Jobuzo – Program Studi Pendidikan Pariwisata FPIPS UPI menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional di Thailand berjudul Ekshibisi Guiding Destinasi Wisata Indonesia Untuk Meningkatkan Semangat Nasionalisme dengan beranggotakan : Andreas Suwandi, S.Pd, M.Pd sebagai ketua PKM, Dr. Rini Andari, S.Pd, SE.Par, M.M dan Nadhia Maesari, S.Pd, M.Par sebagai anggota tim pkm Internasional dilaksanakan pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 2025. PKM Internasional ini melibatkan Prodi Kepariwisataan FPIPS di Universitas Pendidikan Indonesia yaitu Manajemen Leisure and resort, Manajemen pemasaran pariwisata, dan manajemen Industri Katering dengan kelompok diaspora Indonesia yang menetap di negara Thailand. Kegiatan PKM Internasional ini diikuti oleh Warga Negara Indonesia dari beragam latar belakang profesi, mulai dari pekerja migran yang sehari-hari beraktivitas sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di thailand, para profesional yang bekerja di sektor jasa dan perusahaan multinasional, hingga pengusaha yang mengembangkan usaha di bidang pariwisata, kuliner, maupun perdagangan.
Keragaman profesi ini mencerminkan dinamika kehidupan diaspora Indonesia yang kompleks, namun tetap terikat oleh satu identitas sebagai anak bangsa. Lebih menarik lagi, para peserta datang dari berbagai daerah di tanah air, seperti Jakarta yang kosmopolitan, Banjarmasin yang kaya akan budaya Banjar, Palembang dengan tradisi kuliner dan sejarahnya, Manado yang terkenal dengan kekayaan bahari, hingga Bandung dan Jawa Barat yang identik dengan kreativitas serta seni pertunjukan sebagai latar belakang kegiatan PKM Internasional ini menurut Ketua PKM Yaitu Andreas Suwandi, S.Pd, M.Pd. Keberagaman daerah asal ini memperlihatkan bahwa komunitas diaspora Indonesia di Thailand bukanlah kelompok yang homogen, melainkan sebuah miniatur Indonesia yang hadir di luar negeri. Dengan demikian, pelaksanaan PKM ini tidak hanya menjadi wadah akademik untuk berbagi pengetahuan dan nilai-nilai budaya, tetapi juga menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan luasnya jangkauan serta kekayaan identitas bangsa yang tetap terpelihara meski berada jauh dari tanah air.

Pada sesi awal kegiatan, tim PKM dosen Program Studi Pendidikan Pariwisata yang diwakili oleh Nadhia maesari S.Pd, M.Par untuk memberikan materi terkait dengan Tantangan besar diaspora yang menetap di luar negeri, khususnya di Thailand. Dari Kegiatan PKM Internasional tersebut di dapatkan data observasi hasil pengamatan maupun pengalaman langsung para peserta, teridentifikasi salah satu persoalan utama yang kerap muncul, yaitu potensi hilangnya solidaritas dan keterikatan sosial di antara sesama WNI. Keterbatasan ruang untuk berkumpul menjadi salah satu penyebab utama. Tidak semua daerah di Thailand memiliki pusat komunitas Indonesia yang aktif atau terorganisasi dengan baik, sehingga interaksi antaranggota diaspora sering kali terbatas pada acara-acara tertentu seperti peringatan hari besar nasional atau kegiatan keagamaan. Selain itu, pengaruh budaya lokal yang begitu kuat turut memengaruhi pola hidup diaspora. Banyak dari mereka yang berbaur dengan masyarakat setempat, menikah dengan warga lokal, atau bekerja dalam lingkungan yang didominasi budaya Thailand, sehingga lambat laun keterikatan dengan komunitas Indonesia bisa memudar. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, karena tanpa adanya ruang yang cukup untuk bersilaturahmi, identitas budaya Indonesia dalam diri diaspora berisiko semakin tergerus. Melalui forum diskusi inilah, tim PKM mendorong peserta untuk menyadari bahwa solidaritas sosial merupakan pondasi penting dalam mempertahankan identitas bangsa di luar negeri, dan keberadaan kegiatan pengabdian semacam ini bisa menjadi salah satu sarana strategis untuk menjaga serta memperkuat rasa kebersamaan tersebut.

