Jobuzo – Siapa sangka obrolan santai soal ‘olahraga’ bisa berakhir di panggung global? Tim Labmino dari Universitas Indonesia (UI) baru saja membuktikan kalau inovasi anak muda Indonesia nggak bisa dipandang sebelah mata. Kacamata AI garapan mereka, Run Sight, kini resmi diakui sebagai salah satu solusi masa depan.
Keluhan soal sulitnya penyandang tunanetra saat melakukan aktivitas fisik seperti lari, ternyata menjadi pemantik bagi Kaindra Rizq Sachio (Ilmu Komputer), Ariq Maulana Malik Ibrahim (Ilmu Komputer), Muhammad Fazil Tirtana (Ilmu Komputer), dan Anthony Edbert Feriyanto (Sistem Informasi), para mahasiswa dari Universitas Indonesia untuk menciptakan sesuatu yang lebih dari sekedar tugas kuliah.

“Salah satu teman olahraga saya punya kesulitan dalam lihat garis track lari. Dari situ sih sebetulnya kita mulai. Kita research, dan ternyata banyak yang mengalami kesulitan itu. Jadi kami yakin, kalau Run Sight sebagai sebuah ‘solusi’ yang mau kita hadirkan ini udah jelas siapa targetnya” ujar Anthony, Product Engineer Run Sight.
Mereka melakukan riset lebih dalam dan menyadari bahwa masalah ini dihadapi oleh banyak penyandang tunanetra. Dari sinilah lahir Run Sight, sebuah kacamata pintar berbasis AI yang bisa mendeteksi jalur dan rintangan agar teman-teman disabilitas bisa berlari dengan aman.
Membangun teknologi canggih sambil tetap kuliah tentu bukan perkara mudah. Tim ini mulai menggarap proyek dari Mei 2025 dan berhasil menyelesaikannya pada September 2025. Rahasianya? Manajemen waktu yang sangat disiplin.
Mereka terbiasa langsung kumpul setelah kelas selesai, biasanya mulai jam 4 sore untuk mencicil proyek Run Sight.
Meski beban kerja mereka sangat tinggi, mereka mengaku tidak merasa stres karena sudah memiliki perencanaan yang matang sejak awal. Hebatnya, proyek ini berjalan sangat mulus sesuai rencana tanpa ada momen ingin menyerah.
Baca Juga :
“Pengguna adalah Raja” Tim ini Belajar dari Kritik
Hal yang paling mereka syukuri bukan cuma soal teknologinya, tapi pelajaran tentang empati.
“Skill yang kami pelajari itu skill untuk memahami user, karena kita harus ngembangin ini tuh bukan sesuai dengan keinginan kita, tapi harus sesuai dengan target yang kita sasari. Jadi kami sebisa mungkin mengadaptasikan ini supaya sesuai banget nih sama keinginan user yang akan menggunakan produk kami ini.” ujar Kaindra Rizq Sachio, AI Engineer Run Sight.
Saat uji coba pertama kali, alat mereka justru dikritik habis-habisan soal desain oleh beberapa pengguna.
Kacamata yang awalnya mereka buat dianggap terlalu tebal. Para pengguna menginginkan desain yang tipis agar tidak menghalangi sisa penglihatan mereka yang masih ada, akhirnya mereka rombak lagi supaya bisa sesuai dengan kebutuhan dan keamanan juga.
Dari feedback itulah, tim Labmino belajar bahwa dalam menciptakan teknologi, ego pembuatnya harus dikesampingkan demi kenyamanan pengguna.
Menembus Top 10 Global di Olimpiade Musim Dingin
Kerja keras itu terbayar lunas di Milan, Italia. Bertepatan dengan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, tim Run Sight resmi dinobatkan sebagai salah satu dari 10 Global Ambassador Samsung Solve for Tomorrow.
Baca Juga :

Mereka bersaing dengan inovator hebat dari berbagai negara seperti Inggris, Turki, hingga Australia. Menjadi satu-satunya wakil Indonesia di jajaran elit tersebut tentu membuat keluarga besar mereka kaget sekaligus bangga.
Bagi mereka, ini adalah perjalanan yang sangat worth it dan membuktikan bahwa ide mahasiswa Indonesia mampu berbicara di level dunia.
Mimpi Besar untuk Inklusi di Indonesia
Setelah mendapatkan gelar ambassador, langkah Run Sight tidak langsung berhenti. Mereka kini mendapatkan dukungan dana dan bimbingan dari Samsung selama dua tahun untuk menyempurnakan alat ini menjadi produk yang siap pakai secara luas.
Harapan mereka cukup mulia. Meski memiliki potensi pasar yang besar, tim Run Sight menegaskan bahwa niat utama mereka bukanlah komersialisasi demi keuntungan pribadi.
Alat ini tidak harus dibeli mahal secara perorangan, tapi bisa disediakan oleh instansi seperti Kementerian Sosial atau Kementerian Olahraga. Selain itu, mereka sangat ingin melihat atlet paralimpik kebanggaan Indonesia seperti Putri Aulia, mencoba dan menggunakan Run Sight di ajang-ajang olahraga yang diikuti.
Bagi tim Run Sight, tujuan akhirnya bukan cuma juara, tapi memastikan semua orang punya hak yang sama untuk berlari. Seperti seruan jargon mereka yaitu “Run for inclusion with us”.
Dari Indonesia ke Panggung Milan: Ini Cerita di Balik Run Sight