Oleh: Hanna
Jobuzo – Di era persaingan kerja yang semakin ketat, kemampuan akademik saja tidak lagi cukup menjadi bekal utama lulusan perguruan tinggi. Perusahaan kini mencari talenta yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menyampaikan ide dengan jelas, meyakinkan, dan profesional. Di sinilah public speaking menjadi kebutuhan dasar setiap mahasiswa sebelum melangkah ke dunia kerja. Keterampilan berbicara di depan umum bukan sekadar modal presentasi tugas kuliah, tetapi jembatan penting untuk membangun kepercayaan diri, jejaring profesional, dan citra diri di ruang kerja.
Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki gagasan brilian, namun ragu menyampaikannya karena takut salah, malu dinilai orang lain, atau merasa kurang percaya diri. Melatih public speaking sejak di bangku kuliah membantu mahasiswa belajar menerima dan menghargai dirinya sendiri, sekaligus mengelola rasa cemas saat tampil. Saat seseorang berani menjadi dirinya sendiri dan mampu mengomunikasikan pikirannya secara terbuka, peluang untuk didengar, dihargai, dan diakui di lingkungan profesional menjadi jauh lebih besar. Keberanian inilah yang kelak dibutuhkan saat memimpin rapat, mempresentasikan proyek, atau melakukan negosiasi dengan klien.
Berbagai pelatihan dan praktik public speaking di kampus dapat menjadi “laboratorium sosial” bagi mahasiswa. Melalui simulasi presentasi, sesi berbagi pengalaman, hingga latihan menyampaikan pendapat di depan teman sekelas, mahasiswa belajar menyusun alur bicara, memilih diksi yang tepat, serta menjaga bahasa tubuh dan intonasi suara. Suasana yang suportif dan saling mengapresiasi membuat mereka merasa aman untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki diri. Kebiasaan ini akan membentuk pola pikir bahwa berbicara di depan umum adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan semata.
Dosen UPN Veteran Jawa Timur, yang diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi ini diisi dengan sesi interaktif mengenai pentingnya menjadi diri sendiri, mengenali kekuatan pribadi, hingga praktik langsung berbicara di depan teman sekelas. Dosen pembimbing, Ade Kusuma, M.I.Kom, membuka kegiatan dengan menyampaikan pentingnya kepercayaan diri di usia remaja.
“Kepercayaan diri bukan hanya tentang berani tampil, tapi tentang menerima diri sendiri secara utuh. Saat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri, di situlah bahagia yang sejati muncul,” ungkap Ade Kusuma saat menyapa para siswa.
Kegiatan ini sebagai ruang kreasi mahasiswa Ilmu Komunikasi: Ananda Salma Armelita, Alesandro Naysa Pangeran, Muhammad Thariq Taqi, Devina Rizky Laurentia, Meisya Ayu Faradila di SMP Negeri 1 Sedati.
Selain itu, public speaking juga berkaitan erat dengan kemampuan memahami dan mengelola emosi. Mahasiswa belajar mengenali sumber kecemasan, membedakan kritik yang membangun dan komentar yang menjatuhkan, serta membiasakan diri untuk tetap tenang di bawah tekanan. Di dunia kerja, kemampuan ini sangat berharga ketika harus menyampaikan kabar kurang menyenangkan, membela keputusan tim, atau menghadapi audiens yang kritis. Public speaking yang baik bukan hanya soal fasih berbicara, tetapi juga soal keteguhan sikap, empati, dan kemampuan membaca situasi.
Pada akhirnya, menjadikan public speaking sebagai kebutuhan dasar mahasiswa berarti menyiapkan mereka untuk menjadi profesional yang siap tampil, memimpin, dan berkontribusi secara nyata. Kampus yang serius mengintegrasikan pelatihan public speaking ke dalam kegiatan kurikuler maupun ko-kurikuler sesungguhnya sedang menyiapkan lulusan yang tidak hanya “siap kerja” di atas kertas, tetapi juga siap hadir dan bersuara di ruang-ruang pengambilan keputusan. Sebab, di dunia kerja modern, ide yang baik baru akan berdampak jika mampu dikomunikasikan dengan jelas dan meyakinkan.
Menguji Keberanian Bicara: Public Speaking sebagai Kebutuhan Dasar Mahasiswa di Dunia Kerja