Oleh: Yunita Theresia Hutabarat, Universitas Brawijaya
Jobuzo – Komunitas Mahasiswa berkontribusi terhadap lingkungan menunjukkan secara nyata gerakan penanaman mangrove wilayah pesisir memberikan dampak secara positif terhadap perkembangan pusat rehabilitas spesies habitat. Pulau curiak merupakan tempat penangkaran, pariwisata melalui kunjungan penelitian mahasiswa maupun jurnalis turut berkontribusi aktif dalam konservasi tanaman mangrove dan hewan endemik bekantan untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Wujud ekonomi kreatif dilakukan masyarakat pesisir berdampak pada nilai ekonomi dan konservasi lingkungan sebagai bentuk pelestarian nyata lingkungan dan alam untuk menjaga pendapatan utama kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut studi penelitian Center for International Forestry Research, penanaman mangrove dapat menyerap karbon dioksida hingga empat kali dibandingkan hutan tropis daratan (CIFOR, 2022).
Bagi mereka, alam adalah nafas kehidupan dan sumber utama pendapatan mata pencaharian sebagai nelayan. Tantangan utama isu-isu lingkungan mengalami ancaman perubahan lingkungan dengan 20% akibat penebangan liar, pengubahan alih fungsi lahan sehingga alam Indonesia mengalami kerusakan secara nyata akibat ulah manusia dan alam (Data KLHK, 2023). Konservasi mangrove mendukung pengembangan SDGS ke 13 mengenai perubahan iklim, SDGS 14 mengenai kehidupan bawah air seperti keseimbangan ekosistem lautan, SDGS 15 mengenai menjaga keseimbangan lingkungan.

Peran kolaborasi antara Komunitas Mahasiswa dan Yayasan Global Nature Conservation menjadi penggerak terhadap penyelamatan lingkungan dengan mendapat dukungan dari warga lokal dalam upaya menjaga masa depan bumi. Di Pulau Curiak, terdapat hewan endemik dengan ciri fisik hidung panjang sebagai primata yang dilindungi dan hanya dapat ditemukan di wilayah geografis Kalimantan Selatan. Hutan mangrove pesisir Pulau Curiak sebagai tempat berlindung Bekantan dengan adanya konservasi tanam mangrove memulihkan satwa yang kehilangan tempat tinggal serta manfaat mangrove bukan hanya untuk satwa melainkan menjaga pesisir sungai dari kehilangan benteng alami dari abrasi, akar mangrove membantu mengurangi dampak negatif yaitu erosi pantai dan perlindungan pantai dari gelombang tinggi.
“Hal ini, menjadi upaya kami dalam restorasi mangrove rambai demi menyelamatkan lingkungan dari pembabakan liar” Ujar Amalia Rezeki selaku perwakilan SBI
Wujud kolaborasi keberhasilan penggerak ekowisata berperan dalam menjaga habitat bekantan melalui fasilitasi arboretum mangrove di Bekantan Rescue Center, Pusat Penelitian Laboratorium. Pusat rehabilitasi memberikan pelatihan kepada setiap mahasiswa yang berkunjung maupun pariwisata untuk praktik observasi terhadap area sekitar seperti bekantan dengan populasi habitat dengan berpindah-pindah pohon sehingga hewan endemik perlu pengawasan dan menyesuaikan dengan pakan, sejenis kera ekor putih yang dilindungi, pohon menjalar, mangrove, tempat pengelolaan bibit-bibit baru mangrove, kualitas lingkungan lahan basah dan edukasi sosialisasi memprioritaskan keberlanjutan lingkungan dengan banyak sampah yang dibuang ke sungai area sekitar sehingga habitat spesies air mengalami keterancaman punah seperti udang galah menjadi sumber nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir yang tumbuh di area mangrove berdasarkan pendapat penulis, ancaman ini tentu mengakibatkan terganggunya ekosistem laut karena pencemaran air.

Peran komunitas Mahasiswa menunjukkan aksi kolaboratif terhadap isu lingkungan selaras dengan (SDG 8 ) mengenai kehidupan antara alam dan manusia saling memiliki keterikatan dan saling menguntungkan mengenai Decent Work and Economy Growth. Kegiatan komunitas kecil berdampak terhadap esensi sustainable development goals sebagai Think Globally, Act Locally dukungan utama konservasi penghijauan untuk memantau populasi habitat mangrove dan bekantan. Populasi bekantan di Pulau Curiak berhasil meningkat dari 14 menjadi 35 ekor berdasarkan data Media Indonesia dengan adanya bantuan dari Sekolah Bekantan Indonesia dan pihak BKSDA mencatat peningkatan populasi dengan pengawasan ketat. Dukungan nyata komunitas mahasiswa merdeka menjadi pemulihan ekosistem hayati. Dilansir kutipan Antaranews.com terdapat 4000 mangrove bibit rambai sebagai perubahan. Mahasiswa praktik langsung dengan dibagi bibit sekitar 25 bibit untuk dilakukan penanaman di lahan basah dengan setiap masing-masing dibagi 1 bibit dengan lokasi yang berbeda mengandung lumpur untuk membentuk tanaman baru dan membutuhkan sinar matahari yang cukup.
“Untuk sampai di Pulau Curiak difasilitasi dengan transportasi perahu klotok yang dikelola masyarakat setempat mendukung ekonomi lokal” menurut sudut pandang penulis. Mereka terjun langsung untuk mencegah kepunahan spesies yang semakin liar karena adanya pembabakan liar demi keuntungan sendiri. Spesies yang terancam punah seperti kepiting, ikan, ular dan burung curiak, udang dan bekantan sebagai tempat berlindung dan rumah bagi setiap hewan.
Pemulihan mangrove terus dijaga kelestariannya untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. meningkatkan perekonomian masyarakat dengan penyewaan kapal sebagai pendapatan target wisata, harga tiket masuk dan penjualan merchandise. Upaya ini terus dilakukan dan dikelola dengan baik dengan pihak-pihak yang bekerjasama dengan kegiatan peduli lingkungan seperti Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan (BKSDA) serta beberapa masyarakat, komunitas pemuda- pemudi sahabat bekantan dan para wisatawan yang berkunjung berpartisipasi dalam bentuk program edukatif agar dapat menjaga rantai makanan bekantan dan konservasi tanam mangrove.
REFERENSI
Center for International Forestry Research (CIFOR). (2022). Mangrove restoration and carbon sequestration potential. Diakses dari https://www.cifor.org
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK). (2023). Data Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Mangrove di Indonesia. Jakarta: KLHK.
Media Indonesia. (2023). Populasi Bekantan di Pulau Curiak Meningkat Berkat Konservasi. Diakses dari https://mediaindonesia.com
Antaranews.com. (2023). Penanaman 4000 Bibit Mangrove di Pulau Curiak. Diakses dari https://www.antaranews.com
Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). (2023). Laporan Kegiatan Konservasi Bekantan dan Mangrove di Kalimantan Selatan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan. (2023). Laporan Monitoring Populasi Bekanta
Komunitas Sukses Wujudkan Konservasi Ecowisata SDGS Pulau Curiak