Jobuzo – Pendidikan nilai-nilai luhur seperti toleransi dan moderasi beragama pada usia dini membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak-anak. Sosialisasi moderasi beragama ini dilaksanakan dengan menyadari bahwa usia dini adalah fase emas (golden age) dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Pada masa ini, nilai-nilai abstrak seperti toleransi dan empati lebih mudah diserap melalui pengalaman konkret yang menyenangkan. Tujuannya adalah memastikan bahwa anak-anak tidak hanya mengenal keberagaman secara teoritis, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam interaksi sehari-hari. Konsep moderasi beragama mulai ditanamkan melalui kegiatan sosialisasi pada salah satu TK ABA 69.
Menggunakan pendekatan bermain sambil belajar, kegiatan ini memperkenalkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan cinta kasih pada teman-teman yang berbeda agama. Metode ini sangat sesuai dengan dunia anak-anak yang dipenuhi rasa ingin tahu, aktivitas fisik, dan imajinasi yang tinggi. Dengan menjadikan belajar sebagai sebuah permainan, materi yang mungkin terasa berat dan formal dapat disampaikan secara ringan dan membekas. Kegiatan ini diinisiasi oleh sekelompok mahasiswi dan didukung penuh oleh pihak sekolah dan guru sebagai bagian dari pengabdian masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswi UPN VETERAN JAWA TIMUR dan guru TK sebagai pendamping ini menggunakan instrumen permainan, cerita bergambar, dan simulasi sederhana.
Sosialisasi ini dilaksanakan pada 8 Desember 2025 pada pukul 09.30 yang berlangsung selama satu sesi penuh kegiatan belajar mengajar. Anak-anak diperkenalkan pada keberagaman agama di Indonesia, rumah ibadah, dan pentingnya sikap menghormati teman yang berbeda keyakinan. Anak-anak diajak berinteraksi dengan pertanyaan-pertanyaan dasar seputar berapa agama di Indonesia, rumah ibadah, dan bagaimana sikap kita jika memiliki teman beda agama namun, tak disangka antusiasme mayoritas dari mereka tinggi. Mereka paham bahwa toleransi adalah hal yang harus dilakukan. Pesan toleransi, menghargai, dan menghormati diselipkan selama kegiatan mewarnai. Anak-anak secara alami memahami bahwa perbedaan tidak menghalangi persahabatan.
Kolaborasi antara mahasiswa sebagai pembawa materi dan guru sebagai pendamping menunjukkan sinergi positif antara dunia pendidikan tinggi dan pendidikan dasar dalam menciptakan kurikulum karakter yang relevan. Puncak kegiatan ini adalah sesi permainan kolaboratif di mana anak-anak diminta mewarnai masing-masing 1 dari 6 rumah ibadah yang berbeda dengan warna-warna yang beragam. Perbedaan warna melambangkan keragaman, dan anak-anak belajar bahwa semua bangunan tersebut dapat berdiri kokoh hanya jika mereka menyatukan semua bagian. Dampak positif langsung terlihat dari peningkatan interaksi, seperti anak-anak yang saling memuji hasil karya, mau bergiliran menggunakan alat permainan dan mengerti akan toleransi pada umat agama lain.
Setelah mempelajari konsep moderasi beragama di kelas, siswa kini diajak untuk menerapkannya secara nyata dalam konteks kehidupan digital dan interaksi sosial. Taufikurrahman selaku pembina kegiatan, menjelaskan bahwa program ini menjadi tahapan lanjutan di kelas, harapannya mahasiswa menjadi agen pionir moderasi beragama di masyarakat yang bisa mempraktikkan di lembaga masing-masing. “Di kelas, siswa sudah mengenal teori dasar mengenai moderasi beragama dan literasi digital. Kegiatan ini merupakan kelanjutannya, agar mereka dapat menerapkan kemampuan tersebut secara nyata seperti mengenali hoaks, berdialog dengan santun, serta menjaga ruang digital tetap harmonis,” kata Taufikurrahman. Dengan pendekatan yang tepat dan menyenangkan, generasi kecil Indonesia kini mulai dibekali dengan modal sosial yang kuat: kemampuan untuk saling menghormati, menyayangi, dan membangun sikap toleransi yang kelak sangat bermanfaat bagi kehidupan sosial mereka di tengah masyarakat majemuk
Lewat Permainan Warna, Anak TK Belajar Toleransi dan Moderasi Beragama Sejak Dini
