YANGON, Jobuzo – Lorong-lorong lebar Yangon Convention Center kembali dipenuhi riuh langkah kaki pengunjung, bunyi jepretan kamera, dan percakapan dalam berbagai bahasa selama tiga hari penyelenggaraan Asian Expo Yangon 2025.
Pengunjung bersama keluarganya, pemilik bisnis, hingga profesional muda menjelajahi satu stan ke stan lainnya. Beberapa tampak menyeruput minuman dingin, yang lainnya berhenti untuk mengabadikan foto dengan mobil-mobil mewah atau pajangan yang diterangi lampu neon.
Bagi banyak orang, pameran yang berlangsung dari Jumat (26/9) hingga Minggu (28/9) itu lebih dari sekadar wisata belanja. Pameran ini menawarkan sekilas gambaran tentang teknologi yang membentuk masa depan Myanmar.
“Saya datang terutama untuk melihat kendaraan listrik dan produk tenaga surya,” kata Ko Myint Swe, seorang pemilik usaha kecil dari Kota Shwepyitha.
“Saya mengantar produk beku setiap hari, dan biaya bahan bakar menggerus profit saya. Kendaraan listrik roda tiga terlihat sangat praktis karena tidak perlu pergi ke stasiun pengisian daya. Pengisian daya bisa dilakukan di rumah,” ujarnya.
Bukan hanya Ko Myint Swe yang mulai melirik kendaraan listrik. Merek-merek China mendominasi seksi solusi energi di pameran tersebut, yang memamerkan mobil listrik, kendaraan roda tiga, dan sistem energi terbarukan menarik minat pengunjung yang menginginkan alternatif yang lebih bersih dan hemat biaya.
Lebih dari 200 stan memenuhi venue pameran tersebut, menawarkan beragam produk, mulai dari fesyen dan kuliner, hingga perhiasan dan gaya hidup. Namun, banyak pengunjung memadati produk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan tenaga surya yang dipamerkan, yang mencerminkan rasa ingin tahu yang semakin besar terhadap inovasi energi.
Stan IM Motors tampil menonjol dengan mobil listrik mewahnya, LS7 dan LS6, yang dipoles hingga berkilau laksana cermin di bawah lampu sorot yang terang.
“EV sangat ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi karbon. Kendaraan ini juga efisien dan ramah keluarga. Tidak ada biaya bahan bakar sama sekali,” jelas Pyae Sone Phyo, eksekutif penjualan dari Super Seven Stars Automotive Co., Ltd., distributor mobil IM di Myanmar.
Namun, tantangan tetap ada. “Dua pertiga pelanggan masih lebih memilih mobil konvensional karena bisa dijual kembali,” ujarnya. “Jika mereka membeli EV sekarang, mereka merasa rugi karena tidak ada pasar mobil listrik bekas yang kuat di sini. Tantangan kami adalah membantu pelanggan memahami manfaat EV,” ujarnya.
Bagi mereka yang mencari pilihan terjangkau, Asia-Pacific Automaker Corp. menarik minat besar dengan EV roda tiga Jinpeng buatannya. Hadir dengan desain yang ringkas dan praktis, EV ini menarik bagi pemilik usaha kecil dan operator taksi.
“Keunggulan EV adalah tidak membutuhkan bahan bakar atau oli mesin. Setelah pembelian, biaya operasionalnya hampir nol,” jelas Kyaw Zeya, seorang salesman EV Jinpeng. “Bahkan, daya EV bisa diisi di rumah, seperti sepeda listrik,” ujarnya.
Daya tarik pameran ini tak hanya pada kendaraan. Di stan CTE Myanmar, panel surya, inverter, dan baterai tegangan tinggi menarik perhatian para manajer hotel dan pemilik pabrik kecil.
“Produk kami cocok untuk pabrik, hotel, dan toko yang menggunakan listrik dalam jumlah besar,” ujar Ma Yin Yin, manajer kantor CTE Myanmar. “Kami juga memiliki platform sendiri untuk menyelesaikan masalah teknis bagi pelanggan.”
Bagi penyelenggara, keberagaman pameran ini memang disengaja. “Tujuannya adalah untuk menyatukan produk-produk dari negara-negara Asia di satu tempat bagi para pelanggan,” ujar Thiri Min Thein, manajer pemasaran di Marketing Dioxide Co., Ltd.
Saat para pengunjung menjelajahi stan, banyak di antara mereka yang berlama-lama di area pameran EV. Mereka melontarkan berbagai pertanyaan tentang pengisian daya, garansi, dan perawatan. Sebagian lainnya melihat-lihat brosur produk tenaga surya untuk mencari tahu bagaimana produk tersebut dapat mengurangi tagihan listrik mereka. (Xinhua)
Ribuan Orang Padati Asian Expo Yangon, Kendaraan Listrik Curi Perhatian