Oleh: Dwi Nur Afiani
Jobuzo – Ketenangan seringkali dibutuhkan ketika jiwa membutuhkan rehat dari segala yang membuat penat. Ketenangan bisa dicari melalui hal-hal sederhana. Penatnya menjalani kehidupan, membutuhkan waktu tertentu sebagai penyembuhnya. Salah satunya ialah me time. Banyak hal yang bisa dilakukan ketika me time, salah satunya scroll media sosial. Berdasarkan data pada laman Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa pengguna media sosial rentang usia 5 tahun ke atas yang menggunakan telepon selular pada angka 99,08. Lalu, melalui laptop 10,12. Pengguna sosial media yang menggunakan komputer berjumlah 2,62 dan menggunakan alat lainnya berjumlah 0,27. Banyaknya pengguna media sosial membuat kita tersadar, bahwa media sosial menjadi salah satu alat untuk merefleksikan diri, media berekspresi, dan menenangkan diri.
Penuhnya pikiran seringkali menjadi penghambat seseorang dalam beraktivitas. Otak membutuhkan waktu sejenak untuk menyegarkan kembali. Waktu berjalan begitu cepat, ketika itu aku menghubungi temanku untuk menanyakan beberapa hal terkait me time. Arti me time bagi mereka membuka pikiranku bahwa setiap orang memiliki cara unik untuk menyegarkan pikirannya.
Menyegarkan Pikiran dengan Hiburan
Me time tiap orang memiliki makna yang berbeda. Alyka (17) mengartikan me time sebagai waktu untuk beristirahat. “Me time buat aku adalah waktu untuk beristirahat, untuk bersantai, free will buat melakukan apa saja,” ungkap Alyka. Menurut Alyka, me time yang bisa mengistirahatkan dirinya, yakni dengan bersantai sambil scroll sosial media. Alasannya karena asyik. Ia merasa terhibur dengan sajian konten yang ia lihat di sosial media. Meskipun ia harus memilah konten yang sesuai dengan minatnya.
Alyka bisa menghabiskan waktunya untuk merilekskan dirinya dari kesibukan sekolah dan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Di sela-sela waktu sibuknya tersebut, ia scroll sosial media sebagai bentuk penghargaan dirinya karena telah berusaha keras berkegiatan seharian. Seharian berkegiatan membuat Alyka merasa bosan. Ia menjalani kegiatannya begitu saja. “Monoton dan membosankan,” ungkap Alyka ketika ia lelah berkegiatan. Untuk mengurangi rasa bosan yang ada pada dirinya, ia memilih me time dengan cara scroll sosial media. Banyak konten menghibur yang ia lihat di berandanya. Konten edukatif dan siniar menjadi daya tarik tersendiri bagi remaja seperti Alyka. Biasanya ia melihat konten tersebut di platform Tiktok, Youtube, dan Instagram. Dengan gaya bahasa yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, konten seperti itu akan memperluas pengetahuan remaja dan mampu melatih kefokusan mereka.
Selain menghibur, scroll sosial media membuat Alyka mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Konten-konten edukatif menjadi salah satu contoh konten yang dapat membuka wawasan pengetahuan Alyka. Me time juga menjadi media pelepas penat. Akan tetapi, Alyka merasa harus membatasi diri untuk mengurangi scroll sosial media. Ia merasa jika ia terlalu lama scroll, dapat mengakibatkan brainrot atau penurunan kemampuan kognitif, fokus, dan mental akibat mengonsumsi berlebihan terhadap konten daring berkualitas rendah. Dengan pembatasan tersebut, Alyka tidak hanya merasa terhibur tetapi ia juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas atau membuka wawasan pengetahuannya.
