Pagi itu, seperti banyak pagi lainnya, tangan saya refleks meraih ponsel sebelum mata benar-benar siap menerima dunia.
Belum sempat mengucap doa bangun tidur sepenuhnya, layar sudah menampilkan notifikasi handphone: pesan grup, video pendek, berita sensasional, potongan konflik, iklan yang terasa “kebetulan” sesuai kebutuhan.
Lima menit berubah menjadi tiga puluh. Otak terasa penuh, tetapi hati entah mengapa justru kosong. Saya terdiam sejenak, lalu bertanya dalam hati: ke mana sebenarnya perhatian saya barusan dibawa?
Di situlah saya teringat satu kalimat modern yang sederhana namun mengganggu: “Attention is currency, spend it wisely.” Perhatian adalah mata uang. Ia dibelanjakan setiap detik, bahkan saat kita merasa hanya “iseng”. Dan media sosial hari ini adalah pasar terbesarnya.
Tanpa kita sadari, perhatian telah menjadi komoditas paling mahal di era digital. Bukan lagi emas, bukan pula properti, melainkan detik-detik fokus manusia.
Setiap kali kita menonton ulang video yang sama, berhenti di kolom komentar, terpancing emosi oleh judul provokatif, sesungguhnya kita sedang “membayar” dengan potongan umur kita sendiri.
Algoritma bekerja tanpa lelah: mempelajari kesukaan kita, kelemahan kita, rasa penasaran kita, lalu menyusunnya menjadi jebakan yang terasa menyenangkan.
Media sosial tidak selalu jahat. Ia bisa menjadi sumber ilmu, ladang dakwah, sarana silaturahmi, bahkan penggerak perubahan. Tapi di tangan algoritma yang berorientasi pada keterikatan tanpa batas, media sosial juga bisa menjadi mesin pencuri perhatian paling efektif dalam sejarah manusia.
Kita tidak lagi sekadar memilih konten, sering kali kitalah yang dipilih oleh konten.
Di sinilah Islam memberikan kacamata yang berbeda. Jauh sebelum istilah attention economy dikenal. Attention economy adalah sebuah model ekonomi di mana perhatian manusia dianggap sebagai sumber daya yang langka dan sangat berharga. Dalam konteks ini, platform digital, media sosial, aplikasi, dan layanan berbasis internet berlomba-lomba merebut dan mempertahankan fokus pengguna selama mungkin, karena perhatian tersebut dapat diubah menjadi keuntungan finansial, misalnya melalui iklan, penjualan data perilaku, atau peningkatan transaksi online.
Sedangkan Al-Qur’an telah menegaskan bahwa waktu dan perhatian manusia adalah amanah yang menentukan untung rugi hidupnya. Allah bahkan bersumpah dengan waktu, seolah ingin berkata: ini bukan urusan sepele.
Manusia merugi bukan karena miskin harta, tetapi karena lalai mengelola fokus hidupnya.
Scroll tanpa tujuan menjadi bentuk pemborosan baru yang jarang disadari sebagai dosa kultural. Kita merasa tidak sedang berbuat apa-apa, padahal kita sedang menghabiskan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita beli kembali: umur. Ironisnya, pemborosan waktu ini sering dibungkus sebagai hiburan yang “wajar”. Padahal dalam nilai Islam, meninggalkan hal yang tak bermanfaat justru menjadi tanda kualitas iman.
Perlahan, penyakit-penyakit hati tumbuh subur dari pola konsumsi perhatian yang rusak ini. Pamer hidup orang lain memantik iri. Statistik like melahirkan haus validasi. Berita sensasional memelihara kemarahan. Komentar pedas menjadi kebiasaan baru yang terasa normal.
Kita lelah, tapi tetap kembali membuka layar. Marah, tapi tetap ingin tahu kelanjutannya. Inilah paradoks kecanduan scrolling: lelah yang ditagih ulang oleh algoritma.
Yang lebih berbahaya, hoaks dan konten provokatif hidup dari perhatian kita. Mereka tidak tumbuh karena kebenaran, tetapi karena reaksi. Sering kali, kita membagikan sesuatu bukan karena yakin akan manfaatnya, melainkan karena emosi kita disentuh: takut, marah, benci, atau terlalu senang.
Dalam Islam, ini bertentangan langsung dengan prinsip tabayyun, verifikasi sebelum menyebarkan. Setiap klik dan share sesungguhnya adalah bentuk “investasi atensi” yang bisa berbuah pahala atau dosa.
Saya pernah menjumpai seseorang yang berkata dengan jujur, “Saya capek, tapi kalau tidak buka media sosial rasanya ketinggalan hidup.” Kalimat itu terdengar biasa, tetapi menyimpan krisis batin yang serius. FOMO (takut tertinggal) adalah kecemasan kolektif masyarakat digital. Kita takut tertinggal tren, tertinggal isu, tertinggal gosip, tertinggal kehidupan orang lain. Namun kita lupa satu hal yang lebih penting: takut tertinggal diri sendiri.
Dalam Islam, perhatian bukan sekadar alat psikologis, melainkan bagian dari ibadah. Pandangan dijaga bukan hanya dari yang haram secara fisik, tetapi juga dari yang merusak batin.
Pikiran dilatih agar tidak dibiarkan liar. Hati dipelihara dari kelalaian. Semua ini berpangkal pada satu disiplin sederhana yang kini terasa mahal: menguasai fokus.

Media sosial sejatinya hanyalah alat. Persoalannya bukan pada teknologinya semata, tetapi pada siapa yang memegang kendali.
Apakah kita yang menggunakan media sosial untuk nilai-nilai kebaikan, atau kita yang sedang digunakan oleh sistem yang tak peduli pada keselamatan jiwa kita?
Saat perhatian kita sepenuhnya dikendalikan oleh notifikasi, sesungguhnya kita telah menyerahkan kemerdekaan batin kita secara sukarela.
Di titik inilah pesan “attention is currency” menemukan makna spiritualnya. Dalam logika dunia, perhatian adalah aset ekonomi.
Dalam logika Islam, perhatian adalah amanah yang kelak dihisab. Kita akan ditanya bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita setiap hari.
Mungkin kita tidak sadar kapan tepatnya ketergantungan itu dimulai. Tidak ada lonceng peringatan. Yang ada hanya kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus: membuka layar saat bosan, saat sepi, saat lelah, bahkan saat hati sedang kosong. Hingga perlahan, keheningan menjadi asing, dan dialog dengan diri sendiri terasa canggung.
Dan pagi ini, saat saya kembali meletakkan ponsel setelah terhanyut beberapa menit, saya mendapati diri saya bercermin dalam pertanyaan yang sama: Untuk apa sebenarnya perhatian ini sedang saya belanjakan? Untuk kebaikan, atau sekadar untuk mengusir sunyi?
Saya mencoba berbicara pada diri sendiri, perlahan, tanpa menghakimi: “Tenang, engkau tidak diciptakan hanya untuk menjadi penonton hidup orang lain. Waktumu terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak menumbuhkanmu. Jika setiap detik adalah amanah, maka pilihlah dengan siapa dan dengan apa ia akan kau habiskan. Jangan biarkan waktumu dibeli murah oleh algoritma. Kembalikan perhatianmu pada hal-hal yang benar-benar memberi hidup: ilmu, cinta, keluarga, ibadah, dan keheningan yang menenangkan.”
Lalu saya menutup layar, bukan karena dunia maya harus ditinggalkan, tetapi karena hari ini saya ingin kembali memegang kendali atas perhatian saya sendiri.
