Jobuzo, Jakarta – Sobat Molis…. Kalau belakangan Anda merasa harga kopi, sembako, hingga tiket hiburan makin bikin dompet berkeringat, bersiaplah. Kini giliran motor listrik yang berpotensi ikut naik harga akibat dolar AS yang makin perkasa terhadap rupiah.
Nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS mulai membuat pelaku industri motor listrik deg-degan. Soalnya, sebagian besar komponen motor listrik yang beredar di Indonesia masih datang dari China. Akibatnya, ketika dolar naik, biaya produksi langsung ikut “ngegas”.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi, mengakui kondisi tersebut membuat para produsen harus menghitung ulang biaya produksi mereka.
“Kalau nilai tukar rupiahnya melemah, ya berat sekarang. Sebagian besar komponen masih impor,” ujar Budi.
Di kalangan agen pemegang merek (APM), obrolan soal kenaikan harga ternyata sudah mulai ramai. Bahkan, beberapa produsen disebut sudah memberikan sinyal akan menaikkan harga motor listrik dalam waktu dekat jika rupiah belum juga kembali bertenaga.
Artinya, motor listrik yang selama ini dikenal sebagai kendaraan hemat biaya operasional bisa saja segera mengalami “upgrade harga”, bukan karena fitur baru, tetapi karena kurs dolar yang makin galak.
Netizen pun bisa jadi mulai bercanda:
“Motor listriknya tetap hemat listrik, yang boros sekarang kurs dolarnya.”
Meski demikian, belum semua produsen mengambil langkah yang sama. Ada yang masih memilih bertahan dan menunggu perkembangan pasar sambil berharap rupiah segera kembali menguat. Namun jika tekanan kurs terus berlanjut, kenaikan harga dinilai sulit dihindari.
Sederhananya begini:
- Dolar naik biaya impor naik.
- Biaya impor naik biaya produksi naik.
- Biaya produksi naik harga motor listrik ikut naik.
- Harga motor listrik naik calon pembeli mulai menghitung cicilan sambil menarik napas panjang.
Bagi masyarakat yang sudah lama mengincar motor listrik, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mulai serius mempertimbangkan pembelian. Sebab jika rupiah belum juga “move on” dari tekanan dolar, harga motor listrik bisa ikut melaju lebih cepat daripada akselerasinya.
Kesimpulannya: motor listrik masih ramah lingkungan, tetapi kurs dolar saat ini belum tentu ramah kantong.
(Ant)
Motor Listrik Terancam Ikut “Ngecas” Harga Gara-Gara Dolar Tembus Rp18.000
