Jobuzo – Evan Raditya resmi melepas single terbarunya berjudul “o my KARMIC THREAD, my second skin” (KARMIC THREAD). Karya ini menjadi ruang eksplorasi bagi Evan dalam memadukan pendekatan sains dan mitologi reinkarnasi ke dalam balutan musik symphonic rock yang megah dengan sentuhan pop modern.
Sejak awal, Evan memang dikenal tertarik pada tema-tema besar yang sarat perenungan—mulai dari teori ilmiah, mitos, hingga pertanyaan tentang eksistensi. Di lagu ini, ia menghadirkan konsep bahwa ada hal-hal yang tak kasatmata, namun nyata terasa. Analogi cahaya yang baru terlihat ketika tersebar menjadi fondasi metafora emosional yang ia bangun.
KARMIC THREAD berangkat dari gagasan tentang hubungan yang mungkin bukan sekadar pertemuan biasa. Bagaimana jika dua jiwa terikat dalam sebuah loop yang terus berulang? Ide tersebut diterjemahkan ke dalam struktur lagu yang tidak linear. Repetisi lirik menjadi elemen penting, memperkuat kesan lingkaran yang terus berputar tanpa benar-benar usai.
Penggunaan istilah Tyndall effect menjadi salah satu detail unik dalam lagu ini. Secara ilmiah, efek tersebut menjelaskan bagaimana cahaya tampak karena hamburan partikel kecil. Evan mengadaptasi konsep itu sebagai metafora cinta dan kehilangan—yang justru terasa jelas saat ada jarak dan luka.
Dalam proses produksinya bersama Dyljon, Evan menghadapi tantangan menyelaraskan visi konseptual dengan pendekatan musikal agar tetap emosional dan tidak terjebak pada sisi teknis semata. Menariknya, seluruh proses kreatif hingga pengembangan konsep lagu ini rutin ia bagikan melalui Instagram @evanraditya, membuka ruang bagi pendengar untuk menyaksikan perjalanannya dari awal hingga final.
Dari sisi lirik, “karmic thread” menggambarkan benang takdir yang mengikat dua jiwa melampaui ruang dan waktu. Namun narasi lagu tidak berhenti pada romantisme takdir. Pada chorus kedua, muncul tekad untuk memutus lingkaran tersebut. Sementara di chorus ketiga, hadir kembali keraguan dan dorongan untuk mengulanginya. Dinamika itu menampilkan sisi manusiawi yang gamang antara menerima takdir atau menentangnya.
Huruf “O” menjadi elemen semiotik utama dalam album keempat Evan, ONEIROMANCER. Bunyi “O” yang berulang membentuk simbol lingkaran, selaras dengan struktur lagu yang dirancang melingkar—dari pernyataan, penyangkalan, hingga kembali pada awal.
Sentuhan personal paling kuat hadir dari pengalaman mimpi. Lirik “But should I watch you play my new game?” lahir sesaat setelah Evan terbangun di pagi hari. Ia langsung menuliskannya sebelum menguap begitu saja, seakan lagu ini telah hidup lebih dulu di alam bawah sadar.
Melalui “o my KARMIC THREAD, my second skin”, Evan Raditya menegaskan identitasnya sebagai musisi konseptual yang berani memadukan sains, simbol, dan emosi dalam satu karya yang reflektif dan penuh makna.
Evan Raditya Lepas “o my KARMIC THREAD, my second skin”, Eksplorasi Loop Takdir dalam Nuansa Symphonic Rock
