Jobuzo – Di era digital yang terus berkembang, smartphone sudah menjadi bagian penting dari rutinitas sehari-hari. Pelajar, pekerja, bahkan orang tua sangat mengandalkan ponsel untuk berinteraksi, bekerja, atau mencari info terbaru. Banyak yang beranggapan bahwa memiliki smartphone berarti orang tersebut sudah melek media. Padahal, literasi media tidak merta muncul begitu saja hanya karena kita punya perangkat digital.
Mitos ini berkembang karena kebiasaan seperti membuka aplikasi, menonton video, atau mengedit foto seringkali dianggap sudah cukup untuk menunjukkan keahlian dalam bermedia. Kenyataannya, literasi media jauh lebih rumit daripada sekadar bisa memakai gadget. Sering berinteraksi di media sosial juga tidak otomatis membuat seseorang paham cara kerja informasi. Minimnya pemahaman inilah yang membuat mitos ini tetap ada.
Salah satu bukti bahwa punya smartphone tidak otomatis menjadikan individu lebih kritis terhadap media tercermin dalam riset Yanti dan rekan-rekannya (2025) yang dipublikasikan di Jurnal PEMA. Studi tersebut mengungkapkan bahwa penyebaran hoaks menjelang Pemilu 2024 di platform X terjadi bukan hanya karena salah paham, melainkan juga disebabkan oleh strategi propaganda yang terstruktur. Banyak pengguna smartphone mudah terjebak dalam narasi yang tidak benar karena kurangnya kemampuan dalam menganalisis dan memverifikasi informasi. Ini menunjukkan bahwa akses ke teknologi tidak selalu berarti seseorang dapat dengan baik menghadapi berbagai arus informasi digital.
Hoaks juga sering dibuat dan disebarluaskan lewat akun-akun tertentu, lalu diperkuat oleh pengguna lain tanpa mereka ketahui. Kemampuan memakai aplikasi ternyata tidak cukup untuk melindungi kita dari manipulasi informasi. Meski seseorang aktif mengikuti tren, bukan berarti ia mampu membedakan mana fakta dan mana rekayasa. Rendahnya literasi media bahkan sering membuat orang ikut menyebarkan propaganda tanpa sengaja.
Dampak dari mitos ini cukup serius dalam kehidupan digital kita. Ketika orang merasa sudah paham media hanya karena punya smartphone, mereka sering lupa untuk memverifikasi keaslian informasi. Hoaks pun lebih mudah menyebar, opini publik dapat dimanipulasi, dan ruang digital jadi penuh konten menyesatkan. Di sinilah literasi media berperan penting karena membantu kita memahami makna pesan, memeriksa asal-usulnya, dan mengenali motif di balik informasi. Dengan pemahaman literasi media yang baik, seseorang tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga pengguna media yang aktif, selektif, dan kritis. Ini menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan mencegah penyebaran informasi yang merugikan.
Upaya meningkatkan literasi media sebaiknya melibatkan banyak pihak. Keluarga bisa mengajarkan kebiasaan cek fakta dan berpikir kritis sejak dini, sementara sekolah dan kampus memasukkannya ke dalam kurikulum. Pemerintah, organisasi, dan media digital juga bisa mendorong kampanye literasi serta memperkuat sistem deteksi konten palsu. Individu pun bisa berperan dengan memverifikasi informasi, membaca dari berbagai sumber, dan tidak langsung membagikan konten yang belum jelas kebenarannya.
Pada akhirnya, smartphone hanyalah alat, bukan ukuran kemampuan seseorang dalam mengelola informasi. Literasi media perlu dipelajari, dilatih, dan diterapkan secara konsisten. Dengan meninggalkan anggapan bahwa “asal punya smartphone berarti sudah melek media”, masyarakat bisa lebih sadar dan kritis. Hal ini membantu kita menghadapi arus informasi digital dengan bijak dan tidak mudah terbawa hoaks.
Oleh: Dinda Aulia Shafira, Mahasiswa Universitas Pamulang
Membongkar Mitos: “Asal Punya Smartphone Berarti Sudah Melek Media”
