Oleh: Kendra Luvena Cintanayla
Jakarta, Jobuzo – Program Youth Ambassador kini semakin ramai muncul di media sosial. Tren ini terlihat kuat di bidang beauty, fashion, dan lifestyle. Berbagai unggahan bertuliskan “Open Recruitment” dari komunitas hingga perusahaan besar kerap menghiasi beranda media sosial dan menarik perhatian mahasiswa.
Bagi mahasiswa, program seperti ini tidak hanya dipandang sebagai ajang eksistensi. Banyak dari mereka melihat Youth Ambassador sebagai peluang untuk menambah pengalaman, memperluas relasi, hingga membangun personal branding di era digital.
Fenomena ini juga dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan untuk mendekatkan brand mereka dengan anak muda. Salah satunya PT Paragon Technology and Innovation yang dikenal lewat sejumlah brand lokal, seperti Wardah, Kahf, dan Tavi.
Melalui program ambassador, mahasiswa tidak lagi hanya ditempatkan sebagai konsumen. Mereka ikut menjadi bagian dari identitas brand, terutama lewat konten yang mereka buat dan unggah di media sosial.
Brand Wardah dan Tavi, misalnya, memiliki program Youth Ambassador yang cukup diminati mahasiswa. Wardah dikenal dengan Wardah Youth Ambassador atau WYA yang telah berjalan dari tahun ke tahun. Sementara Tavi menghadirkan program Circle of Tavi yang baru diluncurkan belakangan ini.
Program tersebut umumnya menyasar mahasiswa perempuan yang memiliki ketertarikan pada dunia konten kreatif, beauty, dan media sosial. Peserta biasanya diminta aktif menggunakan Instagram atau TikTok, memiliki pengalaman membuat konten, serta mampu menunjukkan kreativitas melalui video perkenalan menggunakan produk brand terkait.
Circle of Tavi Jadi Program Baru Paragon
Circle of Tavi menjadi salah satu program Youth Ambassador terbaru dari Tavi. Program ini baru berjalan sekitar dua minggu, namun sudah mulai menarik perhatian anak muda, khususnya mahasiswa yang aktif di media sosial.
Brand Activation PT Paragon, Aisyah Nurul Fitri, mengatakan Circle of Tavi dibentuk untuk membangun komunitas yang dapat memberi manfaat bagi brand maupun para anggotanya.
“Fokus utama kita adalah membangun demand tersebut,” kata Aisyah dalam wawancara.
Aisyah menjelaskan, program ini tidak hanya berorientasi pada promosi produk. Tavi juga berupaya menghadirkan ruang komunitas yang memungkinkan para peserta mendapatkan pengalaman, produk, relasi, dan kegiatan secara gratis.
Sebaliknya, para peserta turut membantu membangun eksposur brand melalui konten yang mereka buat di akun media sosial masing-masing.
Aisyah sendiri menjadi salah satu pihak yang mengelola Circle of Tavi di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, hingga Bali.
Menurut Aisyah, banyaknya program serupa dari berbagai brand membuat Tavi perlu menghadirkan inovasi agar tetap relevan dengan anak muda. Ia melihat antusiasme mahasiswa sebagai salah satu kekuatan utama yang membuat program ini memiliki peluang untuk berkembang.
“Aku riset bahwa mahasiswa mengikuti kegiatan seperti ini justru untuk stress relief mereka. Karena mungkin mereka udah capek di kampus, udah capek belajar terus, jadi mengikuti program ini lebih ke pengembangan diri mereka,” ujar Aisyah.
Ia menegaskan, sejak awal peserta Circle of Tavi sudah diberi pemahaman bahwa program ini tidak hanya bertujuan menguntungkan brand. Program tersebut juga diharapkan memberi manfaat bagi komunitas dan anak muda yang terlibat di dalamnya.
Mahasiswa Dinilai Kreatif dan Dekat dengan Gen Z
Keterlibatan mahasiswa dalam program Youth Ambassador bukan tanpa alasan. Anak muda dinilai memiliki kreativitas, gaya komunikasi, dan pemahaman terhadap tren media sosial yang lebih dekat dengan target pasar brand.
