Sore itu, Kedai Nasi Kebuli Basmati Risaldi 99 di Muarabakti, Babelan, penuh aroma daging kambing muda yang baru ditumis rempah. Dicky, si pemilik kedai yang juga punya peternakan kambing, mondar-mandir sambil sesekali nyamber gelas kopi pahit pelanggan.
“Kopi gue tetep paling jago bikin mata melek, Kong,” katanya pada Bisot, sambil ketawa ngakak.
Di pojokan kedai, Ki Somad duduk santai dengan sarung khasnya, nyeruput kopi hitam. Ada Aman, guru madrasah yang rajin bawa buku pelajaran; Umam, guru silat yang lengannya masih bau minyak gosok; Andi, anak band berotot kayak Rambo; dan tentu Bisot, bloger pecinta kopi.
Suasana ramai tapi hangat. Tawa bersahut dengan dentuman panci di dapur. Hingga tiba-tiba, Bisot membuka topik serius.
“Ki,” katanya sambil nyedot kopi. “Ente pernah kepikiran gak? Kenapa kemungkaran makin rame sekarang, apalagi di medsos? Orang ngata-ngatain, nuduh sembarangan, kayak gak ada rem.”
Ki Somad hembuskan asap kretek. “Lah iya, Sot. Kemungkaran itu bukan cuma di jalanan. Di layar hape juga nongol tiap detik.” Ia sambil nunjuk HP Xiaomi jadulnya Bisot.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Sesuai Kapasitas
Aman yang dari tadi baca kitab nyeletuk, “Dalam hadis Rasulullah, jelas. Barang siapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan. Kalau gak bisa, pake lisan. Kalau gak bisa juga, ingkari dengan hati. Itu selemah-lemahnya iman.”
Umam langsung nyamber, “Tangan? Nah, cocok sama gue. Kalau ada yang bikin onar, tinggal gue pelintir dikit tangannya. Kelar urusan.”
Andi ngakak, “Kalau semua pakai tangan, nanti dunia jadi gelanggang silat. Gue bisa pake gitar buat gebuk maling.”
Aman mengernyit, “Jangan main-main, Ndi. Mencegah kemungkaran itu kewajiban.”
Bisot angkat tangan. “Menurut gue, kekuatan lisan lebih efektif. Lewat blog, caption IG, status Facebook. Orang sekarang lebih sering baca postingan ketimbang dengar ceramah panjang.”
Dicky ikut nimbrung sambil ngaduk kopi. “Lisan emang penting, tapi kenyataannya orang cuek. Mending langsung to the point. Kalau ada maling kambing, ya gebukin rame-rame aja. Beres.”
Obrolan makin panas. Umam dukung tangan, Andi bercanda dengan musiknya, Aman tetap ngotot dengan lisan, Bisot sibuk ngopi sambil scroll Instagram, dan Dicky makin ribut soal aksi lapangan.
Makna Tangan
Ki Somad ketawa kecil, “Eh, ngapah jadi ribut kayak kambing rebutan kandang? Sini denger dulu.” Ia meletakkan gelas kopinya, lalu berkata pelan tapi tegas.
“Hadis Arbain nomor 34 memang bilang begitu. Tapi inget, makna ‘tangan’ di situ bukan cuma berarti tangan beneran atau literal. Jangan sampe ada kesimpulan maen tangan gebuk-gebukan itu sunah. ‘Tangan’ bisa juga bermakna kekuasaan atau kewenangan. Presiden, gubernur, bupati, anggota dewan, camat sampe lurah itu mereka punya kewenangan. Mereka harus pake kewenangan dan kekuasaan buat mencegah kemungkaran. Kalau kita orang biasa? Jangan pada sok jagoan ngapah, tiap ada masalah langsung maen tangan.”
Umam nyengir, “Jadi gak boleh gebukin maling, Ki?”
“Bukan gak boleh, kalau darurat dan ada hukum adat bisa aja. Tapi jangan seenaknya. Ada aparat, ada hukum. Jangan pake emosi doang, kudu pake otak juga.”
Ki Somad melanjutkan, “Kalau lisan, itu tugas orang berilmu. Kayak Aman, guru madrasah, bisa ngasih nasihat pakai lisannya. Atau Bisot lewat tulisannya. Tapi inget, kata-kata juga harus baik. Jangan malah bikin orang baper, tambah panas atau malah provokasi.”
Andi angkat tangan, “Kalau gue anak band bisa apa, Ki?”
Ki Somad tersenyum, “Musik lo bisa jadi dakwah juga, Ndi. Jangan kira cuma ceramah yang nyampe ke hati orang. Lirik dan musik lagu “Next Level Band” pun bisa mengetuk hati kalau niatnya benar.”
Dicky menggaruk kepala. “Kalau cuman hati doang, Ki? Itu kan katanya iman yang paling lemah.”
Ki Somad menghela napas panjang. “Justru hati itu fondasi. Kalau hati udah gak benci sama kemungkaran, iman runtuh. Minimal kalau kita gak mampu pake tangan atau lisan, kita tetap jaga hati biar gak ikut-ikutan atau mendukung yang salah.”

Jangan Remehkan Hati
Obrolan mulai reda. Angin sore masuk lewat pintu kayu kedai. Di luar, azan magrib mulai terdengar.
Aman menutup kitabnya. Bisot menghabiskan kopi. Umam mematikan musik dangdut dari HP. Andi melirik gitarnya. Dicky akhirnya berhenti ngoceh soal kambing.
Ki Somad menutup dengan kata-kata, “Hidup itu pilihan. Mau jadi penonton kemungkaran atau pelaku kebaikan. Rasulullah bersabda, Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Dan itu selemah-lemahnya iman. Tapi, jangan remehkan hati, tapi jangan juga berhenti cuman di hati. Mencegah kemungkaran itu kerja bareng, sesuai kemampuan masing-masing. Yang penting niat kita lurus karena Allah.”
Semua terdiam, merenung. Ki Somad lalu menyalakan lagi kreteknya, “Jadi, jangan pada sok jago, jangan juga jadi penonton. Mulai dari diri, mulai dari hati, baru ke lisan baru ke tangan. Baru dah insyaallah dunia sekitar kita bisa ikut berubah.” sambil ngasih isyarat ajakan menuju ke musolah.
Penutup
Pada akhirnya, hati adalah benteng terakhir manusia. Rasulullah sudah mengingatkan bahwa mengingkari kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemahnya iman, tapi itu tetap iman. Artinya, selama hati masih menolak keburukan, masih ada cahaya yang bisa tumbuh. Jangan remehkan hati, sebab dari hati yang bersih lahir lisan yang jernih dan tindakan yang benar.
Dari hati yang bersih lahir lisan yang jernih dan tindakan yang benar
Kalau hati kita sudah terbiasa diam terhadap keburukan, lama-lama ia jadi kebal dan mati rasa. Di situlah bahaya terbesar. Maka, mari rawat hati agar tetap hidup. Jangan malu memulai dari yang kecil, karena justru niat yang tulus dari hati itulah yang membuat langkah kita bernilai di hadapan Allah.
Mencegah kemungkaran bukan hanya soal kekuatan tangan atau fasihnya lisan, tapi juga soal menjaga hati agar tetap berpihak pada kebaikan. Sebab kalau hati sudah tunduk pada kebenaran, maka dunia di sekitar kita pun pelan-pelan akan ikut berubah.