JAKARTA – Rentetan kecelakaan di perlintasan kereta api kembali terjadi dalam waktu berdekatan. Di Bekasi Timur, gangguan perjalanan kereta dipicu insiden kendaraan yang berhenti di atas rel hingga terjadi tabrakan beruntun antar kereta. Tak berselang lama, kecelakaan fatal kembali terjadi di Grobogan, Jawa Tengah.
Peristiwa di Grobogan tepatnya terjadi di Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 02.52 WIB. Sebuah mobil Toyota Avanza yang mengangkut sembilan orang pengantar jamaah haji tertabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah barat ke timur.
Benturan keras membuat mobil terpental sekitar 20 meter, menghantam tiang jaringan telekomunikasi, lalu terlempar ke area persawahan. Lima orang meninggal dunia, sementara lainnya mengalami luka-luka. Perlintasan tersebut diketahui tidak memiliki palang pintu, dan dugaan sementara kecelakaan dipicu kurangnya kehati-hatian pengemudi.
Dua kejadian ini kembali memunculkan pertanyaan klasik: mengapa kendaraan bisa berhenti atau mogok tepat di atas rel?
Mengapa mobil bisa mogok di atas rel?
Fenomena mobil mati mendadak di perlintasan kereta api ternyata memiliki beberapa penyebab yang saling berkaitan, baik dari sisi teknis maupun manusia. Berikut beberapa penyebabnya.
Pertama, karena pengaruh medan elektromagnetik: Menurut kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), rel kereta api memiliki arus listrik yang dapat menimbulkan medan elektromagnetik. Saat kereta mendekat (sekitar 600 meter), medan magnet meningkat dan berpotensi mengganggu sistem elektronik kendaraan.
Hal itu berdampak Electronic Control Unit (ECU) terganggu, sistem pengapian dan bahan bakar tidak bekerja normal dan mesin mati mendadak saat melintasi rel kereta api.
“Tidak hanya mobil listrik, tapi mobil dengan bahan bakar juga banyak yang tidak cukup tahan terhadap pengaruh medan magnet besar ketika kereta api itu akan lewat,” tutur Amarulla dalam acara BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Jakarta, Selasa (28/4/2026) dilansir DetikEdu.
Kedua, pengaruh dinamo lokomotif: Menurut PT Kereta Api Indonesia, medan magnet juga berasal dari dinamo lokomotif, bahkan bisa terasa hingga radius satu kilometer. Ini dapat memengaruhi putaran mesin kendaraan, terutama jika tidak dalam kondisi optimal.
Ketiga, kesalahan teknis pengemudi: Banyak pengemudi tidak menggunakan gigi rendah saat melintas rel. Akibatnya, putaran mesin tidak stabil dan mesin lebih mudah mati saat mendapat gangguan.
Keempat, kondisi kendaraan tidak prima: Mobil dengan masalah pada aki, sistem bahan bakar, atau kelistrikan lebih rentan mogok di situasi kritis.
Kelima, faktor psikologis (panik): Saat kendaraan tiba-tiba mati di atas rel, pengemudi sering panik, sehingga salah mengatur kopling dan gas, gagal menyalakan mesin kembali, dan terlambat mengambil keputusan evakuasi
Keenam, karena faktor lingkungan dan sistem: Banyak perlintasan tanpa palang pintu, minim rambu-rambu dan penerangan, dan kemacetan yang membuat kendaraan berhenti di atas rel.
Saran untuk Masyarakat
Melihat tingginya risiko kecelakaan, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan pengguna jalan:
- Selalu berhenti sebelum melintas rel, lihat kiri dan kanan, serta dengarkan sinyal
- Gunakan gigi rendah saat melewati rel agar tenaga mesin stabil
- Pastikan kendaraan dalam kondisi prima, terutama sistem kelistrikan
- Jangan menerobos palang pintu atau mengambil risiko saat sinyal berbunyi
- Jika kendaraan mogok di rel, segera keluar dan minta bantuan, utamakan keselamatan jiwa
- Hindari panik, tetap tenang agar bisa mengambil keputusan cepat dan tepat
Rentetan kejadian di Bekasi dan Grobogan menjadi pengingat keras bahwa perlintasan kereta api adalah titik rawan yang membutuhkan kesadaran disiplin tinggi. Kombinasi kewaspadaan pengemudi dan peningkatan sistem keselamatan di lapangan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. [AM]
Kereta Tabrak Mobil di Perlintasan Terjadi Lagi, Apa Penyebab Mobil Mogok di Atas Rel?
