Wonosobo, Jobuzo — Dalam upaya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang mudah dijangkau masyarakat, tim dosen dari IPB University melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Madu sebagai Penyembuh Luka Diabetes” di Puskesmas Kertek 1, Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Dosen Pulang Kampung” yang bertujuan mempertemukan hasil-hasil riset akademik dengan kebutuhan kesehatan masyarakat di daerah. Diikuti oleh peserta Prolanis yakni kelompok pasien penderita penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Kegiatan ini berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme.
Tim pengabdian dari IPB University dipimpin oleh Dr. Dimas Andrianto, S.Si., M.Si, yang juga menjadi narasumber utama dalam penyuluhan ini. Bersama beliau, turut hadir Prof. Mega Safithri, S.Si., M.Si, Ukhradiya Maghraniq Safora Purwanto, S.Si., M.Si, Martini Hudayanti, S.Si, Dr. Mira Dewi, M.Si., Ph.D, Muhammad Fakhri Ramadhan, S.Si., M.Biomed, Maheswari Alfira Dwicesaria, S.Si., M.Si, serta Rara Annisaur Rosyidah, S.Si., M.Si. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari mahasiswa S1 dan S2 IPB yang turut serta dalam penyampaian materi dan diskusi kelompok. Dari pihak Puskesmas, kegiatan ini disambut baik oleh Kepala Puskesmas drg. Farida Chaerunnisa, penanggung jawab Prolanis Rohman Zaefani, A.Md, dan asisten apoteker Arny Yuliana, A.Md.
Dalam paparannya, Dr. Dimas Andrianto, S.Si., M.Si menjelaskan bahwa luka diabetes merupakan salah satu komplikasi serius yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus. Luka ini cenderung sulit sembuh karena berbagai faktor seperti terganggunya sirkulasi darah, melemahnya sistem imun, dan tingginya risiko infeksi akibat neuropati. Selain itu, luka diabetes sering kali disertai eksudat berlebih, serta rentan terhadap infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Proses penyembuhannya pun lambat karena adanya peradangan kronis. Dalam kondisi seperti inilah, madu hadir sebagai solusi alami yang didukung oleh bukti ilmiah.
Menurut penjelasan Dr. Dimas Andrianto, S.Si., M.Si madu bukan hanya pemanis alami, melainkan juga memiliki sifat terapeutik yang kuat dalam penyembuhan luka. Madu mengandung senyawa antibakteri alami, seperti asam fenolik dan flavonoid, yang berfungsi membunuh mikroorganisme penyebab infeksi. Selain itu, madu memiliki pH rendah yang menciptakan lingkungan asam di luka, sehingga pertumbuhan mikroba terhambat dan pelepasan oksigen dari hemoglobin meningkat. Kandungan gula yang tinggi dalam madu juga menciptakan efek osmotik yang menarik cairan dari jaringan luka, membantu membersihkan luka, dan mencegah infeksi. Senyawa antioksidan seperti apigenin dan kaemferol di dalam madu turut berperan dalam mempercepat regenerasi jaringan dan mengurangi peradangan.
Kualitas madu menjadi faktor penting dalam efektivitas penyembuhannya. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 2018), madu berkualitas harus memiliki kadar air di bawah 22 persen dan aktivitas enzim diastase di atas 3 DN. Kadar air yang rendah mencegah fermentasi oleh mikroorganisme seperti khamir, sedangkan enzim diastase yang dihasilkan selama proses pematangan madu menunjukkan kemurnian dan kualitas biologis madu. Pemanasan berlebihan atau penyimpanan terlalu lama dapat menurunkan aktivitas enzim ini, sehingga kualitas madu menjadi menurun. Dalam pengujian laboratorium, madu yang memenuhi standar tersebut menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Bahkan, madu dapat mengatasi resistensi antibiotik melalui inaktivasi enzim beta-laktamase oleh senyawa fenoliknya.
Para peserta Prolanis juga diberi penjelasan mengenai jenis-jenis luka yang dapat diobati menggunakan madu, antara lain luka lecet atau gores ringan, luka bakar ringan, luka tekan (pressure ulcer), dan luka kaki diabetes dengan pengawasan medis. Namun demikian, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa madu yang digunakan untuk penyembuhan luka haruslah madu steril medis, bukan madu mentah dari pasar yang berisiko terkontaminasi. Dalam praktik penggunaannya, madu dioleskan pada kain kasa steril, kemudian ditempelkan pada luka dan dibalut dengan perban bersih. Balutan perlu diganti setiap hari sambil terus memantau kondisi luka. Madu tidak dianjurkan untuk digunakan pada luka dalam, luka bernanah, atau luka bakar berat tanpa pengawasan dokter.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga membuka ruang dialog antara masyarakat dan tim pengabdian. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman pribadi, serta menyampaikan rasa penasaran mereka terhadap manfaat madu yang sebelumnya belum mereka ketahui. Salah satu peserta, Ibu Sumiyati (65 tahun), mengungkapkan rasa antusiasnya setelah mengikuti penyuluhan. Ia menyatakan bahwa dirinya baru mengetahui bahwa madu bisa digunakan secara topikal untuk menyembuhkan luka, dan merasa lebih percaya diri mencoba pengobatan tersebut setelah mendapat penjelasan ilmiah yang meyakinkan dari para dosen IPB.
Kepala Puskesmas drg. Farida Chaerunnisa, menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan harapan agar kegiatan serupa bisa dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, edukasi kesehatan berbasis riset sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam merawat diri, terutama dalam menangani penyakit kronis seperti diabetes. Ia juga menilai bahwa pendekatan pengabdian yang dilakukan oleh IPB University sangat menyentuh dan membumi, karena menyampaikan pengetahuan yang ilmiah dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.
Kegiatan pengabdian ini menjadi bukti bahwa hasil riset tidak harus berhenti di jurnal ilmiah atau laboratorium. Ilmu pengetahuan seharusnya dihadirkan langsung ke tengah masyarakat. Dengan menggunakan madu, bahan alam yang akrab dan tersedia di banyak desa, kegiatan ini mengangkat nilai kearifan lokal sebagai solusi nyata untuk tantangan kesehatan masyarakat. Program Dosen Pulang Kampung bukan hanya simbol kembalinya akademisi ke tanah kelahiran, melainkan juga bentuk nyata dedikasi untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya.
Madu, Solusi Alami untuk Luka Diabetes: Dosen IPB Pulang Kampung Berbagi Ilmu di Wonosobo
.jpg/800?w=300&resize=300,300&ssl=1)