Tim PKM Internasional Pada sesi berikutnya di pandu oleh Dr. Rini Andari, S.Pd, SE.Par, M.M dalam kesempatan berikutnya mengajak peserta untuk memahami bahwa pariwisata bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana edukatif yang sangat efektif dalam menanamkan identitas dan kebanggaan budaya. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PKM, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Pariwisata memberikan penekanan khusus pada metode guiding sebagai salah satu pendekatan utama dalam memperkenalkan pariwisata Indonesia. Guiding bukan hanya teknik mendampingi wisatawan, tetapi juga sebuah metode penyampaian cerita, nilai, dan identitas budaya kepada orang lain. Dalam konteks diaspora Indonesia di Thailand, guiding dipandang relevan karena dapat melatih peserta, khususnya orang tua, untuk mampu mengkomunikasikan nilai-nilai budaya Indonesia kepada anak-anak mereka maupun kepada masyarakat sekitar dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Guiding menjadi alat yang efektif untuk menjadikan pariwisata lebih dari sekadar perjalanan rekreasi, melainkan pengalaman yang penuh makna dan sarat edukasi.
Selain metode guiding, kegiatan PKM juga menekankan wisata sebagai media edukatif yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Tim PKM menegaskan bahwa pariwisata memiliki kekuatan unik karena menggabungkan aspek pengalaman langsung, cerita budaya, keindahan visual, hingga interaksi emosional. Melalui kegiatan wisata, seseorang tidak hanya melihat keindahan suatu tempat, tetapi juga belajar tentang sejarah, tradisi, dan filosofi kehidupan masyarakat setempat. Bagi diaspora Indonesia, hal ini penting karena setiap destinasi wisata Indonesia menyimpan identitas kebangsaan yang dapat menjadi bahan ajar bagi generasi muda. Dengan kata lain, pariwisata membuka ruang belajar yang lebih hidup dan membekas, dibandingkan sekadar membaca buku atau mendengar penjelasan teoritis.

Tim PKM Internasional juga menekankan bahwa penanaman nasionalisme melalui pariwisata sebaiknya dimulai dari lingkup keluarga, dengan orang tua sebagai aktor utama. Orang tua dapat memanfaatkan cerita rakyat, gambar destinasi, tarian tradisional, hingga masakan khas daerah sebagai bentuk “wisata mini” yang dilakukan dari rumah. Sementara itu, kegiatan guiding dapat dilatih dengan cara sederhana, misalnya ketika orang tua berpura-pura menjadi pemandu yang menjelaskan sebuah destinasi kepada anak-anak. Dengan pendekatan ini, nilai nasionalisme ditanamkan bukan melalui hafalan, melainkan melalui pengalaman yang menyenangkan, interaktif, dan berkesan. Anak-anak akan lebih mudah merasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia karena mereka terhubung secara emosional dengan cerita, budaya, dan pengalaman yang diperkenalkan oleh orang tua mereka.
Melalui kunjungan ke destinasi wisata, seseorang dapat memperoleh pengalaman yang jauh lebih kaya dibandingkan sekadar membaca buku atau melihat gambar, karena di dalamnya terkandung pelajaran tentang budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk jati diri bangsa. Tim memberikan contoh konkret, misalnya ketika mengunjungi Candi Borobudur di Jawa Tengah, peserta tidak hanya menyaksikan kemegahan arsitektur kuno, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai spiritual dan filosofi kehidupan yang diabadikan dalam relief-reliefnya. Begitu pula ketika mendatangi Tana Toraja di Sulawesi, wisatawan bukan hanya melihat rumah adat Tongkonan yang unik, melainkan juga memahami makna mendalam dari tradisi pemakaman yang menjadi warisan budaya dunia. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa destinasi wisata Indonesia dapat menjadi kelas belajar terbuka yang sarat makna, di mana pengalaman langsung memberikan kesan yang jauh lebih kuat dalam membangun rasa cinta tanah air, terutama bagi anak-anak diaspora yang tumbuh dalam budaya asing.
