Oleh : Ali Amril – Aktivis Filantropi Dunia Islam & Chairman Aliansi Kemanusiaan Indonesia (AKSI)
Tragedi Kemanusiaan di RS Gaza
Asap mengepul di atas reruntuhan gedung Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza. Jeritan menggema, derap langkah warga berlarian panik, bercampur dengan suara ledakan. Di tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi harapan hidup, justru kematian dibagikan tanpa ampun.
Dokter dan tenaga medis yang sedang menolong korban justru dibunuh. Mereka yang seharusnya dilindungi hukum internasional, diburu bak binatang buruan tanpa belas kasih. Beberapa langkah dari sana, jurnalis yang datang meliput dengan kamera tergantung di leher dan beridentitas “PRESS” ikut diluluh-lantakkan bersimbah darah. Kamera mereka hancur, lensa mereka binasa, menyisakan simbol kebenaran yang ikut dikuburkan.
Dunia menyaksikan melalui potongan video yang viral. Dari tragedi itu, kita melihat wajah sebuah genosida secara utuh : dokter dibunuh, jurnalis dimatikan, rakyat dilaparkan tanpa ampun
Membunuh yang Menolong
Tenaga Medis adalah wajah paling murni dari kemanusiaan. Mereka menolong tanpa pernah memandang agama, suku, dan warna kulit. Namun di Gaza, mereka ikut jadi korban genosida.
Dalam Konvensi Jenewa, rumah sakit dan tenaga medis berada di bawah perlindungan. Namun kini tak ada lagi garis merah. Yang menolong pun ikut dibunuh. Yang merawat nyawa pun justru direnggut nyawanya.
Maka ketuklah nurani kita : apakah masih ada yang tersisa dari kemanusiaan kita, jika bahkan tangan yang menolong pun ikut dibunuh?
Membungkam yang Menyuarakan
Jurnalis adalah mata, hati dan telinga dunia. Mereka berada di garis terdepan untuk menyaksikan dan menyuarakan. Namun di Gaza, kamera pun dianggap musuh.
Para jurnalis ikut tewas dalam serangan itu. Lensa yang semula ingin merekam, kini hanya merekam bayangan darah mereka sendiri. Membunuh jurnalis sama saja dengan membunuh kebenaran. Dunia kehilangan saksi. Gaza kehilangan suara.

Ketika suara dimatikan, yang mati bukan hanya manusia, namun kebenaran itu sendiri.
Melaparkan yang Bertahan Hidup
Gaza kini menjadi peta kelaparan paling akut di dunia. Anak-anak dibuat mati dengan perut kosong. Para orang tua yang masih bertahan hidup, menyerahkan jatah makanan terakhir untuk anak-anak mereka. Ibu-ibu kehilangan susu untuk bayinya.
Mereka dilaparkan dan dibunuh perlahan bukan dengan peluru, tetapi dengan bantuan makanan yang ditahan di perbatasan. Dengan obat-obatan yang sengaja diblokade. Dengan listrik dan air yang sengaja dimatikan. Mereka ingin generasi Palestina hilang, bukan dengan bom, namun dengan pelaparan sistemik yang masih berlangsung.
Ini bukanlah perang. Ini genosida perlahan. Sebuah pembantaian yang mematikan masa depan Generasi Palestina
Palestina Masih Dibunuh Berkali-kali
Mari kita rangkai benang merah ini. Membunuh yang menolong = membunuh harapan hidup. Membungkam yang menyuarakan = membunuh kebenaran. Melaparkan yang bertahan hidup = membunuh masa depan.
Inilah wajah utuh dari genosida. Wajah paling kelam dari sejarah peradaban umat manusia. Di Gaza, yang dibunuh bukan hanya manusia, tapi juga hidup, suara, dan masa depan.
Dunia yang sebagiannya masih Diam
Ironisnya, seluruh dunia telah menyaksikan semua fakta pahit ini. Dunia menonton, namun sebagiannya masih memilih diam. Pertanyaannya: sampai kapan akan terus diam?
Indonesia lahir dari penderitaan penjajahan. Kita tahu rasanya dijajah, dipaksa tunduk, dirampas tanah dan hak oleh penjajah. Karenanya lah, bangsa ini seharusnya paling peka terhadap Palestina.
Kalau kita ikut diam, maka kita sedang ikut membunuh Palestina, namun dengan cara lain
Manifesto dan Ajakan
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Ini bukan sekadar kalimat dalam konstitusi kita. Itu adalah sumpah sejarah dan peradaban. Sumpah ini menuntut kita untuk berdiri bersama Palestina dan menyatakan keberpihakan.
Jika dokter dibunuh, suara pers dimatikan, dan rakyat dilaparkan, maka suara kitalah yang harus menggema!
Kita harus menjadi perpanjangan tangan bagi yang menolong. Kita harus menjadi perpanjangan suara bagi yang menyuarakan. Kita harus menjadi perpanjangan doa dan harapan bagi yang dilaparkan.
Dari setiap kota, dari setiap jalan, dari setiap hati nurani, mari bersuara sampai Palestina merdeka!
Palestina: Habis Nyawa, Terbitlah Luka
