Psychological Perspectives on Doomscrolling and Existential Anxiety Among University Students: Challenges for Education in the Digital Age. International Journal of Social and Human, 2(2), 250-259. https://doi.org/10.59613/eskfhw07
Sukeresminingsih, L. P. (2025). Doomscrolling ancam mental Gen Z di era digital. RRI.co.id. Diakses dari : https://rri.co.id/daerah/1519281/doomscrolling-ancam-mental-gen-z-di-era-digital
Sa’idah, I., Aryani, A. (2025). Doomscrolling Behavior among Indonesian Adolescents: Psychological Correlates and Digital Media Usage Patterns. Journal of Counseling & Psychotherapy Research, 1(1). https://doi.org/10.111322/pf7tdb83
Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive behaviors reports, 19, 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536
Doomscrolling: Keterpakuan Dalam Scrolling Konten Negatif
