ACEH TENGAH, JurnalPost.ccom – Di tengah berbagai upaya penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah Provinsi Aceh, masih terdapat daerah yang luput dari jangkauan bantuan dan terjebak dalam isolasi berkepanjangan. Kampung Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi salah satu potret krisis kemanusiaan yang hingga kini belum tertangani secara optimal.
Akses darat menuju Kampung Gewat terputus akibat longsor yang menimbun badan jalan. Kondisi jalan desa yang masih berupa tanah asli dan belum diaspal semakin memperparah situasi, dengan sejumlah titik mengalami retak dan amblas. Akibatnya, mobilitas warga sangat terbatas dan distribusi logistik nyaris tidak memungkinkan dilakukan melalui jalur darat.
Sementara itu, jalur udara yang menjadi satu-satunya harapan masyarakat untuk membuka akses bantuan hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, warga setempat telah menyiapkan titik koordinat pendaratan helikopter sebagai bentuk ikhtiar dan kesiapsiagaan agar bantuan kemanusiaan dapat segera menjangkau wilayah mereka.
Kondisi tersebut disampaikan Kepala Desa Gewat, Andi Suardi, kepada Edy Wahyudi, Koordinator Lapangan (Korlap) Tim Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), yang saat ini tengah menjalankan misi kemanusiaan membantu korban banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang, Selasa (30/12/2025).
“Yang paling mendesak saat ini adalah bantuan beras sebagai makanan pokok bagi 48 kepala keluarga atau sekitar 220 jiwa. Bantuan pemerintah yang sempat kami ambil sendiri ke kota melalui jalan tanah yang licin dan amblas hanya mampu mencukupi kebutuhan hingga sepekan ke depan. Kami khawatir, jika tidak ada bantuan lanjutan, setelah 6 Januari 2026 warga bisa mengalami kekurangan pangan,” ujar Andi saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Kampung Gewat tidak hanya dihuni oleh masyarakat umum, tetapi juga memiliki fasilitas pendidikan berupa SD Negeri 20 Linge. Terisolirnya wilayah ini berdampak langsung pada pemenuhan hak-hak dasar warga, khususnya anak-anak, untuk memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, dan asupan gizi yang layak. Bayi, balita, ibu hamil, serta lansia menjadi kelompok paling rentan dalam situasi darurat yang berkepanjangan ini.
Kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dan respons cepat dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat. Pelibatan unsur TNI, khususnya Angkatan Udara, dinilai sangat penting untuk membuka akses bantuan melalui jalur udara. Keterlambatan penanganan wilayah terisolir berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas dan mendalam.
Selain peran pemerintah, seluruh elemen masyarakat, lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, serta para dermawan diimbau untuk turut mengambil bagian dalam membantu warga Kampung Gewat. Solidaritas dan kepedulian bersama menjadi kunci agar tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam penanganan bencana dan pemulihan pascabencana. [am]
Terisolir Pascabencana, Warga Kampung Gewat Linge Menanti Uluran Tangan Kemanusiaan
