Jobuzo — Belakangan, muncul fenomena “AI Bubble” yang memiliki arti AI ada di mana-mana — semua perusahaan berbondong-bondong mengembangkannya dan membuat valuasinya melambung tinggi karena investasi yang mengucur deras. Di Indonesia sendiri, apakah AI Bubble ini menjadi berpotensi jadi ancaman?
Secara diksi, “AI Bubble” terasa tak lagi asing di dunia teknologi. Kata “bubble” di sini mirip seperti tren “startup bubble burst” yang artinya mendadak besar dan booming, namun potensi ‘meledak’ alias anjloknya juga tak kalah besar. Dalam konteks AI Bubble, muncul kekhawatiran di tengah investasi jor-joran, monetisasi dari AI itu sendiri secara bisnis tidak sesuai harapan.
Sebagai perusahaan telekomunikasi, Telkomsel tengah gencar mengembangkan teknologi AI melalui berbagai inisiatif. Ditemui usai peresmian AI Innovation Hub di Bandung, Jawa Barat, Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menanggapi fenomena AI Bubble ini dengan nada yang cukup tenang.
Baca Juga :

“Itu sesuatu hal yang biasa — kalah ada sebuah hype, ada potensial [menjadi] bubble. Dulu internet bubble, walaupun pada dasarnya itu sesuatu yang bermanfaat. Lalu ada startup bubble. Di tengah itu semua, ada satu yang memang orang tidak sempat gembar-gemborkan, yaitu 3G Bubble,” ucap Nugroho kepada beberapa media di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/12).
Ia melanjutkan, “banyak korban dari 3G Bubble ini dari segi investasi. Banyak operator dulu jor-joran, lalu jadi kolaps. Terakhir ini yang sedang hype AI, ini adalah permainan balancing antara investment dan monetization.”
Menurut Nugroho, selama perusahaan — dalam hal ini juga investor — tidak seimbang antara keputusan investasi dan potensial monetisasinya, maka harus bersiap menjadi “korban bubble.”
“Jadi perhitungan investasinya harus matang. AI or Die, lalu mikirnya harus jor-joran di AI. Investasi dini yang terlalu besar itu kemungkinan akan jadi korban bubble,” lanjutnya.
Nugroho juga memberi contoh percepatan investasi yang terjadi karena kehadiran AI yang serba meledak, seperti GPU Nvidia yang menurutnya naik 10 kali lipat, hingga DeepSeek yang menyaingi OpenAI dengan efisiensi yang juga tinggi.
Baca Juga :

“Bayangkan kalau kita gegabah investasi cuma karena FOMO, padahal di-deliver-nya baru dua tahun kemudian karena ‘kan antre. Tapi teknologi yang kita order versi lama. Betapa tidak relevannya investasi kita,” sambungnya.
Kendati begitu, Nugroho menilai, jangan karena ada potensial AI Bubble, kemudian langsung menganggap AI menjadi bukan hal yang dibutuhkan.
Menurutnya, kuncinya memang di persoalan keseimbangan dalam menghitung investasi AI tersebut.
Lebih lanjut, Nugroho percaya diri iklim tren AI di Indonesia masih dalam kadar aman dan positif terlepas fenomena AI Bubble di luar sana.
“Di Indonesia tren AI Bubble lebih terkendali, lebih proper, mungkin karena era setelah startup digital ini bubble-nya masih tergolong baru, jadi orang masih banyak trauma. Lalu, jadinya masih terngiang-ngiang untuk hati-hati berinvestasi di hal yang sedang booming. Sejauh ini tren AI di Indonesia sangat positif, cara-caranya sudah kami pelajari juga. Jadi semoga kita bisa terhindar dari risiko,” tutup Nugroho.
Baca Juga :

Diketahui, pembicaraan mengenai AI Bubble atau gelembung AI tengah menarik perhatian. Para pakar ekonomi dan investor mulai mengungkapkan kekhawatiran mereka akan terjadinya AI Bubble.
Mereka meyakini, masalah akan muncul ketika kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan ekspektasi. Jika teknologi AI yang tidak berkembang secepat yang dibayangkan, atau tidak menghasilkan keuntungan seperti yang dijanjikan, maka “gelembung” bisa saja pecah.
Dampaknya, nilai atau valuasi perusahaan dapat menurun drastis, investor akan mengalami kerugian besar, dan dampaknya juga bisa menyebar ke sektor ekonomi lain yang lebih luas.
Dengan kata lain, tidak sedikit yang khawatir jika uang yang mereka investasikan pada teknologi AI ini mungkin saja akan terbuang sia-sia.
Meskipun nama-nama perusahaan besar di bidang teknologi tengah menikmati optimisme mereka terhadap AI, pengeluaran mereka dalam dua tahun ke depan diprediksi akan lebih besar dibandingkan total pengeluaran mereka selama 10 tahun terakhir.
Bos Telkomsel: AI Bubble Itu Wajar, yang Bahaya Investasi FOMO
