LUMAJANG, Jobuzo — Di tengah ancaman erupsi Gunung Semeru yang masih berlangsung, Ahmad Min, anggota Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa Timur, terus bergerak melakukan pemantauan dari kaki gunung serta melakukan kegiatan lain yang berguna bagi warga terdampak letusan gunung.
Sejak letusan besar pada 19 November lalu, Gunung Semeru memuntahkan abu vulkanik dan lahar panas yang menghancurkan sedikitnya 50 rumah warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Hingga kini, sebagian warga masih hidup di pengungsian dengan keterbatasan akses, sementara rumah-rumah mereka tertimbun lumpur dan abu vulkanik.
Dalam kondisi itu, Ahmad Min hampir setiap hari berkendara sepeda motor dari rumahnya di Desa Sumberwuluh menuju titik-titik pemantauan di sekitar Gunung Semeru yang berjarak sekitar enam kilometer dari kawah. Dari kawasan Jembatan Gladak Perak hingga kaki gunung, ia mendokumentasikan situasi lapangan melalui foto dan video sebagai bahan laporan kebencanaan kepada pengurus UAR wilayah dan pusat.
“Alhamdulillah, tak mengapa, meski sendiri dengan segala keterbatasan saya bisa terus memantau kondisi Gunung Semeru dan membantu warga terdampak erupsi Gunung Semeru sebisanya,” kata Ahmad Min, Kamis (1/1/2026).
Aktivitas yang dilakukan Ahmad Min sepanjang hari dalam cuaca panas dan hujan tersebut bukan sekadar pemantauan teknis, melainkan juga bagian dari upaya kemanusiaan agar kondisi warga terdampak tidak luput dari perhatian publik dan para pemangku kebijakan. Warga Sumberwuluh masih membutuhkan pendampingan serius, baik dari sisi pemulihan tempat tinggal, logistik harian, maupun dukungan psikososial.
Selain melakukan pemantauan, Ahmad Min juga terlibat langsung dalam aksi-aksi sosial, seperti penyaluran bantuan sembako dan membangunan hunian sementara (huntara) bersama relawan lintas komunitas, di antaranya CB Motor. Huntara tersebut sangat dibutuhkan agar para pengungsi dapat keluar dari situasi darurat yang berkepanjangan.
“Alhamdulillah kami sudah dapat membangun lima huntara di Desa Sumberlangsep. Mudah-mudahan bisa meringankan warga yang rumahnya hancur dan terendam lahar Semeru,” ujar Ahmad Min. Menurutnya, pembangunan rumah sementara itu sangat dibutuhkan agar para pengungsi dapat keluar dari situasi darurat yang berkepanjangan.
Namun, keterbatasan personel menjadi tantangan serius. Hingga saat ini, Ahmad Min menjadi satu-satunya anggota UAR yang menetap paling dekat dengan kawasan Gunung Semeru. Sementara itu, sebagian besar anggota lainnya berada di wilayah yang cukup jauh dari lokasi bencana. Baru Pembina UAR Wilayah Jawa Timur, Abdul Karim, yang beberapa waktu lalu turun langsung ke Desa Sumberwuluh dan memantau Semeru bersama Ahmad dari Jembatan Gladak Perak.
Melalui laporan lapangannya, Ahmad Min secara terbuka menyampaikan harapannya agar lebih banyak relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue maupun elemen kemanusiaan lainnya dapat hadir di Desa Sumberwuluh untuk bersama-sama menguatkan warga yang hingga kini masih tinggal di pengungsian.
“Kami masih sangat membutuhkan pendampingan. Rumah para warga hancur, akses terbatas, dan aktivitas gunung belum sepenuhnya aman,” ungkap Ahmad Min. Selain dukungan personel, ia juga mengharapkan bantuan operasional guna menunjang kegiatan pemantauan dan pelaporan kondisi Gunung Semeru yang masih terus mengalami erupsi.
Ketua Umum Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), H. Endang Sudrajat, menyampaikan apresiasi sekaligus menyerukan dukungan yang lebih luas bagi upaya kemanusiaan di kawasan terdampak Semeru.
“Apa yang dilakukan Ahmad Min adalah alarm kemanusiaan bagi kita semua. Warga Sumberwuluh masih membutuhkan perhatian, dukungan relawan, serta bantuan nyata agar mereka bisa bangkit dan kembali hidup dengan layak,” tegas H. Endang Sudrajat.
Sebagai wujud apresiasi atas dedikasi tanpa lelah dalam melaksanakan misi kemanusiaan dan kebencanaan, Ketua Umum UAR telah memberikan hadiah sepatu bot operasional kepada Ahmad Min yang pada awal erupsi Semeru hanya menggunakan sandal jepit dalam melakukan pemantauan di lokasi bencana.
Ukhuwah Al-Fatah Rescue juga mengajak para dermawan, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk bergotong royong membantu percepatan pembangunan hunian sementara, pemenuhan kebutuhan logistik, serta perlengkapan keselamatan relawan di lapangan.
UAR sendiri sejak akhir November lalu mengkonsentrasikan personelnya ke lokasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Sudah dua gelombang atau sekitar 60 relawan UAR dikirim oleh lembaga kemanusiaan dan kebencanaan tersebut. Akhir pekan ini bahkan pengurus pusat akan mengirimkan kembali relawan gelombang ketiga sebanyak 12 personel ke Aceh.
Sementara itu empat personel terapis masing-masing Musliman, Arifin, Istiqomah dan Sugiarti pada Kamis siang (1/1/2026) telah berangkat dan sore harinya sampai di Posko Tim UAR Aceh Tamiang dari Bandara Soekarno – Hatta Cengkareng. Mereka menggantikan empat terapis yang pulang ke Jakarta dan Bogor pada hari yang sama. [am]
Meski Sendiri Relawan UAR Terus Memantau di Kaki Semeru, Serukan Bantuan Kemanusiaan