Oleh: Chintya Nirmala Sari, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Jobuzo – Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjalani program magang di Divisi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. Bagi saya, pengalaman ini bukan sekadar praktik kerja, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah lembaga besar mengelola informasi, menjaga citra, dan membangun hubungan komunikasi dengan publik.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan Public Relations, saya selalu penasaran bagaimana teori-teori komunikasi yang saya pelajari di kampus diterapkan di dunia kerja nyata. Magang di instansi sebesar Perhutani menjadi jawaban atas rasa ingin tahu tersebut.
Selama enam minggu, saya ditempatkan di bagian Kehumasan. Aktivitas sehari-hari kami berkaitan erat dengan publikasi dan komunikasi digital, mulai dari membuat content plan untuk akun Instagram resmi @perhutani_divrejatim, mendesain poster peringatan hari nasional, hingga mendokumentasikan kegiatan penting seperti kerja sama dengan mitra perusahaan dan acara seremonial di kantor.
Namun, ada satu proyek yang benar-benar membuka pandangan saya tentang pentingnya manajemen informasi di bidang kehumasan, yakni implementasi sistem rekap berita digital. Melalui proyek ini, saya belajar menghimpun, menyeleksi, dan mengarsipkan berita dari seluruh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di Jawa Timur. Setiap informasi yang masuk dikategorikan secara rapi berdasarkan wilayah, tema, dan sentimen berita agar dapat menjadi bahan analisis komunikasi yang akurat.
Awalnya, pekerjaan ini tampak sederhana. Namun, semakin saya pelajari, semakin saya menyadari bahwa inilah fondasi penting dalam strategi komunikasi lembaga. Tanpa data yang rapi dan informasi yang terkelola dengan baik, bagian Humas akan kesulitan memahami isu dan merespons publik secara cepat serta tepat.
Selain rekap berita, saya juga banyak belajar tentang bagaimana visual dan narasi digital membentuk citra institusi. Saya ikut mendesain poster Hari Kemerdekaan, membuat Highlight Jatim yang berisi rangkuman kegiatan seluruh unit Perhutani, hingga melakukan editing video dokumentasi acara resmi. Proses kreatif ini mengajarkan saya bahwa komunikasi publik bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang membangun cerita yang bermakna di balik setiap pesan.
Saya bersyukur karena selama magang, pihak Divisi Humas Perhutani memberikan ruang untuk berkreasi. Ide-ide saya—seperti desain poster dan Highlight Jatim—tidak hanya diterima, tetapi juga diimplementasikan dalam sistem kerja mereka. Bagi seorang mahasiswa, melihat hasil kerja digunakan oleh lembaga besar adalah kepuasan tersendiri. Saya merasa ilmu yang saya peroleh di kampus benar-benar teruji di lapangan.
Program magang ini juga menunjukkan bagaimana kampus dan dunia kerja dapat saling menguatkan. Melalui kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan solusi nyata bagi dunia profesional.
Kini, setelah program magang berakhir, saya menyadari bahwa pengalaman di Perhutani telah mengubah cara pandang saya terhadap profesi humas. Di balik layar, humas bukan sekadar bagian yang mengurusi publikasi, tetapi juga penjaga reputasi dan pengelola informasi strategis organisasi.
Magang ini juga membentuk saya menjadi pribadi yang lebih adaptif, disiplin, dan kreatif. Saya belajar bahwa dunia kerja menuntut bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga sikap profesional dan kemauan untuk terus berkembang.
Bagi saya, magang di Perhutani bukan sekadar pengalaman, tetapi perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang makna komunikasi—bagaimana pesan disampaikan, diterima, dan akhirnya membentuk persepsi publik.
Mahasiswa Komunikasi Untag Surabaya Magang di Humas Perhutani Jatim