BOGOR, Jobuzo – Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), KH. Yakhsyallah Mansur, menegaskan pentingnya persatuan dan kehidupan berjama’ah bagi umat manusia dalam mengamalkan Islam. Agama Islam tidak mengajarkan perpecahan, namun sebaliknya mensyariatkan kebersamaan, persatuan umat yang disebut dengan Al-Jama’ah, kehidupan terpimpin sebagaimana diamalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya.
“Sejak awal Ramadhan hingga akhir, kita melaksanakan ibadah secara bersama-sama, tarawih bersama, berbuka bersama, hingga sahur bersama. Maka sudah seharusnya kita juga mengakhirinya dalam kebersamaan atau berjama’ah,” ujar Imaam Yakhsyallah Mansur dalam khotbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jumat (20/3/2026).
Di hadapan ratusan kaum muslimin dan muslimat, Imaamul Muslimin mengungkapkan bahwa Al-Jama’ah telah disyariatkan sejak ulul azmi Nabi Nuh alaihis salam kemudian dilanjutkan Nabi Ibrahim, Musa, Isa hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Imaam Yakhsyallah mengutip ajaran tentang pentingnya kepemimpinan dalam jamaah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 59, serta perkataan Umar bin Khattab tentang pentingnya jamaah dan ketaatan kepada pemimpin.
“Tidak sempurna keislaman seseorang tanpa berjamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada gunanya punya pemimpin tapi tidak mentaatinya, selama tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Imaam menekankan bahwa yang dimaksud Al-Jama’ah adalah apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya, bukan berbasis negara atau partai.
Usai khutbah, Imaam Yakhsyallah Mansur juga menyampaikan nasihat khusus kepada kaum muslimat agar menjadi wanita penghuni surga dengan mendukung perjuangan suami, memperbanyak sedekah, serta menjaga kehormatan keluarga. Ia juga mengajak kaum muslimat untuk turut peduli terhadap perjuangan rakyat Palestina dan pembebasan Masjidil Aqsa dari penajajahan zionis Israel.
Jamaah Muslimin (Hizbullah) memulai ibadah shaum Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026 dan melaksanakan Sidang Isbat pada Rabu petang 18 Maret 2026 dengan hasil istikmal atau menggenapkan bilangan puasa Ramadhan menjadi 30 hari, karena rukyat yang dilakukan di Indonesia maupun di Timur Tengah tidak berhasil melihat hilal. [AM]
Khotbah Idul Fitri 1447 H di Cileungsi, Imaam Tegaskan Pentingnya Kehidupan Berjama’ah