Dengan pendekatan pariwisata sebagai media edukatif, diaspora Indonesia di Thailand akhirnya menemukan cara yang praktis sekaligus menyenangkan untuk menanamkan identitas budaya tanah air kepada generasi muda. Melalui berbagai aktivitas yang telah dicoba dalam kegiatan PKM, mulai dari bercerita, menari, hingga simulasi guiding orang tua kini memiliki bekal untuk menjadikan destinasi wisata sebagai pintu masuk dalam membangun kebanggaan nasional pada anak-anak mereka. Hal ini membuktikan bahwa pariwisata tidak lagi dipandang semata sebagai sarana rekreasi, melainkan juga sebagai jembatan penting yang menghubungkan diaspora dengan Indonesia, meskipun mereka tinggal jauh di negeri orang. Bagi anak-anak, pengalaman mengenal destinasi wisata melalui cerita, gambar, tarian, atau permainan edukatif memberikan kesan yang lebih kuat daripada sekadar hafalan. Sementara itu, bagi orang tua, kegiatan ini meneguhkan peran mereka sebagai penghubung utama anak-anak dengan tanah air. Dengan demikian, sesi pariwisata sebagai media edukatif dalam PKM ini berhasil menegaskan bahwa setiap destinasi wisata Indonesia adalah ruang belajar yang kaya makna, yang dapat membentuk rasa cinta tanah air sekaligus memperkuat ikatan kebangsaan di kalangan diaspora Indonesia di Thailand.
Kegiatan PKM Internasional ini dapat menjadi wadah yang sangat penting dalam mempererat silaturahmi antar WNI di Thailand. Kegiatan yang dirancang tidak hanya sebatas penyampaian materi satu arah, tetapi juga diisi dengan forum diskusi, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas interaktif yang membuat suasana menjadi lebih hangat dan penuh kebersamaan. Dalam forum diskusi, para peserta dapat saling bertukar cerita mengenai pengalaman hidup mereka di perantauan, mulai dari tantangan pekerjaan, pendidikan anak, hingga cara menjaga identitas Indonesia di tengah budaya asing. Sementara itu, permainan edukatif yang dirancang oleh tim memberikan nuansa segar, di mana peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif dengan cara yang menyenangkan. Aktivitas-aktivitas ini berhasil mencairkan suasana, menghilangkan sekat perbedaan latar belakang, dan membawa peserta kembali merasakan kehangatan sebagai bagian dari komunitas besar Indonesia. Banyak peserta yang mengaku merasa seperti “pulang ke rumah” meskipun mereka sedang berada di negeri orang. Momen kebersamaan ini memperlihatkan bahwa PKM Internasional bukan sekadar agenda akademik, melainkan juga media yang efektif untuk merawat solidaritas dan identitas kebangsaan, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di antara diaspora.

Bentuk nyata keberhasilan dari kegiatan PKM Internasional ini juga yaitu terciptanya jaringan komunikasi yang lebih solid antar-diaspora, di mana peserta yang sebelumnya kurang intens berkomunikasi kini dapat bertukar kontak dan menjalin rencana pertemuan lanjutan. Tim dosen menekankan pentingnya membangun komunitas diaspora yang inklusif, di mana perbedaan latar belakang profesi maupun daerah asal bukan menjadi penghalang, melainkan justru kekayaan yang memperkuat identitas bersama sebagai bangsa Indonesia. Melalui sesi diskusi kelompok, peserta diajak menggali beragam permasalahan sehari-hari yang mereka hadapi di Thailand, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun identitas nasional, dan hasil diskusi ini kemudian dirangkum sebagai masukan berharga untuk pengembangan program PKM berikutnya agar lebih tepat sasaran. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari perwakilan KBRI di Thailand, yang menegaskan bahwa peran akademisi melalui PKM sangat membantu pemerintah dalam menjaga kedekatan warga dengan tanah air serta memperkuat rasa kebangsaan di luar negeri. Kehadiran PKM pun menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas diaspora, dan lembaga diplomatik dapat menghadirkan dampak yang signifikan. Dengan demikian, sesi-sesi awal hingga penutup dari kegiatan ini berhasil menciptakan ruang silaturahmi yang selama ini terbatas, sekaligus menghadirkan solusi konkret terhadap tantangan keterputusan sosial dan budaya yang dihadapi oleh diaspora Indonesia di Thailand.
Ekshibisi Guiding Destinasi Wisata Indonesia Untuk Meningkatkan Semangat Nasionalisme di Thailand
