BERLIN, Jobuzo – Gelombang panas ekstrem kembali melanda sebagian besar wilayah Eropa, mulai dari kawasan Mediterania hingga negara-negara Skandinavia. Suhu tinggi yang berlangsung selama berpekan-pekan memecahkan sejumlah rekor lokal, memperluas kebakaran hutan, memicu badai dahsyat, serta menurunkan permukaan air sungai utama di berbagai negara.
Minimnya curah hujan turut memperburuk kondisi. Permukaan sungai yang menyusut mulai mengganggu transportasi perairan, aktivitas industri, sektor pertanian, hingga kualitas air. Para ahli meteorologi juga memperingatkan kemungkinan munculnya gelombang panas lanjutan pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026.
Gelombang panas kali ini bahkan menjangkau kawasan yang lebih jauh ke utara dibandingkan biasanya. Norwegia mengalami cuaca panas ekstrem sejak pertengahan Juli. Sebanyak 10 stasiun cuaca di negara tersebut mencatat rekor suhu lokal dalam sepekan terakhir.
Hingga Jumat (24/7/2026), sedikitnya 40 stasiun cuaca di Norwegia telah memenuhi kriteria resmi gelombang panas. Untuk pertama kalinya, suhu di atas 30 derajat Celsius juga tercatat di daerah yang berada pada ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut.
Eropa Selatan Tembus 43 Derajat Celsius
Meski panas telah meluas hingga Skandinavia, kawasan Eropa Selatan masih menjadi pusat suhu paling ekstrem.
Di Yunani, temperatur udara di sejumlah wilayah melampaui 43 derajat Celsius pada Rabu (22/7/2026). Hasil pencitraan termal di Athena memperlihatkan suhu permukaan di beberapa bagian kota mendekati 60 derajat Celsius.
Suhu permukaan yang lebih tinggi bahkan terdeteksi di Stadion Panathenaic, yakni mencapai sekitar 75 derajat Celsius. Sementara itu, Siprus memperkirakan suhu maksimum mencapai 44 derajat Celsius pada Kamis (23/7/2026).
Spanyol juga mulai menghadapi gelombang panas ketiganya pada musim panas tahun ini. Suhu udara di beberapa daerah tercatat menembus 42 derajat Celsius.
Para ahli meteorologi memperkirakan sistem tekanan tinggi yang memicu panas ekstrem tersebut dapat bergerak ke arah utara. Kondisi ini berpotensi membawa suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih ke wilayah Jerman bagian barat.
Gelombang panas juga meningkatkan peluang terjadinya “malam tropis”, yaitu kondisi ketika suhu pada malam hari tetap tinggi dan tidak memberikan kesempatan bagi tubuh maupun lingkungan untuk mendingin.
Sejumlah model prakiraan cuaca menunjukkan gelombang panas ekstrem berikutnya berpotensi terjadi pada akhir Juli hingga awal Agustus. Suhu di sebagian wilayah Eropa Tengah diperkirakan dapat mendekati 40 derajat Celsius.
Kebakaran Hutan Meluas di Spanyol
Panas berkepanjangan dan kondisi lahan yang kering membuat risiko kebakaran hutan meningkat di berbagai wilayah Eropa.
Di Spanyol, kebakaran La Mierla di Guadalajara telah menghanguskan lebih dari 35.000 hektare lahan. Kebakaran tersebut tercatat sebagai kebakaran hutan terbesar kedua di Spanyol sepanjang abad ini.
Kebakaran lain juga terjadi di Toledo, Madrid, Leon, dan Huelva. Ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menghindari wilayah yang terdampak api dan asap.
Berdasarkan data sistem pemantauan kebakaran Uni Eropa, Copernicus, lebih dari 123.000 hektare lahan telah terbakar di Spanyol sepanjang 2026. Angka tersebut sekitar empat kali lebih luas dibandingkan area yang terbakar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Portugal juga masih mempertahankan status siaga tinggi. Sejumlah wilayah negara itu berada pada kategori risiko kebakaran hutan “sangat tinggi” hingga “maksimum”.
Portugal tercatat sebagai negara dengan proporsi wilayah terbakar tertinggi di Eropa pada tahun ini. Pemerintah setempat terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi potensi munculnya titik api baru.
Di Yunani, pemerintah melaporkan sedikitnya 51 kebakaran lahan pertanian dan kawasan hutan terjadi dalam kurun waktu 24 jam. Sebagian besar kebakaran tersebut berhasil dikendalikan sebelum meluas.
Pegunungan Alpen Semakin Berbahaya
Suhu tinggi juga mengubah kondisi alam di kawasan Pegunungan Alpen.
Klub Alpin Swiss memperingatkan bahwa pencairan salju dan permafrost atau tanah beku abadi telah meningkatkan risiko bagi para pendaki gunung.
Pencairan tersebut dapat membuka celah-celah es yang sebelumnya tertutup salju. Selain itu, lereng pegunungan menjadi kurang stabil dan risiko runtuhan batu semakin tinggi.
Para pendaki diminta mempertimbangkan perubahan kondisi jalur dan memperhatikan peringatan keselamatan sebelum melakukan aktivitas di kawasan pegunungan.
Badai Supercell Terjang Bosnia
Di Bosnia dan Herzegovina, cuaca panas ekstrem selama beberapa hari diikuti kemunculan badai hebat.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa pertemuan massa udara panas dan dingin telah memicu terbentuknya badai supercell. Badai tersebut membawa angin kencang, hujan es berukuran besar, dan curah hujan lebat.
Fenomena itu menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian dan sejumlah fasilitas infrastruktur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelombang panas tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran, tetapi juga dapat memicu cuaca ekstrem lainnya.
Permukaan Sungai Turun ke Titik Terendah
Cuaca panas dan minimnya hujan turut menyebabkan permukaan sejumlah sungai utama di Eropa mengalami penyusutan tajam.
Di Kroasia, permukaan air Sungai Danube dan Sungai Drava turun hingga mencapai level terendah yang pernah tercatat. Penyusutan tersebut menyingkap bangkai kapal dan sejumlah peninggalan perang yang sebelumnya terendam air.
Lebih jauh ke bagian hulu, rendahnya permukaan Sungai Rhine di Jerman mulai mengganggu transportasi kargo. Sungai Rhine merupakan salah satu jalur pelayaran komersial tersibuk di Eropa.
Pada titik pengukuran utama di Kaub, dangkalnya permukaan air membuat banyak kapal hanya dapat mengangkut sekitar sepertiga dari kapasitas normal.
Pembatasan muatan menyebabkan biaya pengangkutan barang meningkat. Kenaikan biaya tersebut dikhawatirkan akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.
Belanda Hadapi Kelangkaan Air
Tekanan serupa juga terjadi di Belanda. Pemerintah menaikkan status krisis air menjadi kondisi “kelangkaan air aktual”.
Penurunan debit sungai mulai berdampak terhadap transportasi perairan darat, produksi industri, dan kegiatan pertanian.
Rendahnya permukaan air juga memperburuk kualitas air dan mempercepat masuknya air laut ke perairan tawar atau salinisasi.
Di sejumlah wilayah, kondisi tersebut menyebabkan kematian ikan dan meningkatkan pertumbuhan populasi alga secara berlebihan.
Otoritas di berbagai negara Eropa kini terus memantau perkembangan suhu, kebakaran hutan, serta ketersediaan air. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, menjaga kecukupan cairan, dan mengikuti instruksi keselamatan dari pemerintah setempat.
Panas Ekstrem Melanda Eropa, Kebakaran Meluas dan Sungai Menyusut