Jobuzo – Motivasi belajar sangat penting bagi keberhasilan anak di sekolah dasar. Selama ini, guru sering menggunakan reward seperti pujian, stiker, nilai bagus, atau hadiah kecil agar anak mau belajar. Cara ini sudah lama dianggap berhasil. Namun, kini mulai muncul masalah: reward tidak lagi terlalu efektif, terutama pada anak-anak Generasi Z yang tumbuh di era digital.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa reward memang dapat meningkatkan semangat belajar anak, tetapi efeknya cenderung bersifat sementara. Penelitian yang dilakukan pada siswa SD Negeri Pondok Cabe Udik 01 dan SD Negeri Pamulang 02, Kota Tangerang Selatan. Pada tahun ajaran 2022–2023, siswa terlihat lebih rajin dan disiplin ketika guru memberikan hadiah atau pujian. Namun, ketika reward dihentikan, motivasi belajar sebagian siswa kembali menurun. Hal ini menunjukkan bahwa anak belajar lebih karena hadiah, bukan karena keinginan untuk belajar itu sendiri.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian lanjutan pada tahun 2024 yang dilakukan di SD Negeri Ciputat 03 dan SD Islam Al-Azhar Pamulang, Kota Tangerang Selatan. yang menunjukkan adanya hubungan antara reward dan motivasi belajar siswa sekolah dasar. Meski demikian, motivasi yang muncul umumnya bersifat eksternal. Anak menjadi terdorong belajar bukan karena tertarik memahami materi, melainkan karena ingin memperoleh imbalan.
Masalah ini semakin terasa pada anak-anak Generasi Z. Mereka tumbuh di tengah penggunaan gawai, gim digital, dan video yang memberikan hiburan cepat dan menarik. Dibandingkan dengan pengalaman digital tersebut, reward seperti stiker atau hadiah kecil menjadi kurang menarik. Jika reward terlalu sering digunakan, anak berisiko kehilangan motivasi dari dalam diri, seperti rasa ingin tahu dan kemandirian dalam belajar.
Sebagai alternatif, beberapa sekolah mulai menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa. Penelitian terbaru pada tahun 2025 yang dilaksanakan di SD Negeri Pamulang Permai dan SD Negeri Ciputat Timur 01, Kota Tangerang Selatan, menunjukkan bahwa reward memang dapat meningkatkan keaktifan anak, tetapi dampaknya jauh lebih besar ketika pembelajaran dirancang secara menyenangkan dan bermakna. Kegiatan seperti diskusi, kerja kelompok, proyek, dan tantangan yang dekat dengan kehidupan anak terbukti membuat siswa lebih terlibat karena proses belajarnya terasa seru, bukan semata-mata karena hadiah.
Selain itu, pendekatan gamifikasi juga dinilai efektif. Penelitian yang dilakukan di SD Negeri Pondok Aren 01 dan SDIT Al-Fath Pamulang. Gamifikasi memanfaatkan unsur level, tantangan, dan umpan balik langsung yang menyerupai gim digital. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendekatan ini lebih mampu menjaga motivasi belajar anak dalam jangka panjang dibandingkan pemberian reward fisik saja.
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa reward masih memiliki manfaat, tetapi tidak cukup jika digunakan secara tunggal. Reward dapat berfungsi sebagai pemicu awal, terutama bagi anak yang kurang termotivasi. Namun, apabila pembelajaran hanya berfokus pada hadiah, anak cenderung berhenti berusaha ketika reward tidak lagi diberikan.
Reward tidak perlu dihilangkan, tetapi harus digunakan secara bijak dan proporsional. Guru dan orang tua perlu menciptakan pengalaman belajar yang menarik, menantang, dan relevan dengan kehidupan anak. Dengan mengombinasikan reward, gamifikasi, serta penguatan motivasi dari dalam diri anak, pembelajaran di sekolah dasar dapat menumbuhkan semangat belajar yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Oleh: Cyntia Amalia Rahmah, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Krisis Motivasi Belajar Anak SD: Ketika Reward Kehilangan Daya Tarik