Bagi Tavi, mahasiswa menjadi kelompok yang relevan karena mampu menciptakan konten dengan pendekatan yang lebih segar dan autentik.
“Udah pasti ya, anak-anak muda itu kreatif, idenya juga sangat bagus. Karena sebenarnya Tavi sendiri segmentasinya ke anak-anak Gen Z yang suka explore. Karena ya itu tadi, ide cemerlangnya oke-oke banget,” tutur Aisyah.
Menurutnya, kemampuan anak muda dalam membaca tren dan mengemas pesan secara ringan menjadi nilai penting bagi brand. Konten yang dibuat mahasiswa juga dinilai lebih dekat dengan keseharian audiens dibandingkan promosi formal dari perusahaan.
Di sisi lain, program seperti ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar. Mereka dapat mengembangkan kemampuan membuat konten, membangun komunikasi publik, hingga memperluas jaringan di dunia digital.
Aisyah mengaku pernah merasakan langsung manfaat program serupa saat menjadi bagian dari Wardah Youth Ambassador.
“Setelah aku ikut WYA, kita diarahkan untuk membuat konten. Nah ternyata dari konten-konten yang aku buat cukup naik, dan itu ternyata dilirik brand lain,” ucapnya.
Pengalaman itu membuat Aisyah melihat program Youth Ambassador sebagai batu loncatan bagi anak muda. Tidak hanya untuk mengenal brand, tetapi juga untuk membuka peluang baru di industri kreatif dan media sosial.

Media Sosial Jadi Panggung Baru
Maraknya program Youth Ambassador tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial. Melalui Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya, mahasiswa kini tidak hanya membagikan aktivitas pribadi, tetapi juga pencapaian, pengalaman, hingga keterlibatan mereka dalam sebuah brand.
Program Youth Ambassador kemudian menjadi bagian dari budaya baru di kalangan mahasiswa. Kegiatan yang sebelumnya hanya dipahami sebagai promosi brand, kini ikut membentuk cara anak muda membangun citra diri dan pengalaman profesional.
Eksistensi digital juga menjadi faktor penting. Program yang menawarkan konten kreatif, acara eksklusif, kolaborasi, dan relasi dengan brand besar kerap dipandang memiliki nilai prestisius.
Namun, Aisyah menilai program seperti Circle of Tavi tidak seharusnya berhenti pada eksposur media sosial. Menurutnya, program ini perlu memberi pengalaman yang benar-benar dirasakan oleh peserta.
“Harapannya adalah teman-teman jatuh cinta sama Tavi karena bukan hanya sekadar produknya saja, tapi kegiatan-kegiatannya dan background di belakang itu,” kata Aisyah.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Tavi ingin membangun kedekatan yang lebih personal dengan komunitasnya. Bukan hanya lewat produk, tetapi juga melalui nilai, aktivitas, dan pengalaman yang dibangun bersama.
Bukan Sekadar Promosi Brand
Jika dilihat sekilas, Youth Ambassador tampak seperti program promosi yang melibatkan mahasiswa sebagai wajah brand. Namun, di dalamnya terdapat proses belajar yang juga penting bagi peserta.
Mahasiswa belajar membangun komunikasi publik, mengelola personal branding, membuat konten, hingga memahami bagaimana brand bekerja di ruang digital. Mereka juga dituntut konsisten menjaga kehadiran di media sosial.
Di tengah dinamika itu, Tavi mencoba menempatkan program Youth Ambassador sebagai ruang yang memberi manfaat dua arah. Brand memperoleh eksposur dan kedekatan dengan pasar anak muda, sementara peserta mendapat pengalaman, relasi, dan peluang pengembangan diri.
Dengan begitu, keterlibatan mahasiswa dalam program seperti Circle of Tavi tidak hanya berhenti pada kampanye digital. Ada proses pembentukan pengalaman dan kedekatan yang perlahan tumbuh melalui aktivitas yang dijalani bersama.
Sumber:
Wawancara dengan Aisyah Nurul Fitri, Brand Activation PT Paragon.
Ambisi Brand Lokal di Balik Tren Youth Ambassador