Malang, Jobuzo – Kawasan wisata Kayutangan Heritage tidak hanya menjadi tempat menikmati suasana kota Malang pada Senin (13/10/2025), tetapi menjadi ruang bertemunya para generasi muda dengan beragam pandangan tentang penggunaan bahasa di era digital.
Dalam wawancara langsung dengan beberapa remaja dan seorang pemuda di kawasan tersebut, mereka mengungkapkan bagaimana bahasa memiliki pengaruh besar terhadap identitas diri maupun budaya di media sosial. Salah satu remaja menyampaikan bahwa bahasa merupakan cerminan karakter seseorang, terutama di dunia maya.
“Semakin baik seseorang berkomunikasi, semakin baik pula karakter yang terlihat dari bahasa yang mereka gunakan,” ujarnya.
Bahasa dan Identitas Budaya di Media Sosial
Para remaja yang ditemui di Kayutangan juga menilai bahwa media sosial kini menjadi ruang besar yang menunjukkan keragaman bahasa dan budaya. Mereka melihat bahwa pengguna internet, khususnya generasi muda, kerap memakai berbagai ragam bahasa dari daerah yang berbeda.
“Di medsos sekarang banyak generasi muda pakai bahasa dari berbagai daerah dan negara. Itu menunjukkan dari mana mereka berasal dan karakter mereka,” kata salah satu pemuda yang ikut diwawancarai.
Menurut mereka, penggunaan bahasa yang beragam tersebut memiliki peran penting karena membantu memperkenalkan identitas budaya di ruang digital.
Bahasa Gaul dan Serapan Asing Dinilai Punya Dampak Positif
Ketika ditanya mengenai maraknya bahasa gaul dan campuran bahasa asing yang digunakan di media sosial, para narasumber menilai bahwa fenomena itu justru membawa dampak positif.
Bahasa gaul, yang banyak mengadopsi kosakata bahasa Inggris, dianggap membantu memperluas pengetahuan berbahasa asing di kalangan generasi muda. “Karena ada campuran bahasa Inggris, orang jadi lebih banyak kosakata. Dan bahasa Inggris itu penting, jadi ada sisi positifnya,” ujar salah satu remaja.
Penggunaan Logat Daerah di TV Dinilai Cerminkan Keunikan Budaya
Terkait penggunaan bahasa daerah atau logat tertentu dalam program komedi televisi, narasumber di Kayutangan menilai bahwa hal itu bukan merugikan, melainkan justru memperlihatkan kekayaan budaya.
“Dialek itu bagus, karena menunjukkan sisi asli budaya itu sendiri. Misalnya orang Jawa, meskipun ngomong campuran, logatnya tetap khas. Itu bagian dari identitas,” ungkap seorang pemuda.
Realitas Kebahasaan dan Budaya dalam Media
