Jobuzo – Memasuki awal tahun, para pengrajin tembaga kuningan di Kotagede kembali diuji. Harga bahan baku melonjak tajam. Tembaga dan Kuningan kualitas Eropa yang selama ini menjadi standar produksi mengalami kenaikan lebih dari lima ratus ribu rupiah per lembar. Kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tekanan nyata bagi keberlangsungan usaha kriya logam yang sangat bergantung pada kualitas material.
Di bengkel NBAS Kotagede, lembaran logam tersandar rapi di dinding. Kilau hangatnya tetap memikat, tetapi nilainya kini jauh lebih tinggi. Setiap pembelian bahan baku harus diperhitungkan dengan cermat. Mengurangi kualitas bukan pilihan, sebab karakter karya lahir dari mutu tembaga dan kuningan yang digunakan. Bagi pengrajin di NBAS Kotagede Kriya Logam, menjaga kualitas berarti menjaga kepercayaan dan kepercayaan dibangun tidak dalam hitungan bulan, melainkan puluhan tahun.
Kotagede pernah mengalami masa ketika denting palu terdengar hampir tanpa jeda. Pesanan ornamen, relief, kubah, hingga lambang institusi datang silih berganti. Kerajinan logam bukan hanya produk, tetapi identitas kawasan. Namun perubahan zaman membawa dinamika baru. Produk berbasis mesin membanjiri pasar dengan harga lebih murah. Konsumen semakin sensitif terhadap biaya. Sementara itu, bahan baku justru terus merangkak naik.
Di tengah situasi ini, NBAS memilih bertahan dengan prinsip: adaptif tanpa menurunkan standar. Inovasi desain dikembangkan, strategi pemasaran diperluas ke ranah digital, dan efisiensi produksi ditingkatkan. Namun satu hal tidak berubah, komitmen pada proses kriya yang detail, manual, dan berkarakter.
Meski demikian, realitas menunjukkan bahwa pelaku kriya logam daerah tidak bisa berjalan sendiri. Industri ini adalah bagian dari ekonomi kreatif yang menyerap tenaga kerja lokal, menjaga warisan budaya, sekaligus berpotensi besar untuk pasar ekspor. Karena itu, harapan besar tertuju pada perhatian pemerintah, baik daerah maupun pusat untuk hadir lebih nyata dalam bentuk kebijakan yang berpihak.
Dukungan tersebut bisa berupa stabilisasi akses bahan baku, insentif bagi pelaku UMKM kriya, hingga fasilitasi pameran dan promosi ke pasar internasional. Lebih dari itu, diperlukan kebijakan jangka panjang yang menempatkan kriya logam bukan sekadar usaha kecil tradisional, tetapi sebagai sektor strategis ekonomi kreatif berbasis budaya. Kotagede memiliki sejarah panjang sebagai sentra kerajinan logam. Potensi ini tidak boleh meredup hanya karena fluktuasi harga bahan baku dan tekanan pasar. Dengan kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, dan pemerintah, kriya tembaga dan kuningan bisa tetap tumbuh, bahkan menembus pasar global.
Seperti logam yang ditempa agar semakin kuat, demikian pula industri kriya ini. Tantangan harga dan perubahan zaman adalah proses penempaan. Namun agar tetap berkilau, diperlukan ekosistem yang mendukung. Karena ketika tembaga dan kuningan Kotagede bersinar, yang terangkat bukan hanya satu bengkel, melainkan martabat ekonomi kreatif daerah secara keseluruhan.
Luki Antoro
Praktisi Ekonomi Kreatif di Yogyakarta
Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Tembaga, Pengrajin Logam Kotagede Terus Menempa Harapan
