Jobuzo – Sebuah kegiatan seni budaya bertajuk “Membatik Tanpa Canting” digelar dengan meriah di Pendopo Pura Agung Pramana, Kota Cirebon, Sabtu (22/11). Acara ini menjadi ruang kreativitas baru bagi generasi muda sekaligus upaya pelestarian batik melalui metode modern yang lebih mudah dipelajari dan ramah lingkungan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Aifa Humaira Akmalia, alumni program SIYLEP Kemenpora di Cirebon, ini berhasil menarik minat 60 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga komunitas kreatif. Antusiasme tinggi para peserta menunjukkan bahwa batik tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan inovasi zaman.
Acara turut dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, antara lain dari Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Tenaga Kerja, serta Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon. Selain itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga juga mengirimkan perwakilan, Ridwan, yang hadir untuk memberikan dukungan langsung terhadap kegiatan ini.
Menurut Aifa, kegiatan ini bertujuan mengenalkan teknik membatik proklim atau pro-iklim, yakni metode membatik alternatif yang tidak menggunakan canting tradisional. Metode ini dinilai lebih praktis, aman bagi pemula, serta memiliki potensi sebagai peluang usaha bagi generasi muda.

“Kami ingin menunjukkan bahwa membatik bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana tanpa mengurangi nilai seni batik itu sendiri. Teknik proklim tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka ruang kreativitas baru bagi anak muda. Harapannya, mereka makin tertarik mendalami batik dan melihat ini sebagai peluang ekonomi,” ujar Aifa.
Ridwan, perwakilan Kemenpora, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa upaya seperti ini sejalan dengan komitmen Kemenpora dalam memperkuat kapasitas dan kreativitas pemuda di berbagai daerah.
“Kemenpora sangat mendukung kegiatan positif seperti ini. Kreativitas pemuda harus difasilitasi, terutama ketika berkaitan dengan pelestarian budaya nasional yang dikemas secara inovatif. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak anak muda di Indonesia,” ujar Ridwan.
Perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga turut mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai bahwa program ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong kewirausahaan pemuda. Sementara itu, Dinas Budaya dan Pariwisata melihat teknik membatik proklim sebagai potensi baru untuk memperkuat sektor wisata edukasi di Kota Cirebon.

Para peserta mengikuti rangkaian workshop mulai dari pengenalan motif, penggunaan bahan-bahan lem proklim yang ramah lingkungan, proses pewarnaan, hingga penyelesaian karya. Banyak peserta mengaku teknik proklim terasa lebih mudah, menyenangkan, dan membuat proses membatik menjadi lebih inklusif bagi pemula.
Berdasarkan kuesioner yang dibagikan setelah kegiatan, respons peserta menunjukkan hasil yang sangat positif. Seluruh peserta (100%) menyatakan memperoleh wawasan baru terkait lingkungan, merasa lebih tertarik pada batik, puas dengan jalannya workshop, serta bersedia merekomendasikan kegiatan serupa kepada keluarga dan kolega. Menariknya, 87% peserta mengaku sebelumnya belum mengenal batik proklim, sehingga workshop ini menjadi pengalaman baru yang bernilai bagi mayoritas peserta.
Melihat antusiasme dan dampak positif yang ditimbulkan, kegiatan “Membatik Tanpa Canting” diharapkan dapat menjadi agenda rutin dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam promosi budaya serta pemberdayaan ekonomi kreatif di Kota Cirebon.
Membatik Tanpa Canting, Kegiatan Kreatif Anak Muda Cirebon Menarik Perhatian Publik