Oleh: Bonar Hutapea[i]
Indonesia saat ini sedang berada dalam situasi yang ironis sekaligus memprihatinkan. Di satu sisi, masyarakat kita dikenal dengan budaya gotong royong dan keramah-tamahan yang hangat. Namun di satu sisi lain, sebuah kenyataan pahit menyeruak melalui ruang digital: negara kita justru menjadi “juara dunia” sebagai sumber sekaligus pengunduh konten penyiksaan hewan di media sosial.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi kemanusiaan kita. Mengapa makhluk yang tak berdosa seringkali menjadi sasaran pelampiasan agresi? Padahal, di balik tatapan mata mereka yang jujur, tersimpan kekuatan penyembuh yang mampu menambal keretakan jiwa manusia. Di luar aspek yuridis seperti Pasal 302 dan 540 KUHP, UU No. 41 Tahun 2014, hingga PP No. 95 Tahun 2012 yang mengatur perlindungan satwa, ada alasan psikologis yang sangat mendasar mengapa kita perlu melindungi mereka. Hewan bukan sekadar peliharaan; mereka adalah “penyembuh sunyi” bagi kesehatan fisik dan jiwa manusia.
Kutipan Raegan Butcher, “Only a dead heart has no feelings for the animals,” mungkin terasa tajam. Namun secara ilmiah, menyayangi hewan memang membutuhkan keterlibatan perasaan simpatik yang hanya dimiliki oleh hati yang “hidup”.
Mekanisme psikologis: Mengapa hewan berdampak nyata?
Mengapa kehadiran seekor anjing atau kucing bisa memberikan dampak yang begitu besar bagi psikis manusia? Secara psikologis, hewan menawarkan apa yang disebut sebagai penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard). Berbeda dengan hubungan antarmanusia yang sering kali diwarnai oleh ekspektasi, penghakiman, atau konflik kepentingan, hewan memberikan kasih sayang yang murni. Bagi mereka, kita tidak perlu menjadi sukses, kaya, atau sempurna untuk layak dicintai. Relasi ini menciptakan ruang aman emosional bagi pemiliknya untuk menjadi diri sendiri tanpa rasa takut dinilai.
Interaksi rutin dengan hewan juga memicu mekanisme “jangkar emosional”. Hewan peliharaan memaksa manusia untuk tetap berada pada momen saat ini (mindfulness). Saat kita membelai bulu kucing atau melihat kegembiraan anjing saat menyambut kita, fokus otak kita beralih dari kecemasan masa depan atau penyesalan masa lalu menuju interaksi yang nyata dan hangat di detik tersebut. Inilah sebabnya mengapa pemilik hewan dianggap bernasib baik; mereka memiliki sumber alami untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial harian mereka.
Keajaiban bagi fisik dan ketenangan jiwa
Penelitian McConnell dan koleganya (2011) dalam Journal of Personality and Social Psychology menegaskan bahwa pemilik hewan memiliki ketangguhan yang lebih tinggi dalam menanggulangi stres. Manfaat ini tidak hanya bersifat abstrak. Riset Headey dkk. (2008) terhadap sampel di Asia menunjukkan bahwa pemilik hewan cenderung memiliki kualitas kesehatan fisik yang lebih baik karena mereka lebih rutin bergerak dan berolahraga, yang berujung pada tidur yang lebih nyenyak.
Dampaknya secara profesional pun nyata: pemilik hewan lebih jarang mengajukan izin sakit karena kondisi kebugaran dan kesehatan mental yang lebih terjaga. Mekanisme ini bekerja melalui penurunan hormon kortisol (hormon stres) dan peningkatan hormon oksitosin (hormon kasih sayang) saat manusia berinteraksi dengan hewan.
