Oleh: Putri Susila Wahyudi, Mahasiswa Fakultas Kedokteran.
Jobuzo – Kesehatan mental mahasiswa seringkali hanya dibicarakan sebagai isu sampingan, padahal persoalan ini sangat nyata di lingkungan kampus. Di media sosial, mahasiswa kerap digambarkan sebagai sosok produktif yang aktif mengikuti organisasi, lomba, magang, hingga berbagai kegiatan akademik lain. Standar “mahasiswa ideal” perlahan terbentuk: sibuk, berprestasi, dan mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Sayangnya, di balik tuntutan itu, banyak mahasiswa justru hidup dalam tekanan yang terus menumpuk tanpa benar-benar memiliki ruang untuk berhenti sejenak.
Tekanan akademik menjadi salah satu sumber utama masalah kesehatan mental mahasiswa. Jadwal kuliah yang padat, tugas dengan tenggat berdekatan, tuntutan nilai tinggi, hingga persaingan antarmahasiswa sering kali membuat proses belajar kehilangan makna. Kuliah tidak lagi dipandang sebagai ruang untuk berkembang dan menambah ilmu, melainkan sekadar upaya bertahan agar tidak tertinggal dan memenuhi ekspektasi banyak orang. Dalam kondisi seperti itu, rasa lelah bukan hanya muncul secara fisik, tetapi juga emosional dan mental (burnout). Banyak mahasiswa tetap memaksa diri bekerja meskipun tubuh dan pikirannya sudah berada di batas kemampuan.
Fenomena burnout di kalangan mahasiswa bukan lagi persoalan sepele. Burnout membuat seseorang merasa kehabisan energi, kehilangan motivasi, dan sulit menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai. Dampaknya terlihat dari menurunnya konsentrasi, produktivitas, hingga kualitas hubungan sosial. Ironisnya, kelelahan seperti ini sering dianggap normal dalam kehidupan perkuliahan. Kalimat seperti “namanya juga mahasiswa” atau “capek itu biasa” justru membuat banyak orang menganggap tekanan mental sebagai hal yang harus diterima begitu saja.
Data menunjukkan bahwa persoalan burnout memang serius. Survei kesehatan mental mahasiswa Universitas Negeri Surabaya pada 2024 terhadap 1.219 responden menunjukkan bahwa 21,9% mahasiswa berada pada tingkat gangguan mental berat, sementara 43,5% berada pada kategori sedang. Temuan lain dalam Global Student Survey 2025 menunjukkan bahwa 56% mahasiswa Indonesia mengalami burnout akademik dan 60% mengalami kurang tidur akibat tekanan perkuliahan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kelelahan mental di kalangan mahasiswa bukan sekadar keluhan individu, melainkan masalah yang dialami banyak orang secara bersamaan.
Budaya produktivitas berlebihan ikut memperparah kondisi tersebut. Banyak mahasiswa dan orang di sekitarnya masih menganggap bahwa mahasiswa yang hanya kuliah lalu pulang (sering disebut “kupu-kupu”) sebagai mahasiswa yang kurang aktif atau “cupu”. Akibatnya, muncul tekanan untuk selalu terlihat sibuk agar dianggap berhasil dan hebat. Pada akhirnya, banyak mahasiswa akhirnya mengambil terlalu banyak tanggung jawab sekaligus, seperti mengikuti organisasi, kepanitiaan, perlombaan, magang, bahkan pekerjaan sampingan. Dalam kondisi seperti ini, istirahat sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bersalah ketika memilih tidur lebih awal atau menolak kegiatan tambahan. Tanpa disadari, lingkungan kampus ikut membentuk budaya yang memuji kesibukan, tetapi kurang memperhatikan kondisi psikologis mahasiswa itu sendiri.
Di sisi lain, kurangnya dukungan sosial juga menjadi persoalan penting. Banyak mahasiswa merasa kesulitan mencari tempat bercerita karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi tekanan. Sebagian keluarga hanya melihat hasil akhir berupa nilai dan prestasi tanpa memahami proses yang dijalani selama kuliah. Lingkungan pertemanan juga tidak selalu menjadi ruang yang aman. Akibatnya, mahasiswa sering memilih memendam masalah sendiri hingga kondisi mental mereka semakin memburuk.
Selain itu, stigma terhadap kesehatan mental membuat keadaan menjadi lebih rumit. Sampai sekarang masih ada anggapan bahwa mencari bantuan psikologis adalah tanda kelemahan. Padahal, kesehatan mental seharusnya dipandang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seseorang yang mengalami burnout atau stres berat tidak bisa hanya diminta untuk “lebih semangat” tanpa adanya dukungan yang nyata. Kampus juga sering kali belum sepenuhnya menyadari bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan fasilitas akademik, tetapi juga lingkungan yang lebih manusiawi.
Menurut saya, persoalan kesehatan mental mahasiswa tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan untuk “pandai mengatur waktu”. Masalah ini berkaitan dengan budaya akademik yang terlalu menekankan pencapaian tanpa memperhatikan batas kemampuan manusia. Kampus perlu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan benar-benar responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Dosen juga perlu memahami bahwa setiap mahasiswa memiliki kapasitas yang berbeda. Sementara itu, mahasiswa sendiri perlu belajar menerima bahwa beristirahat bukan berarti gagal atau tidak produktif.
Pada akhirnya, kuliah seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, bukan tempat yang perlahan menguras kesehatan mental seseorang. Prestasi memang penting, tetapi kesehatan diri tetap harus menjadi prioritas. Tidak ada pencapaian akademik yang layak dibayar dengan hilangnya ketenangan hidup. Jika lingkungan kampus terus memelihara budaya “harus kuat” tanpa memberi ruang untuk pulih, maka burnout akan terus dianggap biasa, padahal dampaknya bisa sangat serius bagi masa depan mahasiswa.
Referensi
1. Subdirektorat Mitigasi Crisis Center Universitas Negeri Surabaya (SMCC UNESA). (2024). Statistik Kesehatan Mental Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Tahun 2024.
Diakses dari: SMCC UNESA
2. Chegg. (2025). Global Student Survey 2025.
Burnout Dampak Tekanan Akademik Mahasiswa