Jobuzo – Lebih dari 1.376 pelajar terindikasi menjadi korban keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Oleh karena itu, seorang ahli gizi komunitas menyarankan penundaan program tersebut hingga seluruh kasus keracunan yang terjadi selesai dievaluasi. Menjawab berbagai tantangan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) merancang sebuah solusi inovatif bernama “Sustainable Integrated Kitchen System (SIKE)”. Gagasan konstruktif yang dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) ini bertujuan untuk mengoptimalkan program MBG melalui sistem dapur pintar berbasis Kecerdasan Buatan (AI) sekaligus mengubah limbah makanan menjadi energi terbarukan.
Tim ini diinisiasi oleh lima mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu teknik. Tim diketuai oleh Muhammad Afnand Kabhila (Teknik Sipil) , dengan anggota Fauzi Septriantoro (Teknik Sipil) , Muhammad Rizky Khoirul Amar (Teknik Sipil) , Safira Mahardika Rahayu (Teknik Geologi) , dan Muhammad Firdaus Ar Riza (Teknik Geodesi). Seluruh kegiatan riset dan pengembangan gagasan ini berada di bawah bimbingan Ni Nyoman Nepi Marleni, S.T., M.Sc., Ph.D..
Program MBG merupakan program nasional vital untuk pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai kendala, seperti kualitas makanan yang kurang layak, menu yang tidak sesuai selera anak, hingga potensi keracunan. Masalah ini tidak hanya mengancam kesehatan siswa tetapi juga menimbulkan masalah baru: limbah makanan (food waste) yang bertentangan dengan tujuan utama program. Berdasarkan laporan, dua pertiga makanan yang terbuang terjadi pada rantai pasokan pangan.
SIKE bekerja melalui dua mekanisme utama yang saling terintegrasi. Prioritas pertama adalah optimalisasi sumber daya makanan. Dengan memanfaatkan AI, sistem ini akan mengolah data survei preferensi anak-anak dan ketersediaan bahan baku dari petani lokal. Hasil analisis ini memungkinkan penyediaan menu yang tidak hanya bergizi seimbang, tetapi juga sesuai dengan selera dan kebutuhan spesifik siswa, bahkan yang memiliki intoleransi makanan tertentu, sehingga dapat menekan jumlah makanan sisa.
Menyadari bahwa optimalisasi menu pada tahap pertama mungkin belum sepenuhnya sempurna, SIKE dirancang dengan prioritas kedua untuk menanggulangi sisa makanan yang masih mungkin lolos. Prioritas kedua ini adalah manajemen limbah yang berfungsi sebagai siklus umpan balik. Setiap tempat pembuangan sampah akan dilengkapi sensor berat (load cell). Sensor ini secara aktif mengubah setiap gram sisa makanan menjadi data kuantitatif akurat yang menjadi bahan bakar bagi AI untuk menjadwalkan pengambilan sampah secara prediktif, mencegah penumpukan dan bau sebelum terjadi. Puncaknya, limbah yang terkumpul akan diolah menjadi biogas dan pupuk organik, yang energinya akan digunakan kembali untuk memasak, menciptakan sebuah siklus berkelanjutan yang efisien.
Untuk menyebarluaskan gagasan ini agar mudah dipahami publik, tim akan memproduksi sebuah video naratif. Cerita dalam video akan mengangkat masalah nyata di lapangan, seperti siswa yang jatuh sakit karena menu yang tidak cocok dan banyaknya makanan yang terbuang, kemudian memperkenalkan SIKE sebagai solusi pamungkas.
Proses produksi video akan mengambil lokasi di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Magelang. Tim telah merancang seluruh tahapan secara rinci, mulai dari penulisan naskah, pembuatan papan cerita, hingga persiapan teknis. Produksi akan didukung oleh peralatan profesional seperti kamera digital, stabilizer, dan mikrofon, serta perangkat lunak penyuntingan canggih seperti Adobe Premiere Pro, Adobe After Effect, dan Blender untuk menciptakan animasi dan visualisasi 3D yang menarik.
Dengan tagline “Nutrisi Maksimal, Energi Optimal, Mewujudkan Generasi Emas Nasional,” tim UGM ini optimis bahwa gagasan SIKE dapat menjadi cetak biru untuk pelaksanaan program MBG yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Mahasiswa UGM Rancang Dapur Pintar “SIKE” Berbasis AI untuk Atasi Masalah Gizi dan Limbah Makanan Program MBG
