Kisah Persahabatan Dua Bocah Kali CBL: Saudara Tak Sedarah
Sore itu, langit di atas Kali CBL memerah saga. Angin berhembus pelan, membawa aroma khas sisa pembakaran sampah dan tanah basah di pinggiran kali. Di sudut sebuah warung kopi sederhana, tiga lelaki duduk mengelilingi meja kayu yang catnya mulai terkelupas dimakan usia.
Tiga gelas kopi hitam di atas meja masih mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma pahit yang menenangkan.
Maman menatap pusaran hitam di gelas kopinya, seolah mencari jawaban di sana. Di seberangnya, Eli duduk santai, sesekali menghela napas panjang melepaskan beban hari itu. Ki Somad, pemilik warung yang rambutnya sudah memutih semua, memandang mereka sambil tersenyum bijak.
“Dari gelagat kalian, kelihatannya bukan persahabatan bocah tebang-tebang,” celetuk Ki Somad sambil menyodorkan pisang goreng. “Udah berapa lama jadi bestie?”
Maman tersenyum tipis, matanya menerawang.
“Semprakan masih bocah ingusan, Ki. Sejak zaman putih biru di MTs.”
“Keren ituh… awet bener,” Ki Somad sumringah. “Ceritain lah, biar ngopi sore ini ada hikmahnya.”
Eli menoleh ke arah sungai yang mengalir tenang. “Kalo diinget-inget, ceritanya panjang dan berliku, Ki. Gak kayak aliran kali CBL yang lempeng.”
Dan ingatan itu pun memutar waktu ke belakang.
Kilas Balik Masa Lalu
Hari pertama masuk MTs Baitul Mu’minin Babelan. Matahari terasa menyengat, membakar kulit. Murid-murid baru berbaris kaku di lapangan. Maman berdiri gelisah, keringat dingin mengucur, tangannya sibuk memilin ujung tali sepatu karena gugup. Berusaha mencari wajah yang ia kenal.
Tiba-tiba, sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya.
“Lu dari mana, Bro?” tanya seorang anak dengan senyum lebar tanpa beban.
“Ba… Babakan,” jawab Maman terbata.
“Gue Eli dari Muarasepak.”
Mereka berjabat tangan. Kulit bertemu kulit, mata bertemu mata. Saat itu, tak ada yang menyangka bahwa jabat tangan sederhana di tengah terik matahari itu adalah awal dari persaudaraan yang akan bertahan belasan tahun sampai sekarang. Sejak hari itu, mereka seperti amplop dan perangko. Di mana ada Maman, di situ ada Eli.
Di kelas, persaingan mereka seru tapi sehat. Kalau Maman dapat ranking satu, Eli pura-pura cemberut sambil melempar gumpalan kertas, “Hoki doang lu, Man!”
Sebaliknya, kalau Eli yang nilainya lebih tinggi, Maman akan tertawa sambil menuduh, “Pasti nyontek catetan di meja!”
Sepulang sekolah, seragam putih biru itu kerap kotor oleh lumpur. Mereka bermain bola sampai langit berubah jingga. Suka nginap bersama hingga malamnya mereka duduk bersila menatap bintang sambil membicarakan mimpi-mimpi yang terdengar lugu: ingin jadi guru hebat, punya motor sendiri biar keren, dan membahagiakan Emak-Bapak.
Perjuangan Masa Remaja
Masa remaja mereka penuh warna. Pernah suatu malam minggu, berboncengan sepeda sundung tua yang rantainya sering lepas. Maman mengayuh sekuat tenaga sampai betisnya pegal, sementara Eli di boncengan bernyanyi lagu Kangen Band sekeras-kerasnya, merasa dirinya vokalis papan atas. Tujuan mereka nekat: mampir ke rumah gebetan alias ‘apel’.