Jangkar hidup bagi kelompok rentan
Di Indonesia, nilai kekeluargaan sangat tinggi, namun kesunyian sering kali menjadi musuh utama bagi para lanjut usia (lansia). Di sinilah hewan hadir sebagai “penyembuh sunyi” yang memberikan rasa nyaman, aman, dan rutinitas yang menyenangkan. Riset Gan dkk. (2020) menemukan bahwa kepemilikan hewan membantu lansia menjalani masa penuaan dengan lebih bahagia sehingga kesehatan mental mereka terjaga.
Lebih dari sekadar teman bermain, hewan memberikan tujuan hidup. Temuan mengejutkan dari Young dkk. (2020) dalam jurnal Anthrozoös mengungkap bahwa relasi dengan hewan peliharaan berperan vital dalam melindungi lansia dari risiko tindakan bunuh diri. Hewan memberikan alasan bagi lansia untuk tetap bangun di pagi hari karena “ada makhluk lain yang bergantung padanya”. Perasaan mendalam bahwa kehadiran kita masih sangat dibutuhkan inilah yang menjadi obat paling mujarab bagi kesepian di masa tua.
Manfaat serupa dirasakan oleh kaum difabel. Bagi mereka, interaksi dengan hewan, terutama hewan terlatih yang sengaja dididik untuk membantu, memberikan suntikan kepercayaan diri yang masif. Penelitian Valentine dkk. (1993) mencatat bahwa penyandang disabilitas yang memiliki hubungan dengan hewan cenderung lebih mandiri, rendah tingkat depresinya, tidak mudah tersinggung, dan lebih mampu mengendalikan kecemasan. Hewan menjadi media yang meningkatkan kepuasan dalam beraktivitas harian serta memberikan rasa memiliki yang lebih besar terhadap lingkungan sekitarnya.
Mencairkan sekat dan membangun empati sosial
Secara sosial, hewan peliharaan berfungsi sebagai “jembatan” atau penghubung yang efektif antarmanusia. Di lingkungan perumahan atau kampung-kampung di Indonesia, seekor hewan sering menjadi pencair suasana dan pembuka percakapan yang netral antar tetangga. Sesama penyayang hewan akan lebih mudah saling mengenal, bertukar informasi, hingga akhirnya saling mendukung satu sama lain.
Fenomena ini membantu memperkuat jalinan sosial yang mungkin sempat kaku. Bahkan bagi kelompok yang mengalami ketunaan sosial seperti tunawisma, hewan peliharaan menjadi sumber perlindungan dan penjaga kewarasan emosional agar tidak terjerumus dalam depresi yang lebih dalam.
Tanggung jawab di balik kasih sayang
Tentu saja, relasi indah ini menuntut tanggung jawab. Kita tidak boleh mengabaikan risiko perilaku hewan yang mungkin mengganggu atau agresif jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk menjadi pemilik hewan yang bertanggung jawab (responsible pet ownership) dengan memahami faktor risiko agar tidak mengganggu keselamatan publik.
Mengasah empati terhadap hewan sebenarnya adalah cara kita mengasah kemanusiaan kita sendiri. Bahkan hewan buas sekalipun mampu menunjukkan kasih sayang jika mereka merasakannya dari manusia. Apalagi hewan peliharaan seperti anjing yang memiliki kesetiaan luar biasa dan kasih sayang tanpa syarat.
Menghidupkan kembali hati
Menghargai hak asasi hewan bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa makhluk lain, melainkan tentang menyelamatkan “hati” kita sendiri. Dengan lebih banyak berinteraksi secara tulus dengan hewan, empati dan kepedulian yang mungkin sempat tumpul akan kembali terasah.
Alih-alih menjadi bangsa yang dikenal karena kekejaman terhadap satwa, mari kita ubah citra itu menjadi bangsa yang mampu menghayati pengalaman menyentuh bersama makhluk hidup lainnya. Hewan adalah makhluk bermurah hati yang dikirim untuk membawa kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup manusia. Saat kita memberikan ruang di hati kita untuk mereka, saat itulah kita merasakan hidup yang lebih indah dan bermakna.
[i] Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
Penyembuh Sunyi di Tengah Riuh: Mengapa Menyayangi Hewan Itu Menyehatkan?