Penghargaan untuk Diri Sendiri dari Lelahnya Duniawi
Lain halnya dengan Alyka, Desvita (17) memandang me time sebagai waktu beristirahat atau waktu untuk berhenti berinteraksi dengan orang lain. Beberapa orang memiliki kecenderungan untuk membatasi diri dengan orang lain. Interaksi dengan orang lain yang lama dapat menghabiskan energi bagi sebagian orang. Terutama bagi seseorang yang bersifat introvert. Maka, untuk menyegarkan kembali energi mereka, mereka memilih untuk me time dengan caranya masing-masing.

Desvita memilih me time dengan cara scroll sosial media. Alasan ia memilih me time dengan cara tersebut karena menghibur. “Simple dan menghibur sih,” ungkap Desvita. Cara tersebut ampuh bagi Desvita untuk menyegarkan kembali pikirannya yang penat. Setelah penat berkegiatan, ia akan meluangkan waktunya untuk dirinya sendiri. Ia memberikan hadiah pada dirinya dan mengistirahatkan pikirannya sebelum beraktivitas kembali.
Ketika ia scroll sosial media, ia merasa senang karena terhibur akan konten-konten yang tersaji di berandanya. Akan tetapi, ia juga merasa lelah karena terlalu lama scroll sosial media. Begitulah perasaan Desvita setelah melakukan me time.
Scroll sosial media yang terlalu lama juga membuat ia kecanduan. Itulah mengapa ia merasa lelah. Ketika ia merasa lelah, ia akan beristirahat dan tidak melakukan kegiatan apapun. Pengaruh scroll sosial media juga berdampak pada mood Desvita. Ia merasa dengan scroll sosial media, ia merasa lebih baik moodnya dan siap menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya.
Konten-konten yang dilihatnya berbagai macam. Konten edukatif salah satunya. Memang konten edukatif sangat disukai oleh remaja. Pembawaan yang interaktif yang diselimuti dengan gaya bahasa yang khas menjadi daya tarik untuk remaja. Maka dari itu, remaja seperti Desvita menyukai konten edukatif dan sejenisnya. Selain menghibur, konten edukatif juga menghibur jiwa-jiwa yang penat.
Hiburan Sebelum Berkegiatan
Jika Alyka dan Desvita mengartikan me time sebagai kegiatan mengistirahatkan diri, Rafa (22) mengartikan me time sebagai usaha untuk mencari hiburan sendiri. Ia memilih scroll sosial media sebagai bentuk hadiah pada dirinya sendiri karena mudah dilakukan dan sudah menjadi kebiasannya ketika ia lelah berkegiatan. Me time biasanya Rafa lakukan ketika ia merasa bosan. Ketika ia bosan, ia bisa menghabiskan 3 sampai 5 jam untuk scroll sosial media. Menurutnya, itulah salah satu cara untuk menyegarkan pikiran.
Ia membatasi dirinya sendiri ketika scroll sosial media. Menurutnya, penggunaan sosial media yang berlebihan bisa menimbulkan perasaan yang tidak enak dan kurang nyaman. Pada tahun 2025, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyatakan bahwa screen time di Indonesia sangat tinggi, lebih dari 7,5 jam. Bahkan anak-anak di bawah dua tahun pun menghadapi exposure screen time yang tinggi. Dengan demikian, menurut Rafa ia perlu scroll sosial media secukupnya sampai dirinya merasa siap beraktivitas kembali.
Konten yang sering ia lihat adalah konten edukatif dan tentunya yang bermanfaat untuk dirinya sendiri. “Mengacu pada tujuan me time, konten yang dilihat harus bermanfaat bagi diri sendiri,” ungkap Rafa. Scroll sosial media yang berlebihan, menurutnya akan menyebabkan brainrot atau penurunan daya konsentrasi diri dan tentunya hanya membuang waktu. Maka dari itu, me time akan berdampak baik jika dilakukan dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan.
BIOGRAFI
Dwi Nur Afiani merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta penyuka ketidakseimbangan diri, meratapi lalu memperbaiki, aktif di media sosial @dwinurafiyanii.
Olah Jiwa: Menemukan Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Dunia