Jantung berdegup kencang saat mengetuk pintu. Namun, yang keluar bukan gadis pujaan, melainkan bapak-bapak berkumis tebal melintang dengan wajah garang. Nyali mereka langsung ciut jadi seukuran biji jagung.
“Cari siapa, Tong?!” suara bapak itu menggelegar.
Maman dan Eli saling sikut, gemetar.
“Ee… anu, Pak. Mau minjem buku tulis buat PR…” jawab Eli asal.
Untunglah, bapak itu tersenyum maklum melihat tingkah remaja tanggung yang salah tingkah. Pulang dari sana, mereka tertawa bergema di jalan sepi yang gelap. Rasa takut lenyap digantikan euforia kebersamaan dan kegembiraan berhasil menemui gebetan.
Pernah juga kenakalan kecil terjadi. Di tanggul sungai, mereka pura-pura mendorong sepeda, memasang wajah memelas pada penjaga kebun semangka.
“Rantai putus, Mang… haus banget,” dusta mereka kompak.
Penjaga kebun yang iba memberi sebuah semangka. Sepanjang jalan pulang, mereka memakan buah itu dengan perasaan campur aduk: senang dapat gratisan, tapi juga deg-degan takut dosa.
Ujian Kedewasaan
Masuk SMK, realita hidup mulai menampar. Uang jajan seringkali hanya cukup untuk ongkos. Tak mau menyusahkan orang tua, mental pejuang mereka muncul. Mereka nekat berjualan es mambo keliling kampung.
“Man, yakin kita nggak bakal diketawain?” tanya Eli ragu, memeluk termos es erat-erat. Gengsi remajanya memberontak.
“Li, kalau nggak dicoba, kita nggak bakal tahu rasanya sukses. Malu itu kalau nyuri, bukan jualan,” jawab Maman mantap, meski hatinya juga berdebar.
Mereka berteriak menjajakan es keliling gang kampung. Kadang laris manis, kadang gak ada yang melirik.
Kalau nggak dicoba, kita nggak bakal tahu rasanya sukses. Malu itu kalau nyuri, bukan jualan
“Gagal total kita hari ini,” keluh Eli, menatap nanar air hujan.
Maman menepuk bahu sahabatnya yang basah itu.
“Li, dengerin gue. Yang gagal itu esnya, bukan kita. Mental kita justru makin jadi baja gara-gara hujan ini.”
Kalimat sederhana itu terpatri kuat di hati mereka sampai detik ini.
Badai Ego dan Perbedaan
Lulus sekolah, jalan nasib bercabang. Eli merantau mencari pengalaman, Maman bertahan menjaga kampung halaman. Meski jarang bertemu, ikatan batin tetap kuat.
Namun, ujian persahabatan terberat justru datang dari perbedaan pendapat saat Pemilihan Kepala Desa.
Maman mendukung calon A yang tegas dan disiplin. Eli mati-matian membela calon B yang merakyat. Awalnya hanya debat kecil, lama-lama merembet ke hati. Ego mereka terusik.
“Kalau pemimpin lembek, desa kita bakal gini-gini aja, Li!” sahut Maman dengan emosi.
“Lu nggak ngerti, Man! Warga butuh didenger, bukan diperintah!” balas Eli tak mau kalah.
Sejak itu, silent treatment terjadi. Tak ada lagi tegur sapa dan saling menjauh. Jika berpapasan di jalan, mereka membuang muka seolah tak pernah kenal.
Dingin. Beku.
Ada rasa sakit yang menyelinap di dada setiap kali mereka saling diam.
Hari pemilihan berlalu. Salah satu calon menang. Tapi kenyataannya? Tak ada yang berubah signifikan. Janji tinggal janji. Yang tersisa hanyalah dua sahabat yang kehilangan tempat curhat.
Suatu sore di Pasar Muara, takdir mempertemukan mereka. Matahari hampir tenggelam, menciptakan siluet sendu. Mereka bertatapan, canggung.
Eli memberanikan diri, membuang gengsinya jauh-jauh.
