Oleh: Nur Aini Irbah Rosyaadah (Mahasiswa Sains Agribisnis IPB University), Salma Arifah Hanun (Mahasiswa Sains Agribisnis IPB University), Nihlatul Maula (Mahasiswa Sains Agribisnis IPB University), Bagus Apriano (Mahasiswa Sains Agribisnis IPB University), Dr. Ir. Burhanuddin (Dosen Sains Agribisnis FEM IPB University)
Jobuzo – Indonesia memang memiliki julukan negara agraris dengan komoditas pangan yang berlimpah, tetapi nyatanya masih terpaksa mengimpor. Dalam konteks tantangan ini, food estate muncul sebagai model inovasi agribisnis skala besar yang menggabungkan investasi perusahaan, teknologi pertanian modern, dan kebijakan pemerintah dalam satu ekosistem terpadu. Akan tetapi, terobosan ini membawa dilema yang kompleks: di satu sisi mendorong pertumbuhan usaha dan peningkatan produksi pangan dalam negeri, sementara di sisi lain program ini justru mengancam kelestarian lingkungan. Sekarang, pertanyaan krusialnya, sejauh mana inovasi ini benar-benar menjawab tantangan ketahanan pangan dan apakah prinsip zero waste untuk melindungi lingkungan sudah menjadi bagian nyata dari pelaksanaannya?
Food Estate: Inovasi Agribisnis atau Pengulangan Kesalahan Masa Lalu?
Food estate merupakan sebuah terobosan dalam model kewirausahaan agribisnis di Indonesia. Dengan menggandeng kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan swasta, food estate masuk ke dalam sektor agribisnis paling kurang menguntungkan, yaitu sektor budidaya. Namun, model ini tidak hanya berhenti pada menghasilkan komoditas segar, tetapi juga mengintegrasikan seluruh rantai dalam satu kawasan. Di sisi lain, food estate menghadirkan mekanisasi skala besar, penggunaan varietas unggul, dan sistem irigasi modern yang diharapkan meningkatkan produktivitas secara signifikan. Kerangka inovasi inilah yang membedakan food estate dari program pertanian konvensional, setidaknya secara konseptual.
Namun, program ini bukanlah sesuatu yang baru. Konsep food estate sudah ada sejak zaman orde baru melalui Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar. Namun, hasil yang ada bukan hamparan sawah yang produktif, melainkan jutaan hektar lahan gambut yang rusak parah dan konflik sosial. Warisan ini ternyata ini diturunkan hingga kepemimpinan saat ini, melalui Program Strategis Nasional (PSN). Pola yang berulang ini perlu dilihat secara kritis: apakah kali ini inovasinya benar-benar berbeda, atau hanya ambisi lama yang dibungkus dengan narasi baru?
Papua sebagai Salah Satu Sasaran Program
Papua merupakan kawasan dengan pusat keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Bagi masyarakat adat di sana, hutan adalah ibu kehidupan yang menopang seluruh eksistensi mereka. Namun para perencana kebijakan melihat Papua dengan kacamata yang berbeda, ratusan ribu hektar lahan yang dinilai “kosong” dan “belum produktif”, siap diubah menjadi wilayah komoditas strategis.
Merauke, Papua Selatan yang telah ditetapkan sebagai kawasan industri gula dan bioetanol yang terintegrasi dengan sasaran investasi sebesar puluhan triliun hingga tahun 2029. Pemerintah sudah menyiapkan pabrik-pabrik gula, bioetanol, dan pembangkit listrik biomassa dengan dukungan alat dan mesin pertanian terbarukan sebagai dasar dari transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern yang berbasis teknologi. Tidak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan rencana pembangunan infrastruktur wilayah mulai dari jalan, pelabuhan, hingga bandara (Nurmutia, 2026).
Dari perspektif kewirausahaan, model ini memang menciptakan peluang bisnis yang sangat luas: penghematan biaya produksi melalui mekanisasi, jaminan akses pasar, dan potensi ekspor untuk komoditas strategis. Ini terbukti dengan terlibatnya 10 perusahaan besar dan BUMN dalam proyek ini. Memang, bila ditelusuri lebih jauh, mereka adalah pihak yang paling diuntungkan dengan akses akses terhadap sumber daya alam yang sebelumnya tidak terjangkau secara ekonomis serta risiko yang sebagian besar dialihkan kepada anggaran negara dan lingkungan sekitar. Pemerintah pusat juga mendapatkan keuntungan politis dalam bentuk narasi keberhasilan ketahanan pangan, meski hasilnya di lapangan belum tentu sejalan. Petani lokal dan masyarakat adat, di sisi lain, justru berada di posisi paling rentan dalam skema distribusi manfaat ini.
