Jobuzo – Sebuah kampanye iklan dari Irlandia menyoroti risiko sharenting yang kerap tidak disadari oleh orang tua. Video berdurasi 40 detik tersebut memperlihatkan dampak tidak langsung yang menempatkan anak-anak sebagai korban dari fenomena ini.
Sharenting sendiri merupakan istilah gabungan dari “share” dan “parenting” yang merujuk pada tindakan orang tua/pengasuh/kakek dan nenek yang gemar membagikan konten tentang anak atau cucu mereka di media sosial secara berlebihan.
“Sharenting merujuk kepada tindakan orang tua yang membahas anaknya dengan orang-orang di luar keluarga sendiri: unggahan di media sosial yang disertai foto, tulisan di blog tentang anak, video anak yang dikirimkan melalui platform seperti WhatsApp, dan lain-lain,” ungkap Stacey Steinberg selaku pakar sharenting, mengutip UNICEF Indonesia.
Bahaya psikologis mengunggah konten tentang anak di media sosial
Melansir blog Cleveland Clinic, psikolog Susan Albers menyebut bahwa mayoritas orang tua melakukan sharenting atas dasar niat baik. Motivasi utamanya adalah keinginan untuk berbagi potongan momen keseharian anak mereka melalui media sosial.
Sayangnya, banyak orang tua terjebak dalam perilaku oversharing. Data survei di AS tahun 2015 menunjukkan bahwa 51 persen orang tua menyertakan informasi lokasi anak dalam unggahan mereka, dan 27 persen membagikan foto yang tidak pantas.
Praktik ini dinilai dapat memicu konflik jangka panjang yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan tumbuh kembang anak. Dalam kasus tertentu, anak-anak berisiko menjadi sasaran bullying maupun cyberbullying akibat konten yang diunggah oleh orang tua mereka.
“Terkadang, orang tua tanpa sadar menciptakan tekanan pada anak-anak mereka dengan membentuk citra ideal tentang siapa anak mereka di dunia maya. Hal itu dapat menyebabkan penurunan harga diri dan rasa percaya diri,” ujar Susan Albers.
Baca Juga :

Sharenting dapat mengundang predator anak
Selain berdampak pada kesehatan mental, mengunggah konten anak secara berlebihan juga mengancam keselamatan mereka. Menurut pakar keamanan siber, Susan McLean dalam wawancaranya bersama Sunrise Australia, risiko ini meliputi ancaman predator anak hingga penggunaan wajah anak untuk melatih AI.
“Memang, semua orang ingin berbagi momen penting dengan keluarga dan teman, dan diskusi ini bukan melarang hal itu. Jika dilakukan dalam lingkungan terkendali dengan sedikit orang dewasa terpercaya di akun yang dikunci, itu relatif aman. Namun, predator anak menyukai foto anak-anak yang lucu. Selain itu, AI juga “mengambil” data tersebut untuk melatih berbagai model AI. Begitu kamu mengunggah foto tersebut, kamu kehilangan kendali atasnya,” ujar Susan.
Susan juga mengingatkan bahwa mengunggah foto anak yang tampak belakang pun tetap berisiko. Orang tua harus berhati-hati agar detail dalam foto tersebut tidak disalahgunakan oleh orang jahat untuk melacak lokasi mereka.
“Itu memang lebih anonim, tapi kamu harus mempertimbangkan apa lagi yang ada di dalam foto yang bisa mengidentifikasi anak tersebut. Misalnya, jika orang tuanya cukup dikenal, orang tetap akan tahu siapa anak itu meski hanya tampak belakang. Perhatikan juga lokasi pengambilan foto dan latar belakangnya. Adakah hal lain yang bisa menunjukkan di mana foto itu diambil atau di mana anak tersebut berada pada hari itu?” ujar Susan.
Tanpa disadari, wajah anak bisa jadi bahan untuk melatih AI
Di sisi lain, Meskipun orang tua telah menutupi wajah anak dengan stiker, masalah keamanan tetap mengintai. Pasalnya, menurut Susan, platform tersebut tetap menyimpan versi asli foto yang diunggah, meskipun tampilannya telah disensor bagi pengguna lain.
“Bisa jadi. Artinya, orang yang melihat foto tersebut memang hanya melihat anak dengan wajah tertutup. Namun, platform tempat kamu mengunggahnya tetap menerima versi lengkap dari foto tersebut. Mereka bisa menyimpan, menggunakan, dan mengambilnya untuk melatih AI mereka. Jadi, meski lebih baik daripada tidak ditutup sama sekali, banyak orang salah sangka bahwa ini membuat anak 100 persen aman atau tidak dapat diidentifikasi. Padahal, foto aslinya tetap ada di sistem tanpa sensor tersebut.”
Baca Juga :

Begini cara melindungi anak agar tidak menjadi korban sharenting
Stacey Steinberg, seorang pakar di bidang sharenting, mengingatkan bahwa tidak ada jaminan keamanan penuh saat mengunggah foto atau video anak ke dunia maya.
Sebelum berbagi, orang tua harus mampu menimbang secara saksama antara risiko yang mengintai dan manfaat dari konten tersebut bagi mereka maupun sang anak.
“Bagi keluarga-keluarga yang memang berencana untuk berbagi konten tentang anaknya secara daring, pertimbangkan dulu khalayak yang akan mengonsumsi konten (termasuk, misalnya, seperti apa pengaturan privasi pada akun, apakah orang tua kenal langsung dengan orang-orang yang diterima sebagai teman atau pengikut di media sosial, dll), seberapa jauh informasi yang akan dibagikan (misalnya, lokasi dan informasi lain yang mudah dikenali, seperti logo sekolah), dan apakah isi konten akan memalukan atau merugikan bagi anak, baik sekarang maupun di masa depan,” jelas Stacey Steinberg, mengutip UNICEF Indonesia.
Sharenting: Orang Tua Mengejar Popularitas, Anak Kehilangan Privasi