“Man…” suaranya parau, “kita ribut gara-gara orang yang nggak peduli sama kita. Tapi yang rusak malah persaudaraan kita.”
Maman menunduk dalam. Dadanya sesak menahan haru.
“Iya, Li. Kita kalah. Kita kalah sama ego kita sendiri.”
Tak ada pelukan dramatis seperti di film, hanya jabat tangan erat yang terasa berat namun hangat. Sejak sore itu, dinding es di antara mereka mencair. Mereka sadar, teman sejati terlalu mahal harganya untuk ditukar dengan ego sesaat.
Bersama Membangun Mimpi
Tahun-tahun berikutnya, takdir membawa mereka kembali ke titik awal: menjadi guru di sekolah tempat mereka dulu belajar.
Di masa dewasa ini, ujian hidup makin berat. Mereka kehilangan orang tua di waktu yang berdekatan. Di titik terendah itu, mereka saling menopang. Saat Eli menangis, Maman ada di sana, diam menemani tanpa banyak tanya. Saat Maman butuh bantuan, Eli orang pertama yang datang.
Eli tetap semangat kuliah meski sudah berkeluarga dan sibuk mengajar. Maman selalu jadi supporter utamanya. Di sekolah, murid-murid sampai hafal kebiasaan mereka.
“Pak, kok berdua terus sih? Kayak Upin Ipin aja,” canda murid-murid.
“Bukan Upin Ipin,” sahut Maman sambil tertawa lepas, “tapi kayak bubur ayam sama kerupuknya. Kalau pisah, nggak nikmat!”
Tahun 2022, jiwa sosial memanggil mereka. Banjir melanda kampung. Tanpa pikir panjang, Maman dan Eli turun ke lokasi. Mengangkat kardus logistik, menerjang banjir setinggi lutut, basah kuyup bersama warga. Lelah tak dirasa karena dikerjakan bersama. Dari sana, lahir mimpi baru: membuat wadah sosial untuk membantu lebih banyak orang.
Puncaknya di tahun 2025. Nama mereka tercantum berdampingan di pengumuman PPG Daljab (Pendidikan Profesi Guru). Mereka saling menatap layar, lalu tertawa lepas, mengingatkan tawa dua bocah MTs yang dulu bermain bola di sawah. Lulus bareng, sukses bareng.
Pelajaran di Warung Kopi
Kembali ke warung kopi Ki Somad. Gelas kopi mereka sudah kosong, menyisakan ampas hitam di dasar gelas.
Ki Somad mengangguk-angguk, matanya berkaca-kaca.
“Banyak orang bisa temenan pas lagi senang, pas lagi akur sepaham. Tapi cuma sedikit yang bisa bertahan pas lagi beda pendapat, pas lagi susah.”
Eli mengangguk pelan, menatap Maman.
“Kalau waktu itu kami sama-sama keras kepala, Ki… mungkin sekarang kami cuma dua orang yang saling membenci.”
Maman menambahkan dengan suara rendah namun penuh penekanan, “Ternyata, menang-menangan itu nggak ada artinya kalau harus kehilangan sahabat. Menjaga perasaan teman jauh lebih penting daripada membuktikan siapa yang paling benar.”
Di luar, sore telah berganti senja yang redup. Air Kali CBL tetap mengalir tenang, seperti perjalanan persahabatan mereka, sempat tersendat sampah dan lumpur , sempat berbelok tajam, tapi akhirnya mengalir makin kuat menuju muara.
Sahabat sejati bukan dia yang selalu setuju dengan kita, tapi dia yang tetap ada meski berpendirian berbeda.
Jangan biarkan ego menghancurkan persahabatan. Hargailah perbedaan teman, bantu mereka saat jatuh, dan tumbuhlah besar bersama-sama. Karena sukses sendirian itu biasa, tapi sukses bareng sahabat, itu baru luar biasa.
