Penulis :
Meike Kurniawati
Dosen Fakultas Psikologi – UNTAR
“Hilangnya sebuah tumbler di KRL, menjadi viral. Tumbler menjadi bahan meme, memunculkan berbagai isu dan polemic dan menjadi bahan perbincangan di berbagai lini massa”
Belakangan gaya hidup hijau banyak dianut oleh masyarakat terutama di kota-kota besar. Gaya hidup hijau adalah gaya hidup yang berfokus pada keberlanjutan dan upaya untuk mengurangi dampak negative bagi lingkungan. Berusaha untuk membuat keputusan yang lebih ramah lingkungan, baik dalam hal konsumsi, energi, maupun sumber daya alam. Gaya hidup ini tidak hanya mengutamakan kelestarian lingkungan, tapi juga menciptakan kehidupan yang lebih sehat, hemat, dan seimbang. Seperti mengurangi sampah plastic, mengurangi emisi karbon, menggunakan kembali barang-barang, alih-alih membuangnya, hingga memilih produk-produk yang diproduksi secara etis dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Minat terhadap produk ramah lingkungan di Indonesia menunjukkan tren yang semakin kuat. Survei GoodStats dan Snapcart mencatat bahwa 84 persen konsumen Indonesia pernah menggunakan produk ramah lingkungan. Studi PWC Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 80 persen konsumen bersedia membayar lebih untuk merek yang memiliki komitmen ESG. Jelas ini adalah pasar yang besar.
Salah satu contoh gaya hidup hijau adalah mengurangi pengunaan botol plastik sekali pakai diganti dengan membawa minum sendiri dalam tumbler. Tumbler sudah jamak ditemukan menjadi barang bawaan wajib. Tumbler kini juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan terkadang menjelma menjadi simbol status, symbol trend, penanda kelas social. Pierre Bourdieu (dalam Bakti & Situmorang, 2024) menjelaskan bahwa preferensi (pilihan) konsumsi adalah penanda kelas.
Fungsi Tumbler yang “tidak hanya” sekedar produk hijau membuat ada saja orang yang kemudian memiliki banyak tumbler diluar yang dibutuhkan, berlomba-lomba membeli Tumbler berbagai merek mahal dan sebagainya. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu terjadinya perilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena keinginan yang sudah tidak mencapai taraf tidak rasional lagi (Adiputra & Moningka, 2012). Perilaku konsumtif melekat pada seseorang bila orang tersebut membeli diluar kebutuhan rasional, dan pembelian tidak lagi didasarkan pada faktor kebutuhan (need) tetapi sudah pada faktor keinginan (want). Konsumtif juga mengacu pada sifat mengkonsumsi, memakai, dan menggunakan sesuatu secara berlebihan atau mendahulukan.
Perilaku konsumtif memiliki sejumlah dampak negative seperti dapat membuat seseorang mengalami krisis financial, gaya hidup hedonis, dan menimbukan permasalahan di masa yang akan datang (terkait financial, sosial, dll). Meskipun di satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku konsumtif juga berdampak positif. Dampak positif dari pihak penjual atau produsen. Jika seseorang konsumtif maka penjual mendapat keuntungan, mendapat pemasukan lebih banyak, membantu menyeimbangkan stabilitas ekonomi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, menumbuhkan daya saing perusahaan, dll. Membantu memutar roda perekonomian.
Namun tentunya, konsumen harus bijak sehingga tidak terjebak dalam perilaku konsumtif. Jangan menjadi paradoks: di balik niat baik hidup ramah lingkungan, terselip dorongan konsumsi baru. Belum lagi sampah yang tercipta ketika produk tersebut menjadi rusak atau tidak terpakai.
Tumbler, Gaya Hidup dan Konsumtif