Rencana VS Pelaksanaan Nyata
Pelaksanaan program di lapangan mengungkap jurang yang lebar antara rencana dan realitas. PT Medco, salah satu perusahaan pengelola komoditas padi sejak periode MIFEE 2011, menunjukkan bahwa keuntungan di Merauke nyatanya sangat kecil. Lebih mencolok lagi, lahan yang dikelola Medco menyusut drastis dari ratusan hektar menjadi hanya delapan hektar, akibat rendahnya tingkat profitabilitas. Ini adalah sinyal keras: jika perusahaan sebesar Medco pun tidak mampu menjaga keberlangsungan operasional di sana, bagaimana nasib investasi-investasi baru yang lebih ambisius?
Kondisi tanah, infrastruktur yang belum memadai, serta jarak distribusi yang jauh adalah hambatan struktural yang seringkali diabaikan dalam tahap perencanaan awal. Yang lebih kritis, ketika perusahaan memilih mundur karena tidak menguntungkan, yang tersisa adalah lahan yang sudah dibuka, ekosistem yang terganggu, dan masyarakat yang kehilangan akses atas sumber daya alam mereka sementara tidak ada satupun mekanisme pemulihan yang memadai.
Inovasi yang Belum Selesai: Antara Zero Waste, Kritik Kinerja, dan Jalan ke Depan
Inilah momen ketegangan terbesar: antara zero profit dan zero waste. Tanpa keuntungan yang memadai, tidak ada perusahaan yang dapat bertahan dan berinvestasi jangka panjang. Namun tanpa komitmen serius terhadap zero waste memanfaatkan seluruh hasil produksi dan sisa pengolahan secara optimal biaya ekologis dan sosial yang tidak tercatat dalam laporan keuangan perusahaan akan terus ditanggung oleh masyarakat dan ekosistem.
Dalam konteks industri tebu di Merauke, prinsip zero waste seharusnya bukan sekadar opsi, melainkan syarat minimum keberlanjutan: bagasse diolah menjadi energi, molases menjadi bioetanol, dan filter cake menjadi kompos. Rantai pemanfaatan ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal pembuktian bahwa inovasi agribisnis ini sungguh-sungguh berbeda dari proyek-proyek ekstraktif masa lalu yang meninggalkan kerusakan tanpa pemulihan.
Kegagalan food estate sebelumnya berakar pada pendekatan yang tidak menyeluruh: lahan dibuka lebar-lebar tanpa dukungan teknologi, pendampingan berkelanjutan, maupun rencana penanganan limbah yang jelas. Evaluasi kritis ini menjadi sangat penting karena inovasi agribisnis sejati tidak diukur dari luas lahan yang dikuasai, melainkan dari kualitas pengelolaan, ketepatan pemilihan lokasi berdasarkan kajian agroklimat yang mendalam, partisipasi aktif masyarakat setempat sebagai mitra bukan sekadar objek, serta sistem pemantauan dampak lingkungan yang terukur dan transparan. Ke depan, inovasi ini perlu diperkuat melalui kemitraan inti plasma yang setara antara BUMN dan petani lokal, integrasi kearifan lokal dalam sistem pertanian modern, dan yang paling penting: penerapan nyata prinsip zero waste yang mengubah seluruh sisa produksi menjadi nilai ekonomi, bukan beban lingkungan.
Food estate adalah inovasi agribisnis yang lahir dari kebutuhan nyata dan memiliki logika ekonomi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun sejauh ini, inovasi tersebut belum sepenuhnya menjawab tantangan kawasan: kondisi tanah, jarak distribusi, ketersediaan infrastruktur, dan hak masyarakat adat masih menjadi hambatan yang belum terselesaikan. Prinsip zero waste yang seharusnya menjadi penanda pembeda inovasi ini pun belum tampak sebagai komitmen operasional yang nyata. Keberhasilan tidak akan datang dari besarnya ambisi atau skala investasi semata, melainkan dari kedewasaan perencanaan, kejujuran dalam mengevaluasi kinerja, keseimbangan kepentingan antar pihak, dan keberanian untuk menempatkan keberlanjutan ekologis bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai prasyarat. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah food estate layak dilaksanakan, tetapi apakah kita cukup serius untuk menjalankannya dengan benar agar ketahanan pangan nasional dan kelangsungan lingkungan dapat tumbuh bersama, bukan saling mengorbankan.
Sumber:
Nurmutia, E. Food Estate Merauke Bakal Jadi Motor Ketahanan Pangan, Ini Kata Mentan. cnbcindonesia.com/news/20260204121243-4-708074/food-estate-merauke-bakal-jadi-motor-ketahanan-pangan-ini-kata-mentan.
Food Estate: Antara Ambisi Ketahanan Pangan, Prinsip Zero Waste, dan Realitas di Lapangan