Oleh: Ervin Sandri
Mahasiswa sIBac-sip UIN Imam Bonjol Padang
Jobuzo – Kita hidup di zaman yang aneh. Di mana membaca buku bukanlah lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah tren. Dulu, tumpukan buku di meja kopi adalah tanda seorang akademisi, seorang kutu buku yang asyik dengan dunianya sendiri. Sekarang, tumpukan itu adalah properti, alat bantu untuk sebuah narasi visual yang harus diunggah ke Instagram Story. Kita tak lagi membaca untuk mengisi kepala, melainkan untuk mengisi feed.
Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya bisa sangat menyinggung: Kamu suka baca buku, atau kamu suka dilihat sedang membaca buku?
Mari kita jujur. Betapa banyak dari kita yang membeli buku-buku tebal nan berbobot, tapi halaman-halamannya masih perawan, bebas dari lipatan dan stabilo. Kita membeli A Brief History of Time karya Stephen Hawking, bukan karena kita ingin memahami teori-teori fisika kuantum, melainkan karena judulnya keren. Kita meletakkan Sapiens di rak buku, bukan karena kita ingin merenungkan sejarah umat manusia, tapi karena buku itu adalah simbol kecerdasan yang instant.
Ini adalah era di mana buku-buku menjadi aksesori. Pemandangan seorang pemuda di kafe kekinian, dengan latte di satu tangan dan buku novel klasik di tangan lainnya, adalah pemandangan yang jamak. Apakah dia benar-benar terhanyut dalam kisah cinta Anna Karenina? Atau dia lebih sibuk mencari angle foto yang pas, agar judul buku dan merek laptopnya terlihat jelas? Pura-pura serius, sesekali menyeruput kopi, dan sesekali pula melirik ke sekitar, memastikan ada yang melihat performance-nya.
Rasanya kita semua tahu. Membaca sekarang adalah senjata pencitraan yang paling ampuh. Bagaimana tidak? Dibandingkan mengunggah foto diri di klub malam, foto dengan buku di tangan memberikan kesan yang jauh lebih berkelas. Kamu terlihat cerdas, dewasa, dan penuh wawasan. Padahal, bisa jadi kamu baru saja selesai membaca ringkasan buku itu di internet, atau bahkan tidak membacanya sama sekali. Judulnya saja sudah cukup, bukan? Judul adalah brand, dan kita adalah konsumen yang haus akan brand image.
Apalagi sekarang ada tren “Bookstagram”. Sebuah dunia di mana buku-buku difoto dengan pencahayaan dramatis, ditemani secangkir teh herbal, dan background tanaman hias yang aesthetic. Deskripsinya? Penuh dengan review dangkal yang terdengar bijak, “Buku ini sungguh membuka wawasan,” atau “Karakter utamanya begitu relatable.” Jangan kaget jika beberapa “Bookstagrammer” itu bahkan tidak membaca bukunya sampai tuntas. Mereka hanya butuh foto yang bagus, dan kalimat pembuka yang puitis.
Dan jangan lupakan buku-buku pengembangan diri. Buku seperti “Filosofi Teras” atau “Berani Tidak Disukai” menjadi fenomena. Kita berbondong-bondong membelinya, seolah-olah hanya dengan memiliki buku itu, hidup kita akan otomatis berubah. Kita membaca kutipan-kutipan inspiratifnya, lantas mengunggahnya ke media sosial. Kita seolah-olah telah mencapai pencerahan, padahal kita masih mengeluh tentang macet setiap pagi. Kita ingin menjadi versi diri yang lebih baik, tapi dengan jalan pintas. Kita ingin terlihat bijaksana, tapi tak mau bersusah payah merenungkan isinya.
Bukan, ini bukan sekadar sarkasme. Ini adalah potret realita. Kita terjerat dalam ilusi bahwa memiliki buku sama dengan berilmu. Kita mengoleksi buku layaknya mengoleksi action figure mahal. Kita bangga memajang rak buku yang penuh, seolah-olah rak buku adalah sertifikat kecerdasan kita. Padahal, rak buku itu bisa jadi hanyalah pajangan, dan kecerdasan kita mungkin sama kosongnya dengan isi kantong kita di akhir bulan.
Memang, membaca buku itu bagus. Manfaatnya tak terhitung. Membaca bisa memperkaya kosakata, mengasah daya kritis, dan membuka cakrawala. Tapi, semua itu hanya bisa didapat jika kita benar-benar membaca. Jika kita mau repot-repot membolak-balik halamannya, mencerna isinya, dan merenungkan maknanya. Bukan cuma untuk caption Instagram, bukan cuma untuk mengisi kekosongan di rak buku, dan bukan pula untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah orang yang keren.
Jadi, lain kali kamu melihat dirimu atau orang lain memegang buku, cobalah bertanya: Apakah dia benar-benar sedang membaca, atau sedang berpura-pura membaca? Apakah dia sedang mencari pencerahan, atau hanya sekadar pencitraan? Jawabannya ada di sana, di balik sampul buku yang seringkali lebih menarik daripada isinya.
Satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar membaca adalah dengan membicarakan isinya. Bercerita tentang karakter yang kamu suka, teori yang membuatmu tercengang, atau kutipan yang mengubah cara pandangmu. Jika kamu hanya bisa menyebutkan judul dan penulisnya, mungkin kamu memang lebih suka dilihat sedang membaca buku. Dan itu, kawan, adalah salah satu ironi paling menyedihkan di era digital ini.
Di era digital ini, membaca adalah sebuah pilihan, tapi pura-pura membaca adalah sebuah industri. Kamu pilih yang mana? Tanyakan pada dirimu sendiri.
Pencitraan atau Pencerahan? Kenapa Kita Sebenarnya Membaca Buku