Di bawah pohon manggah samping belakang Kantor Kecamatan Babelan yang rimbun, suasana sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Ki Somad tampak mengisap dalam-dalam rokok kreteknya, matanya menatap nanar ke arah tumpukan koran di meja kayu Sekretariat Pokja Wartawan Babelan Utara. Di sana, wajah dr. Asep Surya Atmaja terpampang jelas dengan tajuk berita: “Bupati Bekasi Menanti Pendamping.”
“Jadi beneran, Le? Si Dokter sekarang nyetir sendirian?” tanya Ki Somad, suaranya parau memecah kepulan asap.
Sule yang biasanya paling ceria, kali ini cuma bisa mengangguk pelan sambil menyeruput kopi hitamnya. “Iya, Ki. Sejak Bupati Ade kena bende petugas KPK, dr. Asep naik jadi Plt. Tapi masalahnya bukan cuma itu. Saya takut kita bakal ngalamin drama lama kayak sebelomyah.”
Bekasi Itu Ibarat Bus Gede yang Lagi Full Penumpang
Fufu yang sedang asyik mengunyah bakwan hangat, mengerutkan dahi. “Drama apaan sih? Kan busnya tetep jalan. Ada sopirnya, ada duit bensinnya. Emang kenapa kalau nggak ada kernetnya? Kan tahun 2026 APBD 7,7 Trilyun cair-air aja.”
Sule menghela napas, lalu mengambil ranting kayu dan menggambar sebuah kotak besar di tanah. “Sini gue kasih paham, Fu. Bekasi ini ibarat Bus AKAP jurusan Cikarang yang muatannya penuh sesak, rutenya ekstrem, dan debunya minta ampun. Karena Sopir Utama turun di tengah jalan, si Dokter yang tadinya kernet kepaksa pindah ke korsi sopir. Sekarang, korsi kernet di sampingnya jadi kosong.”
“Nah, di situ intinya,” potong si Bisot sambil memperbaiki letak topinya. “Kursi kosong itu bukan cuma tempat duduk, Fu. Itu kursi penting buat bantu sopir. Buat bantu ngelihat blind spot, bantu ngingetin kalo sopir ngantuk, nerima duit ongkos dan bantu-bantu ngatur penumpang yang ribet. Kalau kosong terus, sopir bakal capek sendirian. Fokusnya pecah antara megang setir sama dengerin keluhan penumpang di belakang.”
Ribetnya Nyari Kernet Gara-Gara Banyak Bosnya
Fufu mulai paham, tapi ia masih sangsi. “Ya tinggal cari kernet baru toh? Kan banyak orang pinter di terminal.”
“Nggak segampang itu, Fu,” timpal Ki Somad sambil menunjuk gambar Sule di tanah. “Bus ini milik Koperasi Koalisi. Pengurusnya banyak, ada partai-partai besar dari PDIP, Buruh, PPP, sampe PBB. Aturannya saklek: kernet baru cuman bisa jadi dan boleh naik kalau semua pengurus koperasi tanda tangan setuju pada dua usulan nama calon kernet.”
Sule menyambung dengan nada persuasif, “Bayangin aja, Ki. Pengurus A pengen adiknya yang naik, Pengurus B pengen temen lamanya, Pengurus C bilang dia yang paling banyak bayar iuran bensin jadi dia yang paling berhak. Satu aja nggak tanda tangan, suratnya nggak laku di atau gak diakuin. Akhirnya? Berkasnya cuma jadi pajangan di laci meja rapat sementara Sopir Jomlo Bus Besar Kabupaten Bekasi ini udah keringet dingin sendirian di depan.”
Takut Ada “Matahari Kembar” di Satu Kemudi
“Gue malah mikir lebih jauh,” sela si Bisot dengan nada introspektif. “Jangan-jangan, sopirnya juga ngerasa ‘lebih tenang’ kalau kursi sampingnya kosong. Lu inget kan zaman almarhum Pak Eka dulu? Kalau kernet yang naik ternyata lebih galak jadi “matahari kembar” atau malah pengen ngerebut setir buat jadi sopir periode depan, sopir mana yang bakal nyaman? Akhirnya, daripada dapet kernet ‘Saingan Sopir’, mending kursinya dikosongin aja sampe terminal akhir.”
Daripada dapet kernet ‘Saingan Sopir’, mending kursinya dikosongin aja sampe terminal akhir
Mendengar itu, mereka berempat terdiam. Angin sore berembus, membawa suara klakson kendaraan yang macet di depan kecamatan.
“Jadi bener ya, Ki,” bisik Fufu pelan. “Bekasi ini hobi banget ‘jomblo’. Bukan karena nggak ada yang mau dan mampu, tapi karena yang ngatur bus lebih sibuk berantem soal jatah kursi daripada mikirin kenyamanan dan keselamatan penumpang yang udah bayar karcis mahal-mahal.”

Rakyat yang Akhirnya Rugi dan Telat Sampai Tujuan
Ki Somad mematikan rokoknya ke tanah, tepat di tengah gambar bus yang dibuat Sule. “Itulah pedihnya, Fu. Kita bangga punya bus paling besar dan mewah di Jawa Barat, tapi sedih liat nasib Sopir Jomlo Bus Besar Kabupaten Bekasi yang dipaksa main solo bertahun-tahun cuma gara-gara urusan tanda tangan yang nggak kunjung kelar. Urusan masing-masing partai lebih diutamain daripada nasib kabupaten. Sejarahnya begitu, kata orang sejarah itu guru yang galak, tapi sepertinya kita ini semuanya murid yang hobi bolos.”
Di kejauhan, sebuah Koasi melintas penuh debu, meninggalkan mereka yang masih terpaku memikirkan nasib kemudi Kabupaten Bekasi yang terancam jomlo lagi. Tersendat di macetnya jalanan politik, yang pada akhirnya membuat semua penumpang terlambat sampai ke tujuan kesejahteraan.
Tragedi kepemimpinan di Kabupaten Bekasi bukanlah tentang ketiadaan figur yang mampu, melainkan tentang syahwat politik yang gagal dikompromikan. Saat kursi pendamping dibiarkan kosong, kita menyaksikan sebuah pengkhianatan halus terhadap mandat rakyat.
Elit partai harus sadar bahwa Bekasi bukan properti pribadi yang boleh disandera oleh ego tanda tangan. Ketika kesepakatan politik lebih sulit dicapai daripada memperbaiki jalan yang rusak, nurani publik telah kalah. Sudah saatnya berhenti menjadi murid yang hobi bolos dari sejarah; karena jika bus ini terguling, bukan pengurus partai yang luka, melainkan jutaan rakyat Kabupaten Bekasi yang menanggung derita.
