Oleh: Ramanda Noviandri
YOGYAKARTA, Jobuzo — Di tengah kehidupan modern yang semakin padat dan penuh tekanan, manusia kerap kehilangan ruang untuk menyalurkan kegelisahan batin. Ritme kerja yang cepat, ketidakpastian ekonomi, serta derasnya arus informasi, membuat banyak orang hidup dalam kecemasan. Hubungan dengan orang terdekat seringkali tidak lagi menghadirkan kedekatan emosional yang kuat. Pola hidup ini membuat interaksi keluarga maupun komunitas semakin terbatas.
Dampaknya beban psikologi individu semakin berat, dimana seseorang harus menanggung berbagai persoalan tanpa memiliki tempat untuk mengadu. Dalam situasi ini, kesenian pertunjukkan kembali diingat sebagai salah satu medium penting, bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang katarsis sosial.
Gagasan inilah yang diangkat dalam film “Rentak Jiwa: Remediasi Kehisteriaan Pertunjukan Rantak Kudo dalam Film”, karya sutradara Ediantes. Film ini akan dipresentasikan dalam sebuah screening terbuka pada Rabu, 25 Maret 2026 pukul 19.00 WIB di Institut Français d’Indonésie Yogyakarta.
Film ini merupakan bagian dari pagelaran karya disertasi yang tidak hanya menghadirkan tontonan sinematik, tetapi juga menawarkan pembacaan kritis terhadap seni pertunjukan tradisi dan medium film. Melalui pendekatan artistik yang reflektif, Rentak Jiwa mengeksplorasi bagaimana energi ekstase, histeria kolektif, dan pengalaman emosional dalam pertunjukan Rantak Kudo diterjemahkan ke dalam visual sinema.
Dari Ritus ke Layar
Dalam banyak tradisi Nusantara, pertunjukan bukanlah sekadar tontonan. Ia hadir sebagai bagian dari ritus sosial, ruang di mana masyarakat dapat menyalurkan emosi, ketakutan, harapan, bahkan kemarahan secara kolektif. Unsur trance, ekstase kolektif, hingga histeria bukan dipandang sebagai sesuatu yang irasional, melainkan sebagai mekanisme pelepasan psikologis yang terstruktur secara kultural. Melalui film ini, Ediantes mencoba memindahkan pengalaman tersebut ke dalam medium film. Proses ini tidak sederhana, karena film bekerja dengan logika representasi, sementara pertunjukan ritus hidup dalam pengalaman langsung yang tubuhiah dan kolektif. Di sinilah konsep “remediasi” menjadi penting, bagaimana satu medium menerjemahkan pengalaman dari medium lain tanpa kehilangan esensi emosionalnya.
Rentak Jiwa tidak sekadar mendokumentasikan pertunjukan Rantak Kudo, tetapi berupaya menangkap “energi” yang muncul di dalamnya. Penonton diajak merasakan ketegangan, ledakan emosi, hingga pelepasan yang terjadi dalam ruang pertunjukan, meskipun kini dialami melalui layar.
Katarsis di Tengah Modernitas
Screening ini menjadi relevan dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini. Banyak orang menjalani rutinitas tanpa memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Tekanan yang tidak tersalurkan ini perlahan menumpuk menjadi kegelisahan kolektif. Dalam perspektif ini, film Rentak Jiwa hadir sebagai pengingat bahwa kesenian dapat berfungsi sebagai ruang terapi sosial (healing). Ia membuka kemungkinan bahwa pengalaman menonton tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga menjadi proses reflektif dan katarsis
.
Di ruang screening, penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berpotensi mengalami, tegang, bahkan mungkin tersentuh secara emosional. Energi kolektif yang tercipta dalam ruang bersama ini menjadi bagian penting dari pengalaman itu sendiri.

Profil Sutradara
Dalam Rentak Jiwa, eksplorasi tersebut mencapai bentuk yang lebih reflektif, menghadirkan dialog antara tubuh, ruang, dan teknologi ke dalam bahasa sinema. Karya ini tidak hanya berdiri sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai kontribusi akademik dalam membaca ulang fungsi seni pertunjukan di era modern.
Di balik karya ini, Ediantes, S.Sn., M.Sn., merupakan tenaga pendidik di Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang aktif sebagai akademisi sekaligus praktisi seni. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di mana riset dan praktik penciptaannya berupaya menjembatani tradisi dengan medium kontemporer. Rentak Jiwa menjadi salah satu karya yang lahir dari pertemuan antara refleksi akademik dan eksplorasi artistik. Melalui film ini, ia menegaskan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai cermin realitas, tetapi juga sebagai ruang untuk mengolah, memahami, dan merespons kompleksitas zaman.
Informasi Acara
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk screening film yang merupakan bagian dari pagelaran karya disertasi berjudul “Rentak Jiwa: Remediasi Kehisteriaan Pertunjukan Rantak Kudo dalam Film”. Acara akan diselenggarakan pada Rabu, 25 Maret 2026, pukul 19.00 WIB, bertempat di Institut Français d’Indonésie Yogyakarta.
Publik, khususnya pegiat seni, akademisi, dan masyarakat umum, diundang untuk hadir dan menyaksikan karya ini sebagai bagian dari upaya bersama dalam membaca kembali peran seni pertunjukan dalam kehidupan sosial kontemporer.
Melalui screening ini, publik diajak untuk tidak hanya menonton film, tetapi juga merenungkan kembali fungsi dasar kesenian dalam kehidupan manusia. Di tengah dunia yang semakin kompleks, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk merasa, berbagi, dan melepaskan. Yogyakarta, Maret 2026
Film “Rentak Jiwa” Membawa Ritus Pertunjukan Rantak Kudo ke film