Mataram, Jobuzo – Mahasiswa sering kali diasosiasikan dengan demonstrasi, namun di Pantai Meninting, Lombok Barat, Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) YAPADAMU NW Mataram memilih mendemonstrasikan kepedulian. Melalui Kemah Bakti Sosial (KBS), mereka membuktikan bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama pengabdian dapat diwujudkan dalam aksi nyata yang mengintegrasikan spiritualitas dan kesehatan lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung selama akhir pekan ini jauh dari kesan kemah liburan biasa. Sejak matahari terbenam, suasana Pantai Meninting diselimuti kekhusyukan. Rangkaian acara dibuka dengan Yasinan dan Zikir bersama yang melibatkan warga setempat, menanamkan nilai bahwa setiap amal kebaikan harus dilandasi niat lillahi ta’ala (karena Allah).
“Dimensi spiritual ini adalah fondasi. Sebelum tangan bergerak membersihkan, hati harus terlebih dahulu bersih dan ikhlas,” ujar salah satu koordinator lapangan.
Mahasiswa sebagai Agent of Change di Lingkungan Pesisir
Setelah penguatan spiritual, mahasiswa melanjutkan malam dengan diskusi reflektif. Mereka membahas bagaimana ancaman sampah plastik dan sanitasi buruk di kawasan pesisir dapat menjadi pintu masuk bagi masalah kesehatan masyarakat sebuah studi kasus yang relevan dengan bidang ilmu para mahasiswa saat dibina di FKM.
Puncaknya terjadi pada pagi hari, di mana FKM bersama tokoh masyarakat dan pemuda turun langsung dalam Aksi Bersih Pantai. Aksi ini bukan hanya simbolis, melainkan upaya konkret untuk mengurangi beban sampah non-organik di Meninting. Interaksi mahasiswa dan warga dalam gotong royong ini menjadi katalisator bagi tumbuhnya sense of belonging dan kepemilikan bersama terhadap lingkungan.
Harapan Pembina: Menuntut Dampak Nyata FKM YAPADAMU NW Mataram, Dr. Hilmi Sopian, M.Pd., memberikan penegasan tajam terkait filosofi di balik kegiatan ini. Ia menolak anggapan bahwa KBS adalah sekadar rutinitas organisasi.

“Kemah Bakti Sosial bukan sekadar kemah biasa atau pengawalan program, namun Kemah Bakti Sosial harus berdampak kepada masyarakat dan lingkungan tempat berkegiatan,” tegas Sopian.
Menurutnya, FKM dibekali ilmu epidemiologi, promosi kesehatan, dan kesehatan lingkungan. Ilmu tersebut wajib diimplementasikan.
> Sopian menambahkan, “Mahasiswa FKM hadir sebagai bentuk wujud kepedulian pada lingkungan dan masyarakat. Dan ini tidak terlepas dari materi yang dipelajari di bangku kuliah maupun di FKM sendiri. Kegiatan ini adalah validasi bahwa ilmu mereka berguna.”
Melalui kegiatan ini, FKM YAPADAMU NW Mataram berhasil mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul di ruang kuliah, tetapi juga tangguh dan peka terhadap masalah sosial. Mereka mewujudkan peran sebagai laboratorium sosial, di mana teori-teori kesehatan masyarakat diuji dan diaplikasikan langsung di tengah tantangan lingkungan riil.
Aksi bersih pantai ini diharapkan menjadi pemantik bagi masyarakat Meninting untuk mempertahankan kebersihan dan menjadi contoh bagi organisasi kemahasiswaan lain di NTB dalam menjalankan pengabdian yang berdampak luas dan berkelanjutan.
Mahasiswa FKM YAPADAMU NW Mataram Gelar KBS dan Aksi Bersih Pantai Meninting
