Sleman, Jobuzo – Sekelompok mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar program pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat literasi digital warga sub-urban. Kegiatan ini menyasar anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Arum Melati di Condongcatur, Sleman.
Program bertajuk “SARING sebelum SHARING: Deteksi Manipulasi AI dan Proteksi Diri dari Berita Palsu” itu digelar di Balai RW 09 Soropadan, Condongcatur, Sleman, Jumat (6/6/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu luaran mata kuliah Kapita Selekta Komunikasi dengan dosen pengampu Dr Rila Setyaningsih, M.S.I.
Kegiatan tersebut digelar untuk merespons pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di sisi lain, kemajuan teknologi juga memunculkan tantangan baru, terutama penyebaran disinformasi, hoaks, hingga manipulasi suara dan video berbasis AI.
Para mahasiswa memilih KWT Arum Melati sebagai mitra karena ibu-ibu dinilai memiliki peran strategis dalam keluarga dan lingkungan. Mereka kerap menjadi penggerak informasi di komunitas, khususnya melalui grup percakapan seperti WhatsApp.
Acara dikemas secara interaktif dalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema “Mengenal Wajah Palsu di HP Kita: Cara Cerdas Mendeteksi Manipulasi Suara dan Video AI”.
Dalam sesi ini, peserta diajak melihat langsung demonstrasi teknologi deepfake dan peniruan suara atau voice cloning berbasis AI. Teknologi tersebut disebut rawan disalahgunakan untuk penipuan, penyebaran propaganda, maupun manipulasi informasi.
Sesi kedua mengangkat tema “Jadilah Ibu Cerdas, Lawan Berita Palsu: Tips Ampuh Menyaring Informasi Sebelum Klik Bagikan”. Pada sesi ini, peserta dibekali keterampilan praktis melakukan cek fakta secara mandiri melalui smartphone.
Melalui kegiatan ini, ibu-ibu KWT tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai agen penyaring informasi di tingkat keluarga dan lingkungan. Mereka diharapkan mampu mengenali ciri-ciri hoaks sebelum membagikan pesan kepada orang lain.
Ketua KWT Arum Melati, Rosa, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi sehari-hari.
“Sekarang kami jadi tahu kalau video dan suara tokoh publik pun bisa dipalsukan dengan teknologi AI. Ini membuka mata kami untuk tidak langsung percaya dan asal sharing,” kata Rosa.
Rosa menyebut, ibu-ibu kerap menerima video, gambar, maupun pesan berantai di grup WhatsApp. Karena itu, kemampuan menyaring informasi dinilai penting agar warga tidak ikut menyebarkan hoaks.
Melalui kegiatan ini, anggota KWT Arum Melati Condongcatur diharapkan dapat menjadi pelopor literasi digital di lingkungannya. Mereka juga diharapkan mampu membantu memutus rantai penyebaran hoaks berbasis teknologi modern di era kecerdasan buatan.
Mahasiswa UMBY Gandeng KWT Arum Melati Sleman Tangkal Hoaks dan Manipulasi AI