BEIJING, Jobuzo – Mengenakan baret biru khas pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Shao Xiaoguang (30) berbaris melintasi Lapangan Tian’anmen di pusat kota Beijing pada 3 September bersama rekan-rekannya sesama pasukan penjaga perdamaian China.
Parade militer akbar yang diikutinya itu digelar untuk memperingati 80 tahun kemenangan dalam Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Perang Antifasis Dunia.
“Parade itu sangat mengesankan,” ungkapnya kepada Xinhua, dengan ekspresi penuh percaya diri dan rasa bangga.
Kehadiran pasukan China yang memiliki pengalaman misi penjaga perdamaian PBB dalam parade itu menunjukkan komitmen China untuk memenuhi kewajiban internasional dan melindungi perdamaian dunia, ungkap Wu Zeke, wakil direktur Kantor Kelompok Pimpinan Parade Militer yang juga perwira senior di Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Sentral China.
Dalam 35 tahun sejak bergabung dengan operasi penjaga perdamaian PBB, China telah menerjunkan lebih dari 50.000 personel penjaga perdamaian ke 20 lebih negara dan kawasan, melaksanakan 26 misi PBB. Pasukan penjaga perdamaian China telah mendapatkan apresiasi luas atas dedikasi dan profesionalisme mereka.
Saat ini, China merupakan kontributor keuangan terbesar kedua bagi operasi pemeliharaan perdamaian PBB dan menyediakan lebih banyak personel penjaga perdamaian dibandingkan anggota tetap Dewan Keamanan PBB lainnya, sehingga mengukuhkan perannya sebagai kekuatan yang teguh dalam memelihara perdamaian dunia.
Sebagai prajurit dengan pengabdian lebih dari 10 tahun, Shao telah dikirim ke Republik Demokratik Kongo (RDK) pada 2023 sebagai anggota unit insinyur dalam pasukan penjaga perdamaian China. Saat mengetahui dirinya terpilih untuk melaksanakan misi tersebut, dia merasa bangga. “Merupakan kehormatan yang besar untuk mewakili tanah air saya dalam misi pemeliharaan perdamaian,” tuturnya.
Di RDK, tugas-tugas Shao mencakup pelaksanaan pekerjaan teknik dan penyaluran bantuan kemanusiaan. Lewat pengalaman tersebut, dirinya merasakan apresiasi yang mendalam atas pentingnya operasi pemeliharaan perdamaian.
Saat musim hujan 2023, sebuah jalan dalam area misi unitnya rusak akibat hujan lebat. Shao beserta rekan-rekannya asal China turun tangan untuk memperbaiki jalan tersebut. “Usai jalan itu selesai diperbaiki, masyarakat setempat menari gembira di atasnya,” ujar Shao. “Momen itu memberi saya kepuasan yang mendalam.”
Selain melaksanakan tugas rutin mereka, unit Shao juga berinteraksi dengan komunitas setempat, menyelenggarakan berbagai inisiatif seperti menyumbangkan alat tulis dan kebutuhan sehari-hari kepada sekolah-sekolah lokal.
Kegiatan tersebut mendekatkan personel pasukan penjaga perdamaian dengan masyarakat setempat. “Saat anak-anak setempat melihat bendera nasional China di lencana lengan kami, mereka selalu berkerumun di sekitar kami layaknya sahabat dekat.”
Lan Yu (28), personel penjaga perdamaian China lainnya yang berpartisipasi dalam parade tahun ini, memiliki pengalaman serupa dengan Shao. Pada 2019, Lan bertugas sebagai prajurit infanteri dalam pasukan penjaga perdamaian China di bawah mandat PBB di Sudan Selatan. Dia masih mengingat jelas momen di sebuah sekolah dasar di Juba, ibu kota Sudan Selatan.
“Kami mengunjungi sekolah itu untuk memberikan donasi,” kenang Lan. “Dengan batang kapur tulis yang baru saja kami berikan, seorang anak perempuan menggambar burung merpati putih (lambang) perdamaian di papan tulis.”
Bagi Luo Yao (26), yang dua kali berpartisipasi dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon, pengembangan militer China bertujuan untuk melindungi perdamaian yang diraih lewat kemenangan pada 80 tahun yang lalu dan juga untuk memberikan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Menyoroti aspek bahaya dalam misi penjaga perdamaian, Luo mengenang sebuah insiden saat dia dan rekan-rekannya asal China sedang memperbaiki sebuah jalan di zona konflik, dan sebuah peluru artileri meledak hanya beberapa ratus meter dari lokasi mereka.
Selama bertahun-tahun, pasukan penjaga perdamaian China telah melaksanakan berbagai tugas, termasuk pembersihan ranjau, pemantauan gencatan senjata, patroli keamanan, dan operasi penyelamatan darurat, urai Wu. Dia menambahkan bahwa total 17 prajurit China telah gugur dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.
Mengingat penderitaan luar biasa yang dialami oleh negara itu selama perang, para personel angkatan bersenjata China memahami betapa pentingnya menjaga perdamaian, tutur Luo. Dia menekankan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk secara tegas melindungi kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan China.
“Perdamaian di negara kita saat ini diraih lewat perjuangan yang tidak mudah. Kita harus meneruskan tongkat estafet dari para pendahulu kita dan terus menjaga perdamaian di negara kita maupun di dunia,” ujar Shao. (Xinhua)
80 Tahun Kemenangan Perang, Pasukan China Teguhkan Peran di Misi Perdamaian PBB