Penulis: Desrayni Hanadhita dan Srihadi Agungpriyono, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB
Jobuzo – Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata kelelawar? Bagi sebagian orang, hewan ini identik dengan suasana gelap, menyeramkan, bahkan dianggap sebagai pembawa berbagai penyakit. Pandangan tersebut semakin menguat sejak beberapa wabah penyakit menular dikaitkan dengan kelelawar sebagai salah satu inang alami berbagai virus.
Namun, pernahkah kita membayangkan dunia tanpa kelelawar?
Mungkin kita akan kehilangan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: durian.
Ya, buah yang dijuluki “raja buah” dan saat ini sedang mulai masuk musimnya di Indonesia itu ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelelawar. Ketika malam tiba dan sebagian besar manusia terlelap, kelelawar pemakan nektar mulai bekerja. Mereka berpindah dari satu bunga durian ke bunga lainnya untuk mengisap nektar. Tanpa disadari, serbuk sari menempel pada tubuh mereka dan terbawa ke bunga berikutnya. Proses sederhana inilah yang disebut penyerbukan, langkah awal terbentuknya buah durian yang kemudian kita nikmati.
Tidak hanya durian. Berbagai tanaman lain seperti petai, jengkol, kapuk, dan beberapa jenis pisang juga memperoleh manfaat dari aktivitas kelelawar. Bahkan di berbagai belahan dunia, kelelawar menjadi penyerbuk utama ratusan spesies tumbuhan yang bernilai ekonomi maupun ekologis. Dengan kata lain, ketika kelelawar bekerja pada malam hari, mereka sesungguhnya sedang membantu menjaga ketahanan pangan dan kelestarian hutan.
Di balik manfaat besarnya, kelelawar memiliki sisi lain yang menarik perhatian para ilmuwan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hewan ini merupakan tempat hidup alami bagi banyak jenis virus, termasuk beberapa virus yang berpotensi menginfeksi hewan lain maupun manusia. Yang membuat para peneliti semakin penasaran adalah satu fakta unik: kelelawar sering kali tetap terlihat sehat meskipun tubuhnya membawa virus-virus tersebut.
Mengapa demikian?
Jawabannya terletak pada sistem kekebalan tubuh kelelawar yang sangat istimewa. Kelelawar memiliki mekanisme pertahanan yang berbeda dibandingkan sebagian besar mamalia lainnya. Saat terbang, suhu tubuh kelelawar dapat meningkat drastis menyerupai kondisi demam pada manusia. Keadaan ini diduga turut membentuk sistem imun yang sangat efisien dalam mengendalikan infeksi.
Selain itu, kelelawar memiliki respons kekebalan yang mampu menekan perkembangan virus tanpa menimbulkan peradangan berlebihan. Pada manusia, justru respons imun yang terlalu kuat sering kali menjadi penyebab kerusakan organ saat terjadi infeksi virus. Pada kelelawar, keseimbangan antara melawan virus dan mengendalikan peradangan berlangsung jauh lebih baik. Akibatnya, virus dapat tetap berada di dalam tubuh mereka tanpa menyebabkan gejala penyakit yang berarti.
Keunikan inilah yang menjadikan kelelawar sebagai salah satu objek penelitian paling menarik dalam dunia biologi, kedokteran, dan kesehatan masyarakat. Para ilmuwan berharap, dengan memahami sistem imun kelelawar, kita dapat menemukan cara baru untuk mengatasi penyakit infeksi pada manusia.
Namun, fakta bahwa kelelawar dapat membawa berbagai virus bukan berarti kita harus memusuhi atau membasmi mereka. Sebaliknya, yang perlu kita lakukan adalah memahami cara hidupnya dan mengurangi peluang terjadinya penularan penyakit.
Sebagian besar penularan penyakit tidak terjadi hanya karena keberadaan kelelawar. Risiko meningkat ketika habitat satwa liar rusak, ketika manusia menangkap atau memperjualbelikan satwa liar, atau ketika terjadi kontak langsung antara manusia, ternak, dan kelelawar tanpa pengelolaan yang baik. Dengan kata lain, masalah utamanya bukan pada kelelawarnya, melainkan pada cara manusia berinteraksi dengan alam.
Inilah mengapa pendekatan One Health semakin penting. Pendekatan ini mengajarkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Melindungi habitat kelelawar, mengurangi perburuan satwa liar, memperkuat biosekuriti pada peternakan, dan meningkatkan surveilans penyakit merupakan langkah yang jauh lebih bijaksana daripada melakukan pembasmian.
Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa menghilangkan satu spesies dari ekosistem justru dapat memunculkan masalah baru yang tidak kita duga sebelumnya. Jika populasi kelelawar menurun drastis, proses penyerbukan berbagai tanaman juga dapat terganggu. Akibatnya, produksi buah menurun, regenerasi hutan terhambat, dan keseimbangan ekosistem ikut terganggu.
Ironisnya, hewan yang sering kita takuti itu justru bekerja tanpa pamrih setiap malam. Saat kita tidur, mereka membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah. Mereka menjaga keberlanjutan hutan, mendukung keanekaragaman hayati, dan berkontribusi terhadap sumber pangan yang kita nikmati.
Jadi, lain kali ketika menikmati buah durian yang lezat dan harum, mungkin ada baiknya kita mengingat satu pekerja malam yang jarang mendapat penghargaan. Kelelawar memang menyimpan berbagai misteri ilmiah yang masih terus dipelajari, termasuk hubungan uniknya dengan berbagai virus. Karena itu, kita harus tetap waspada, memperkuat pengawasan penyakit, dan menghindari kontak yang tidak perlu dengan satwa liar. Namun, kewaspadaan tidak boleh berubah menjadi kebencian. Sebab, tanpa kelelawar, mungkin kita tidak akan lagi menikmati durian seperti yang kita kenal hari ini. Kadang-kadang, makhluk yang paling sering disalahpahami justru adalah salah satu penjaga kehidupan yang paling penting.
Tanpa Dia, Kita Tidak Bisa Menikmati Durian