Jobuzo – Ekonomi sebuah negara ibarat pesawat raksasa yang sedang menembus langit. Pesawat ini mengangkut ribuan penumpang dari berbagai latar belakang: konglomerat dengan modal besar duduk di kelas bisnis, pedagang kaki lima berada di kursi ekonomi, sementara generasi muda yang baru belajar mengatur uang menjadi penumpang yang masih asing dengan aturan keselamatan. Setiap kursi terisi, setiap individu memiliki peran, dan setiap turbulensi yang terjadi berpotensi memengaruhi seluruh kabin.
Dalam cuaca cerah, penerbangan terasa mulus. Namun, dunia ekonomi tidak pernah benar-benar bebas dari awan hitam. Kadang badai global mengguncang, terkadang kebijakan negara lain memicu gelombang kejut, atau sentimen masyarakat yang justru menimbulkan kepanikan. Ibarat perjalanan panjang, kita tidak bisa memilih hanya terbang di langit biru. Kita harus siap menghadapi badai.
Belakangan, guncangan itu makin terasa. Banyak masyarakat terburu-buru membeli emas karena takut kehilangan momen aman (safe haven). Fenomena antrean panjang di gerai emas bukan semata karena tren, melainkan lahir dari kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah dan kondisi global. Sayangnya, keputusan yang diambil dengan emosi justru melahirkan potensi masalah baru.
Di tingkat internasional, badai ekonomi bertiup kencang. Kebijakan tarif impor tinggi yang diluncurkan Amerika Serikat demi melindungi industrinya justru menjadi hambatan baru bagi negara lain, termasuk Indonesia. Dampaknya berlapis: produk kita kehilangan daya saing, ekspor terhambat, manufaktur melambat, hingga tekanan terhadap rupiah meningkat. Pasar saham pun sempat goyah, sampai otoritas bursa terpaksa menghentikan sementara perdagangan.
Situasi ini mengingatkan kita pada dua momen pahit: krisis moneter 1998 dan hantaman pandemi Covid-19. Keduanya menunjukkan betapa rapuhnya sistem ketika seluruh unsur tidak siap menghadapi guncangan.
Dalam penerbangan ekonomi, Bank Indonesia berperan sebagai pilot utama. Namun, ia tidak bekerja sendirian. Ada menara pengawas yang dihuni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Keempat lembaga ini berkoordinasi dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) untuk memastikan lalu lintas keuangan tidak saling bertabrakan.
Kehadiran UU P2SK ibarat memperluas radar pesawat. Aturan ini membuat koordinasi antar-lembaga lebih gesit: deteksi dini diperkuat, protokol krisis disiapkan, dan komunikasi lintas lembaga dipercepat. Dengan begitu, respons bisa lebih cepat ketika badai datang.
Peran Penumpang Sama Pentingnya
Namun sehebat apa pun pilot dan sistem navigasi, keselamatan penerbangan juga ditentukan oleh penumpang. Dalam dunia penerbangan, setiap penumpang diberi arahan tentang cara menggunakan sabuk pengaman atau menemukan pintu darurat. Hal yang sama berlaku dalam sistem keuangan: literasi dan inklusi adalah “sabuk pengaman” masyarakat.
Hasil survei nasional terbaru menunjukkan, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi sudah 80,51%. Artinya, banyak orang sudah bisa mengakses layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya.
Untuk menutup celah ini, edukasi keuangan harus dilakukan secara kreatif bahkan sebelum krisis benar-benar terjadi. Salah satu ide menarik adalah simulasi krisis berbasis permainan digital. Masyarakat bisa berlatih mengambil keputusan keuangan dalam skenario virtual, misalnya ketika inflasi melonjak atau pasar saham jatuh dan langsung melihat dampaknya.
Jika simulasi kreatif ini dapat diintegrasikan dengan kampanye seperti Cinta Bangga Paham Rupiah atau program digitalisasi pembayaran seperti QRIS, maka edukasi bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga membangun ketahanan mental masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Menjaga Stabilitas Bersama
Ekonomi Indonesia, seperti pesawat besar, akan terus menghadapi turbulensi. Kita memang tidak bisa menghalau badai global, tetapi kita bisa memastikan pesawat tetap stabil di udara. Koordinasi pemerintah dan otoritas keuangan adalah fondasi, namun fondasi itu hanya kokoh bila penumpang, yakni masyarakat juga siap dengan sabuk pengamannya.
Prinsip sederhana yang seharusnya kita pegang adalah: bersiaplah menghadapi yang terburuk, sambil berharap yang terbaik. Dalam perjalanan panjang bernama pembangunan ekonomi, yang membuat kita selamat bukan hanya kecanggihan pesawat atau kepiawaian pilot, melainkan juga kesadaran setiap penumpang untuk menjaga keselamatan bersama.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra
Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia
Sabuk Pengaman Bernama Literasi Keuangan
