Oleh: Andi Bahrun
Dosen UHO dan Ketua PERHIMPI Sultra
Jobuzo – Keanggotaan UCLG ASPAC International merupakan langkah penting dalam meningkatkan peran dan pengakuan Kendari di kancah internasional. Saat penyelenggaraan forum UCLG ASPAC, Delegasi negara peserta United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dan memperkuat kolaborasi antar kota di kawasan Asia Pasifik dalam menghadapi perubahan iklim global yang ditanda penanaman pohon di kawasan Kebun Raya Kenda. Disamping itu Pemerintah Kota Kendari menandatangani kerja sama dengan Kota Yiwu, Tiongkok, sebagai suatu peluang jaringan perdagangan internasional serta rintisan kerjasama lainnya. Momentum ini diharapkan dapat membawa harapan baru bagi Kendari untuk berkembang menjadi kota modern yang kompetitif, sekaligus berfungsi sebagai pusat layanan dan penggerak ekonomi hijau di Indonesia bagian timur.
Delagasi UCLG ASPAC tinggalkan Kota Kendari dan Banjir hadir tanpa undangan di wilayah kota Kendari, Banjir yang masih terjadi di beberapa bagian kota menunjukkan bahwa pembangunan perkotaan belum sepenuhnya selaras dengan daya dukung lingkungan. Situasi ini bukan lagi sekadar masalah tahunan yang berulang, melainkan menjadi suatu realita terpampang jelas bahwa pembangunan perkotaan, pengelolaan lingkungan, dan perencanaan tata ruang harus ditingkatkan secara lebih sistematis dan berkelanjutan, dengan tetap meletakan perhatian khsusus terkait mitigasi risiko ekologi.
Kota yang memposisikan diri sebagai pusat ekonomi hijau harus mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Masalah banjir yang terjadi di Kendari tidak terlepas dari konversi fungsi lahan yang semakin masif, berkurangnya luas lahan penyerapan air, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, kurangnya kapasitas drainase, pembangunan kawasan permukiman yang tidak terencana dengan baik, serta dampak perubahan iklim global yang semakin nyata. Jika masalah tersebut tidak segera ditangani dengan serius, maka dapat berdampak pada terganggunya investasi, menurunnya kenyamanan hidup masyarakat, dan melemahnya citra Kendari sebagai kota yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Oleh karena itu, momentum pasca-pelaksanaan UCLG ASPAC harus dijadikan tolok ukur baru dalam membangun arah pembangunan kota yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko, beradaptasi terhadap perubahan, dan mendukung kelestarian lingkungan. Kendari membutuhkan kebijakan mitigasi dan adaptasi yang tidak hanya ditujukan pada penanganan teknis jangka pendek, tetapi juga dirumuskan dengan visi jangka panjang untuk menciptakan kota yang aman, nyaman, dan tangguh di masa depan. Dalam konteks ini, jejaring yang telah terbangun khususnya dengan kota dan peserta forum UCLG ASPAC dari dalam dan laur negri dapat dimanfaatkan.
Langkah pertama yang perlu diperkuat adalah perencanaan tata ruang berbasis ekologi. Kendari perlu melindungi kawasan resapan air, daerah aliran sungai, hutan kota, hingga kawasan pesisir dari tekanan pembangunan yang tidak terkendali. Semua kegiatan pembangunan juga harus mengedepankan konsep ramah lingkungan, meminimalkan risiko bencana, dan mendukung pengurangan emisi karbon.
Kedua, prioritas utama dalam pembangunan kota adalah peningkatan sistem drainase dan pengendalian banjir. Kendari membutuhkan sistem drainase terpadu untuk mengantisipasi curah hujan ekstrem akibat dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Upaya jangka panjang yang dapat dilakukan adalah normalisasi sungai, tambahan pembangunan kolam retensi, sumur resapan, waduk perkotaan, dan penataan ulang kawasan pesisir untuk mengurangi erosi ekologi dan limpasan air.
Ketiga, pengembangan ruang terbuka hijau harus dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan. Dalam pembangunan kota modern, ruang terbuka hijau bukan hanya fitur yang menarik, tetapi telah menjadi komponen kunci dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan bahaya banjir. Pemerintah dan masyarakat serta dengan para pihak perlu mendiskusikan dan mempertimbangkan pengembangan taman kota, penanaman pohon, rehabilitasi hutan mangrove, serta penghijauan kawasan pesisir.
Keempat, Kendari perlu merumuskan konsep kota hijau cerdas di mana kemajuan teknologi dipadukan dengan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan. Penerapan teknologi digital untuk pemantauan cuaca, sistem peringatan dini banjir, pengelolaan sampah, dan pengawasan tata ruang akan membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data. Kota yang siap menghadapi masa depan adalah kota yang mampu mengintegrasikan inovasi teknologi dan perlindungan lingkungan secara seimbang.
Kelima, strategi adaptasi perubahan iklim harus menjadi prioritas utama dalam arah pembangunan daerah. Pemerintah daerah perlu menyiapkan peta kerentanan bencana perkotaan, membangun kapasitas dan ketahanan masyarakat, serta membangun infrastruktur yang kuat untuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Adaptasi perubahan iklim bukan hanya tentang merespons dampak bencana yang terjadi satu demi satu, tetapi juga tentang mempersiapkan kota agar lebih siap dan tangguh menghadapi berbagai ancaman lingkungan di masa depan.
Selain itu, pembangunan ekonomi hijau di Kendari harus diarahkan ke sektor-sektor yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Kendari memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi hijau, perikanan berkelanjutan, pariwisata maritim, ekonomi kreatif, dan industri jasa berbasis digital. Pembangunan sektor-sektor tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan dapat mengancam lingkungan.
Penting juga untuk melibatkan komunitas bisnis, masyarakat sipil, pendidikan tinggi, dan masyarakat lokal dalam partisipasi aktif untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Kampus dapat menjadi pusat penelitian dan inovasi lingkungan, sektor bisnis dapat menjadi mesin investasi hijau, dan masyarakat dapat menjadi penggerak utama pengembangan budaya lingkungan. Kota yang tangguh tidak dapat dibangun oleh pemerintah saja, tetapi melalui kolaborasi dari semua elemen masyarakat.
Acara UCLG ASPAC pada dasarnya telah membuka mata dunia terhadap Kendari. Namun, kesuksesan sebuah kota global tidak hanya diukur dari kemampuannya menjadi tuan rumah forum internasional, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lingkungan yang aman, sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi para warganya.
Oleh karena itu, tantangan utama Kendari ke depan adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan penerapan strategi mitigasi dan adaptasi yang konsisten dan berkelanjutan, Kendari berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru di wilayah timur Indonesia dan bahkan menjadi kota hijau modern yang tangguh dan kompetitif di tingkat internasional.
Banjir Jadi Tantangan Kendari Wujudkan Ekonomi Hijau Pasca UCLG ASPAC