BOGOR, Jobuzo – Pengurus Pusat Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) mengimbau seluruh Koordinator Wilayah (Korwil) UAR di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami. Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan di sejumlah negara dalam beberapa hari terakhir serta tingginya tingkat kerawanan Indonesia terhadap bencana tektonik.
Dalam surat imbauan bernomor 105/09/YAY UAR-PP/VI/2026 tertanggal 29 Juni 2026 yang ditandatangani Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat, S.T., M.T., dan Sekretaris Muqarrobin Al Ayubi, dijelaskan dalam beberapa hari terakhir terjadi gempa bumi berkekuatan besar di Venezuela, Jepang, dan California, Amerika Serikat. Sebelumnya, Indonesia juga mengalami gempa berkekuatan Mag 6,7 di Sulawesi Tengah yang menyebabkan korban jiwa, korban luka, kerusakan rumah, serta fasilitas umum.
Meski demikian, Pengurus Pusat UAR menegaskan bahwa rangkaian gempa di berbagai negara tersebut bukan berarti menjadi pertanda akan segera terjadi gempa besar di Indonesia. “Para ahli seismologi menegaskan gempa-gempa besar yang terjadi di berbagai negara tersebut merupakan kejadian yang tidak saling memicu secara langsung meskipun sama-sama berada pada jalur tektonik aktif,” demikian tulis pengurus pusat UAR.
Namun, karena Indonesia berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, ancaman gempa bumi tetap harus diantisipasi secara serius. “Gempa bumi merupakan ancaman nyata yang dapat terjadi kapan saja tanpa dapat diprediksi secara pasti, sehingga kesiapsiagaan harus selalu dipelihara,” ujar Pengurus Pusat UAR dalam surat tersebut.
Pimpinan pusat meminta seluruh pengurus dan anggota UAR Korwil segera memperkuat kesiapsiagaan personel dengan memastikan seluruh anggota dapat dihubungi selama 24 jam, memperbarui data personel aktif, serta memastikan sistem komunikasi internal berjalan dengan baik. Selain itu, seluruh peralatan operasi seperti USAR, Vertical Rescue, Water Rescue, Medical First Response, kendaraan operasional, radio komunikasi, genset hingga peralatan dokumentasi diminta diperiksa kembali agar selalu dalam kondisi siap digunakan.
Korwil juga diminta menyiapkan logistik darurat, memperkuat mitigasi di wilayah masing-masing melalui pemetaan daerah rawan gempa dan tsunami, penentuan jalur evakuasi serta titik kumpul, sekaligus meningkatkan koordinasi dengan BPBD, Basarnas, TNI, Polri dan instansi terkait. Di samping itu, edukasi kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana dan simulasi evakuasi juga harus terus dilakukan.
Dalam penekanan surat, seluruh relawan pejuang kemanusiaan diingatkan agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya. “Seluruh anggota UAR agar tidak mudah mempercayai isu ataupun prediksi gempa yang tidak berasal dari sumber resmi,” tegas Pengurus Pusat UAR.
Selain itu, para relawan juga diingatkan untuk tetap mengutamakan keselamatan dalam setiap penugasan kemanusiaan. “Tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, menjaga kesiapan personel dan peralatan, mengutamakan keselamatan diri sebelum melakukan operasi penyelamatan, serta siap digerakkan sewaktu-waktu apabila terjadi keadaan darurat,” bunyi penegasan dalam surat tersebut.
Menutup surat himbauan tersebut, Pengurus Pusat UAR menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan bagian dari amanah setiap pejuang kemanusiaan. “Sebagai pejuang kemanusiaan, kesiapsiagaan merupakan bagian dari ikhtiar kita dalam menjaga amanah pelayanan kepada masyarakat,” tulis Pengurus Pusat UAR.
Pengurus Pusat berharap seluruh jajaran UAR di Indonesia dapat melaksanakan himbauan tersebut dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian ikhtiar ibadah menolong diri sendiri dan orang lain. Setiap relawan (pejuang kemanusiaan) senantiasa siap memberikan respon cepat, tepat, dan profesional ketika terjadi bencana di wilayah mana pun. [AM]
UAR Pusat Imbau Seluruh Korwil Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Gempa dan Tsunami
