Laporan Oleh: Rizki H., Ahmad Ainul Y., M. Fazle M., & Wiki D.
Jobuzo, CIREBON – Empat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Swadaya Gunung Jati (FEB UGJ) menjalankan program pendampingan pemasaran digital terhadap dua pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) keripik tempe di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka.
Program yang berlangsung pada Maret hingga Juni 2026 tersebut menyasar UMKM Ocien Snack di Kabupaten Cirebon dan Keripik Tempe Tito Jaya di Kabupaten Majalengka.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan mata kuliah Kewirausahaan dengan arahan Lisa Harry Soelistyowati, S.E., M.M. selaku dosen pengampu dan Dendy Novandi, S.E., M.M. sebagai dosen pembimbing lapangan.
Empat mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UGJ yang terlibat ialah Rizki Hidayatulloh, Ahmad Ainul Yaqin, M. Fazle Mawla, dan Wiki Darmawan. Mereka dibagi menjadi dua tim untuk mendampingi masing-masing UMKM.
Program tersebut dilatarbelakangi oleh hasil observasi mahasiswa yang menemukan bahwa produk kuliner berbasis tempe di wilayah Cirebon dan Majalengka memiliki potensi pasar yang menjanjikan. Namun, pemasaran yang masih mengandalkan cara konvensional membuat jangkauan penjualan kedua UMKM belum berkembang secara maksimal.
Bertahan dengan Cita Rasa Tradisional
Ocien Snack merupakan usaha keripik tempe yang dikelola Hendra Agustira di Blok Karang Baru, Palimanan Barat, Kabupaten Cirebon. Usaha ini telah berdiri sejak 2015 dan selama kurang lebih 11 tahun melayani konsumen pencinta camilan tradisional.
Sementara itu, Keripik Tempe Tito Jaya dikelola oleh Hj. Titi dan Yanto di Jalan Ketos, Desa Banjaran, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka. Usaha tersebut telah berjalan sejak 2011 atau hampir 15 tahun.
Kedua UMKM memproduksi keripik tempe dengan karakter tipis, renyah, serta menggunakan bumbu khas Nusantara. Produk tersebut selama ini banyak dikonsumsi sebagai camilan harian maupun dijadikan buah tangan.
“Produk kuliner berbasis pangan lokal seperti keripik tempe memiliki daya tarik tersendiri. Tekstur yang renyah dan resep yang dipertahankan secara turun-temurun menjadi modal kuat untuk memperluas pasar,” ungkap tim mahasiswa dalam laporan observasinya.
Promosi Masih Mengandalkan Mulut ke Mulut
Meski telah bertahan selama belasan tahun, kedua UMKM menghadapi persoalan yang hampir sama, yakni terbatasnya strategi pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital.
Sebelum pendampingan dilakukan, Ocien Snack belum memiliki pamflet, brosur, maupun katalog produk yang dapat diberikan kepada calon pembeli grosir dan konsumen ritel.
Sementara itu, Keripik Tempe Tito Jaya belum memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram secara aktif untuk menjangkau konsumen muda maupun pembeli dari luar daerah.
Kondisi tersebut membuat promosi produk masih didominasi metode dari mulut ke mulut. Akibatnya, jangkauan pasar belum berkembang secara optimal meskipun produk yang ditawarkan memiliki kualitas dan cita rasa yang telah dikenal masyarakat sekitar.
Bangun Website hingga Katalog Dua Bahasa
Untuk mengatasi kendala tersebut, mahasiswa UGJ merancang sejumlah strategi yang berfokus pada penguatan identitas visual dan digitalisasi pemasaran.
Pada UMKM Ocien Snack, mahasiswa membangun sebuah website informasi usaha dengan tampilan bernuansa hijau pastel. Website tersebut memuat profil dan sejarah usaha, pilihan varian rasa, informasi produk, serta tautan menuju media sosial.
Mahasiswa juga membuat katalog digital interaktif dalam bentuk flipbook menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Katalog tersebut disiapkan untuk membantu promosi produk kepada konsumen yang lebih luas, termasuk membuka peluang pemasaran ke luar negeri.
Selain itu, Ocien Snack turut didaftarkan pada layanan pemesanan makanan secara digital melalui GoFood.
“Produk keripik tempe kini dapat dipesan melalui layanan digital sehingga konsumen bisa memperoleh produk tanpa harus datang langsung ke lokasi usaha,” jelas tim mahasiswa.
Tata Ulang Promosi Keripik Tempe Tito Jaya
Pendampingan terhadap Keripik Tempe Tito Jaya difokuskan pada pengembangan materi promosi untuk media sosial.
Tim mahasiswa merancang sejumlah poster digital untuk memperkenalkan produk unggulan, seperti keripik tempe sagu, varian seblak pedas, dan produk unik bernama Coktem atau Cokelat Tempe.
Materi promosi tersebut dikemas dalam format unggahan feed Instagram dan Instagram Story dengan tampilan dinamis. Informasi mengenai jam operasional toko juga dicantumkan agar konsumen lebih mudah memperoleh informasi pelayanan dan pemesanan.
Melalui pembaruan materi promosi tersebut, tampilan digital Keripik Tempe Tito Jaya diharapkan menjadi lebih profesional, menarik, dan mudah dikenali oleh calon konsumen.
Buka Peluang Pasar Lebih Luas
Program pendampingan yang dilakukan mahasiswa UGJ diharapkan dapat memperkuat identitas digital kedua UMKM sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Berdasarkan pengamatan selama program berlangsung, penggunaan website, katalog digital, layanan pesan antar, dan media sosial dapat memberikan peluang lebih besar bagi UMKM untuk menjangkau konsumen baru.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM juga dinilai penting dalam meningkatkan kemampuan pemasaran digital serta memperkuat daya saing produk lokal secara berkelanjutan.
Meski demikian, mahasiswa menilai hasil pendampingan tersebut masih merupakan langkah awal dalam proses transformasi digital. Keberlanjutan program tetap bergantung pada konsistensi pemilik usaha dalam mengelola website, media sosial, serta layanan pemasaran digital yang telah disiapkan.
Salah seorang pemilik UMKM mengaku program pendampingan tersebut memberikan pengetahuan dan semangat baru dalam mengembangkan usaha.
“Selama bertahun-tahun kami lebih banyak berfokus menjaga kualitas produk, tetapi belum banyak memahami promosi digital. Kini kami optimistis keripik tempe ini dapat dikenal lebih luas dan terus berkembang tanpa meninggalkan cita rasa yang selama ini dipertahankan,” ujarnya.
Mahasiswa UGJ Dorong Digitalisasi UMKM Keripik Tempe di Cirebon dan Majalengka