Oleh: Olivia Sahfitri, Nur Aini Irbah Rosyaadah, Salma Arifah Hanun, Hanny Athiyah Utami, Nur Aisyah Aminy, Nia Rosiana, Anisa Dwi Utami
Cikampek, Jobuzo – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang jalur distribusi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, tetapi juga mengancam rantai pasok pupuk dunia yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.
Selat Hormuz mungkin tampak hanya sebagai garis sempit di peta, tetapi juga titik kritis dalam rantai pasokan energi dan pupuk global dan pengontrol distribusi gas alam dunia. Lebih dari 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia didistribusikan melalui jalur ini setiap harinya. Apalagi, menurut Forbes (2026), sekitar 55 hingga 60 juta metrik ton urea atau 40-50 persen perdagangan pupuk nitrogen global juga melalui selat Hormuz. Ketika jalur distribusi terganggu akibat konflik, dampaknya tidak hanya terasa pada harga energi dan industri manufaktur.
Konflik AS-Iran tidak hanya menjadi persoalan dua negara yang saling bersitegang, tetapi juga menciptakan ketidakpastian rantai pasok bahan baku pupuk global dan lonjakan harga energi dunia. Volatilitas semacam ini dinilai jauh lebih berbahaya dibanding sekadar kenaikan harga, karena dapat mengganggu distribusi pupuk dan menghambat waktu tanam petani.
Indonesia: Rentan di Titik yang Paling Mendasar
Di tengah situasi tersebut, Indonesia berada pada posisi yang cukup rentan. Industri pupuk nasional hingga kini masih memiliki bergantung pada bahan baku dan rantai pasok global, sehingga sensitif terhadap gejolak energi dan konflik geopolitik dunia.
“Indonesia selama ini bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk, tidak ada satupun bahan baku yang diproduksi dalam negeri,” sebut manajemen PT Pupuk Kujang dalam pertemuannya dengan mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB University yang melakukan kunjungan lapang program National Agribusiness Field Trip (NAFT) ke fasilitas perusahaan di Cikampek (15/4/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pupuk nasional bukan sekedar isu industri, melainkan bagian dari kerentanan struktural ketahanan pangan Indonesia. Ketika rantai pasok global terganggu akibat konflik, tekanan tidak hanya dirasakan industri pupuk, tetapi juga dapat menjalar hingga ke tingkat petani melalui kenaikan harga pupuk dan potensi keterbatasan pasokan.
Jika situasi berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya dapat memengaruhi produktivitas pertanian nasional. Padahal, pupuk merupakan salah satu input utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Pupuk Kujang Siapkan Strategi, Bangun Pabrik NPK Nitrat untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Sebagai respon terhadap ketidakpastian, PT Pupuk Kujang mulai memperkuat strategi produksi domestik. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, mulai dari meningkatkan keandalan produksi hingga memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku, salah satunya melalui pembangunan pabrik NPK nitrat pertama di Indonesia.
“Pabrik NPK nitrat dibangun sebagai bagian dari strategi diversifikasi produk, sekaligus perwujudan dari Asta Cita 2 Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto, khususnya dalam misi mewujudkan kedaulatan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani,” jelas pihak perusahaan.
Pembangunan fasilitas tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan industri pupuk nasional di tengah ketidakpastian global. Langkah ini menjadi penting mengingat ketergantungan impor dapat meningkatkan risiko terganggunya produksi pupuk nasional ketika konflik geopolitik memengaruhi rantai pasok internasional.
Namun, apakah Langkah ini cukup untuk mengatasi persoalan ketergantungan bahan baku impor? Di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar harus diajukan. Pembangunan pabrik NPK nitrat memang menjadi langkah strategis yang patut dicatat. Namun, satu pabrik baru dari satu perusahaan, sebesar apa pun kapasitasnya hanya menjadi sebagian kecil dari total kebutuhan pupuk nasional yang menopang jutaan hektar lahan pertanian. Kemandirian pupuk nasional yang sesungguhnya membutuhkan lebih dari satu pabrik, lebih dari satu perusahaan, dan lebih dari satu kebijakan.
Kemandirian pupuk nasional membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fasilitas produksi baru. Indonesia juga perlu memperkuat kebijakan energi nasional, memastikan ketersediaan gas domestik bagi industri pupuk, memperluas riset bahan baku alternatif, serta membangun system distribusi pupuk yang lebih efisien dan tahan terhadap gejolak global.
Tidak hanya berfokus pada pembangunan pabrik NPK nitrat, PT Pupuk Kujang juga terus menjalankan berbagai program pendampingan intensif kepada petani untuk meningkatkan efisiensi penggunaan secara efektif dan berimbang oleh petani. Program ini dilakukan sebagai langkah mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Krisis Selat Hormuz mengajarkan satu hal yang sering dilupakan dalam perencanaan ketahanan pangan: ancaman tidak selalu datang dari dalam negeri. Banjir, kekeringan, dan hama semua itu sudah lama masuk radar kebijakan pertanian. Akan tetapi gangguan rantai pasokan global akibat konflik geopolitik di belahan dunia lain? Itu adalah kategori risiko yang penanganannya masih jauh dari matang.
Selama ketergantungan terhadap impor bahan baku belum sepenuhnya teratasi, setiap gejolak geopolitik di kawasan strategis dunia mana pun tetap dapat menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan Indonesia.
Selat Hormuz hari ini, tapi bisa jadi Laut Merah esok hari, atau Selat Malaka lusa. Karena itu, sinergi antara pelaku industri, pemerintah, dan petani menjadi tidak hanya penting, tetapi justru mendesak agar Indonesia mampu membangun sistem pangan yang lebih mandiri dan tahan terhadap tekanan global.
Gejolak Selat Hormuz Tekan Pasokan Pupuk RI, Pupuk Kujang Ambil Langkah Jaga Ketahanan Pangan